xmlns:og='http://ogp.me/ns#' LPC- Lansia Preneurship Community

Thursday, 19 February 2026

FRAILTY SYNDROME: Penyakit 'Rapuh' yang Membunuh Kemandirian! 💔

Pendahuluan

Mengapa Ada Lansia Tampak Sangat Ringkih Meski Tanpa Penyakit Berat?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai fenomena yang membingungkan: ada lansia yang tetap aktif, mandiri, dan bugar hingga usia 90 tahun, sementara yang lain di usia 70 tahun sudah tampak sangat ringkih, mudah lelah, dan kehilangan kekuatan fisik—padahal tidak memiliki penyakit kronis besar seperti penyakit jantung, kanker, atau stroke.

Kondisi ini dikenal dalam dunia medis sebagai Sindrom Kelemahan (Frailty Syndrome), sebuah keadaan biologis kompleks yang berbeda dari penuaan normal maupun penyakit kronis. Sindrom ini menjadi salah satu fokus utama geriatri modern karena berhubungan erat dengan penurunan kualitas hidup, risiko jatuh, rawat inap, dan kematian dini.

Sindrom Kelemahan menjadi salah satu fokus utama geriatri modern
(Sumber: foto-grup)

Apa Itu Sindrom Kelemahan (Frailty Syndrome)?

Frailty Syndrome adalah kondisi penurunan cadangan fisiologis tubuh secara menyeluruh, sehingga lansia menjadi sangat rentan terhadap stres ringan, seperti infeksi kecil, perubahan obat, atau kelelahan.

Frailty bukan penyakit tunggal, melainkan sindrom yang melibatkan berbagai sistem tubuh sekaligus.

Kriteria Frailty yang Umum Digunakan:

  • Penurunan berat badan yang tidak disengaja

  • Kelemahan otot (terutama genggaman tangan)

  • Mudah lelah atau kehabisan energi

  • Kecepatan berjalan melambat

  • Aktivitas fisik menurun drastis

Seseorang dapat mengalami frailty meskipun hasil pemeriksaan medis tampak “baik-baik saja”.


Tonton di YouTube & Subscribe

Misteri Besar: Mengapa Frailty Bisa Terjadi Lebih Cepat?

1. Sarkopenia: Hilangnya Massa dan Kekuatan Otot

Sarkopenia adalah komponen utama frailty, yaitu:

  • Penurunan massa otot

  • Penurunan kekuatan

  • Penurunan fungsi fisik

Yang menjadi misteri adalah:

Mengapa sarkopenia bisa terjadi meski asupan protein dan nutrisi terlihat cukup?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana “kurang makan”, melainkan melibatkan proses biologis mendalam.

Penurunan massa otot pada lansia meskipun asupan nutrisi cukup.
(Sumber: foto-grup)

2. Peran “Inflammaging”: Peradangan Kronis Tingkat Rendah

Salah satu hipotesis terkuat dalam penelitian frailty adalah inflammaging, yaitu kondisi peradangan kronis ringan yang berlangsung lama tanpa gejala infeksi akut.

Karakteristik Inflammaging:

  • Peningkatan sitokin inflamasi (IL-6, TNF-α, CRP)

  • Tidak menimbulkan demam atau nyeri akut

  • Perlahan merusak jaringan tubuh

Inflammaging diduga:

  • Mempercepat kerusakan otot

  • Menghambat regenerasi sel

  • Menurunkan respons hormon anabolik

  • Menguras energi tubuh

Namun, mengapa hanya sebagian orang mengalami inflammaging berat masih menjadi misteri besar.

3. Disfungsi Sistem Energi Tubuh

Pada lansia dengan frailty, ditemukan:

  • Gangguan fungsi mitokondria

  • Penurunan produksi energi sel

  • Ketidakseimbangan metabolisme otot

Akibatnya, meski nutrisi cukup, tubuh tidak mampu mengubahnya menjadi energi dan kekuatan otot secara optimal.

Penurunan berat badan yang tidak disengaja pada lansia
(Sumber: foto-grup)

4. Faktor Genetik dan Epigenetik

Penelitian menunjukkan bahwa:

  • Ada individu dengan gen pelindung penuaan sehat

  • Faktor epigenetik (pola hidup seumur hidup) memengaruhi ekspresi gen

Stres kronis, kurang gerak, gangguan tidur, dan isolasi sosial dapat “mengaktifkan” jalur penuaan lebih cepat pada sebagian orang.

Frailty Bukan Sekadar “Lemah karena Tua”

Kesalahan umum adalah menganggap frailty sebagai:

“Ya wajar, namanya juga sudah tua.”

Padahal frailty:

  • Bukan bagian normal dari penuaan

  • Bisa dideteksi lebih awal

  • Dalam banyak kasus, bisa diperlambat atau diperbaiki

Inilah mengapa frailty menjadi fokus utama pencegahan dalam geriatri.

Tantangan Diagnosis Frailty

Frailty sering luput karena:

  • Tidak terdeteksi tes darah rutin

  • Tidak selalu disertai penyakit berat

  • Gejalanya berkembang perlahan

Pendekatan terbaik adalah penilaian fungsional menyeluruh, bukan hanya pemeriksaan organ.

5 Poin Cek Mandiri Frailty Syndrome (Sindrom Kelemahan)

1. Berat Badan Turun Tanpa Diet 

  • Cek: Apakah ada penurunan berat badan lebih dari 4.5 kg atau 5% dari berat badan total dalam satu tahun terakhir tanpa disengaja (bukan karena diet atau olahraga)?

  • Tanda: Baju-baju lama tiba-tiba terasa sangat longgar atau pipi terlihat kempot mendadak.

2. Jalan Melambat (The Walking Test) 

  • Cek: Coba berjalan sejauh 4 meter. Jika waktu yang dibutuhkan lebih dari 5-7 detik, itu adalah sinyal bahaya.

  • Tanda: Merasa sering tertinggal saat berjalan bersama orang lain atau langkah kaki terasa berat dan terseret.

3. Kelelahan Ekstrem (Low Energy) 

  • Cek: Apakah Anda merasa sangat lelah atau "kehabisan bensin" hampir setiap hari dalam seminggu terakhir, bahkan untuk aktivitas ringan seperti mandi atau berpakaian?

  • Tanda: Sering mengucap, "Duh, rasanya semua badan lemas sekali," padahal tidur cukup.

4. Genggaman Tangan Melemah 

  • Cek: Apakah sekarang terasa sulit untuk membuka tutup botol, memeras kain pel, atau menjinjing tas belanjaan yang biasanya terasa ringan?

  • Tanda: Otot tangan terlihat menyusut dan kekuatan remasan jari berkurang drastis.

5. "Mager" atau Kurang Gerak 

  • Cek: Apakah aktivitas fisik menurun drastis? Misalnya, sekarang lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk atau rebahan sepanjang hari.

  • Tanda: Jarang keluar rumah atau tidak lagi melakukan hobi yang melibatkan fisik (seperti berkebun atau jalan santai sore).

Cara Membaca Hasil (Skoring):

  • Skor 0: Selamat! Anda masuk kategori Sehat (Robust).

  • Skor 1-2: Waspada, ini kategori Pre-Frail (Pra-Rapuh). Masih sangat bisa diperbaiki dengan nutrisi dan latihan.

  • Skor 3 ke atas: Positif Frailty Syndrome. Harus segera konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam/geriatri.

Dampak Frailty terhadap Kehidupan Lansia

Frailty meningkatkan risiko:

  • Jatuh dan patah tulang

  • Rawat inap berulang

  • Ketergantungan pada orang lain

  • Penurunan kualitas hidup

Namun, dengan deteksi dini dan pendekatan tepat, dampak ini dapat diminimalkan.

Penutup

Sindrom Kelemahan (Frailty Syndrome) adalah salah satu misteri terbesar dalam penuaan manusia. Ia menjelaskan mengapa dua orang dengan usia kronologis hampir sama dapat memiliki kondisi fisik yang sangat berbeda.

Peran inflammaging, sarkopenia, gangguan energi sel, serta faktor genetik dan epigenetik menunjukkan bahwa penuaan bukan sekadar hitungan umur, melainkan proses biologis yang sangat individual.

Memahami frailty membantu kita melihat lansia bukan sebagai “lemah karena usia”, tetapi sebagai individu dengan kondisi biologis yang bisa dipahami, dicegah, dan dikelola—demi usia tua yang lebih bermartabat dan berkualitas.



Sumber:

  1. Fried, L. P., et al. (2001). Frailty in older adults: evidence for a phenotype. Journal of Gerontology.

  2. Clegg, A., et al. (2013). Frailty in elderly people. The Lancet.

  3. Franceschi, C., et al. (2018). Inflammaging and aging. Nature Reviews Immunology.

  4. National Institute on Aging. (2023). What is frailty?

  5. Morley, J. E., et al. (2013). Frailty consensus: a call to action. Journal of the American Medical Directors Association.

Tuesday, 17 February 2026

Misteri “Super-Agers” vs “Rapid-Agers”

Pendahuluan

Mengapa Ada Lansia 80+ Tahun dengan Otak dan Tubuh Setara Usia 50?

Penuaan sering dianggap sebagai proses yang tak terelakkan: tubuh melemah, ingatan menurun, dan otak menyusut (atrofi). Namun, ilmu pengetahuan modern menemukan fenomena yang menggugah rasa ingin tahu—sekelompok lansia yang menentang hukum penuaan biologis. Mereka disebut Super-Agers.

Siapa yang akan menjadi super agers dari beberapa lansia ini?.
(Sumber: foto-grup)

Super-Agers adalah individu berusia 80 tahun ke atas yang mempertahankan fungsi kognitif, fisik, dan sosial setara dengan orang berusia 50–60 tahun. Di sisi lain, terdapat kelompok Rapid-Agers, yaitu individu yang mengalami penurunan fungsi otak dan tubuh jauh lebih cepat dari usia kronologisnya.

Apa yang membedakan keduanya? Dan mengapa otak Super-Agers tampak “kebal” terhadap penyusutan alami? Inilah misteri yang sedang diteliti para ilmuwan saraf dunia.

Tonton di YouTube & Subscribe

Apa Itu Super-Agers?

Secara ilmiah, Super-Agers didefinisikan sebagai lansia yang:

  • Berusia ≥80 tahun

  • Memiliki memori episodik setara orang usia 50–60 tahun

  • Menunjukkan ketebalan korteks otak yang relatif terjaga

  • Mempertahankan fungsi sosial, emosional, dan motorik yang baik

Penelitian dari Northwestern University Cognitive Neurology and Alzheimer’s Disease Center menunjukkan bahwa otak Super-Agers tidak mengalami atrofi signifikan, terutama pada area korteks prefrontal dan cingulate anterior—wilayah penting untuk pengambilan keputusan, empati, dan kontrol emosi.

Lansia yang memiliki kemampuan setara usia 50+
(Sumber: foto-grup)

Siapa Itu Rapid-Agers?

Sebaliknya, Rapid-Agers adalah individu yang:

  • Mengalami penurunan kognitif lebih cepat dari usia biologis

  • Menunjukkan penyusutan volume otak lebih awal

  • Lebih rentan terhadap demensia, depresi, dan penyakit neurodegeneratif

  • Mengalami penurunan fungsi fisik dan sosial yang signifikan

Rapid aging sering dikaitkan dengan peradangan kronis, stres berkepanjangan, isolasi sosial, penyakit metabolik, dan gaya hidup sedentari.

Peran Misterius Sel Von Economo

Salah satu temuan paling menarik dalam penelitian Super-Agers adalah keberadaan sel Von Economo (VENs) dalam jumlah lebih banyak dibanding lansia biasa.

Apa itu Sel Von Economo?

Sel Von Economo adalah neuron besar dan langka yang berperan dalam:

  • Kecerdasan sosial

  • Empati dan intuisi

  • Kesadaran diri

  • Pengambilan keputusan cepat

Neuron ini banyak ditemukan di anterior cingulate cortex dan frontoinsular cortex, wilayah yang krusial untuk fungsi sosial tingkat tinggi.

Temuan Penting

Studi neuropatologi menunjukkan bahwa otak Super-Agers memiliki:

  • Kepadatan sel Von Economo lebih tinggi

  • Lebih sedikit akumulasi protein patologis (beta-amyloid dan tau)

  • Struktur jaringan saraf yang lebih utuh

Namun, misteri besarnya adalah:
👉 Bagaimana sel-sel ini dapat bertahan dan tidak rusak seiring usia?

Faktor yang Diduga Menjaga Otak Super-Agers

Walau belum ada jawaban tunggal, para ahli menyepakati beberapa faktor protektif utama:

1. Cadangan Kognitif (Cognitive Reserve)

Super-Agers umumnya memiliki:

  • Aktivitas mental seumur hidup

  • Rasa ingin tahu tinggi

  • Kemampuan belajar yang berkelanjutan

Cadangan kognitif memungkinkan otak menemukan jalur alternatif saat terjadi kerusakan.

2. Keterlibatan Sosial dan Emosional

Hubungan sosial yang bermakna:

  • Merangsang sel Von Economo

  • Menurunkan inflamasi otak

  • Meningkatkan hormon oksitosin dan dopamin

Ini sejalan dengan fungsi utama VENs sebagai neuron sosial.

3. Regulasi Stres yang Baik

Super-Agers cenderung:

  • Lebih resilien terhadap stres

  • Memiliki respons kortisol yang lebih stabil

  • Tidak mudah mengalami depresi kronis

Stres kronis diketahui mempercepat atrofi hippocampus dan korteks prefrontal.

4. Faktor Genetik dan Epigenetik

Beberapa individu membawa:

  • Gen pelindung neuroplastisitas

  • Respons inflamasi yang lebih rendah

Namun, epigenetika—gaya hidup yang memengaruhi ekspresi gen—diduga jauh lebih menentukan daripada genetika murni.

Implikasi bagi Kesehatan Lansia

Fenomena Super-Agers mengubah paradigma penuaan:

  • Pikun bukan takdir

  • Otak dapat dilindungi hingga usia lanjut

  • Kualitas hidup lansia bisa optimal bila faktor protektif dijaga sejak dini

Ini memberi harapan besar bagi pencegahan demensia dan penyakit neurodegeneratif.

Kesimpulan

Misteri Super-Agers vs Rapid-Agers membuka jendela baru dalam ilmu penuaan otak. Keberadaan sel Von Economo yang lebih banyak pada Super-Agers menunjukkan bahwa kecerdasan sosial, koneksi emosional, dan makna hidup mungkin sama pentingnya dengan nutrisi dan olahraga.

Meski mekanisme biologis pastinya masih diteliti, satu hal semakin jelas:
👉 Penuaan sehat adalah hasil interaksi kompleks antara otak, emosi, hubungan sosial, dan gaya hidup sepanjang hayat.

Tantangan untuk Anda:

Apakah Anda sudah menemukan orang ' Super-Agers' atau 'Rapid-Agers'! Ceritakan dalam kolam komentar untuk berbagi dengan lansia yang lain !


Sumber:

  1. Rogalski, E. J., et al. (2013). Youthful memory capacity in old brains: anatomic and genetic clues from the Northwestern SuperAging Project. Journal of Cognitive Neuroscience.

  2. Gefen, T., et al. (2015). Von Economo neurons in the anterior cingulate cortex of SuperAgers. Journal of Neuropathology & Experimental Neurology.

  3. National Institute on Aging. (2023). Brain aging and cognitive health.

  4. Stern, Y. (2012). Cognitive reserve in ageing and Alzheimer’s disease. The Lancet Neurology.

  5. Northwestern University Feinberg School of Medicine. SuperAging Research Program.

Sunday, 15 February 2026

Polifarmasi pada Lansia: Risiko Tersembunyi di Balik Banyaknya Obat

Pendahuluan

Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia mengalami perubahan fisiologis yang memengaruhi cara obat diserap, didistribusikan, dimetabolisme, dan dikeluarkan. Lansia sering hidup dengan lebih dari satu penyakit kronis, sehingga penggunaan banyak obat dalam waktu bersamaan menjadi hal yang umum. Kondisi inilah yang dikenal sebagai polifarmasi. Meski sering tidak terhindarkan, polifarmasi menyimpan risiko serius jika tidak dikelola dengan baik.

Polifarmasi menyimpan risiko serius pada lansia
(Sumber: foto-grup)

Dalam praktik klinis geriatri, polifarmasi bukan sekadar soal jumlah obat, melainkan tentang kesesuaian, keamanan, dan manfaat bersih bagi pasien lansia. 

Apa Itu Polifarmasi?

Secara umum, polifarmasi didefinisikan sebagai penggunaan lima atau lebih obat secara bersamaan. Namun, definisi modern menekankan bahwa polifarmasi dapat bersifat:

  • Polifarmasi tepat (appropriate polypharmacy): ketika semua obat memiliki indikasi jelas, berbasis bukti, dan manfaatnya melebihi risikonya.

  • Polifarmasi tidak tepat (inappropriate polypharmacy): ketika obat tidak lagi diperlukan, berisiko tinggi, atau manfaatnya minimal.

Pada lansia, batas antara keduanya sering kali samar dan membutuhkan evaluasi klinis menyeluruh.

Tonton di YouTube & Subscribe

Mengapa Polifarmasi Umum Terjadi pada Lansia?

Beberapa faktor utama yang mendorong terjadinya polifarmasi antara lain:

  1. Multimorbiditas – Lansia sering memiliki beberapa penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, osteoartritis, penyakit jantung, dan gangguan tidur.

  2. Panduan klinis berbasis penyakit tunggal – Banyak pedoman terapi tidak dirancang untuk pasien dengan banyak penyakit.

  3. Fragmentasi layanan kesehatan – Pasien berobat ke banyak dokter spesialis tanpa koordinasi optimal.

  4. Terapi berkelanjutan tanpa evaluasi ulang – Obat lama tetap dilanjutkan meski indikasi awal sudah tidak relevan.

  5. Swamedikasi dan suplemen – Penggunaan obat bebas dan herbal sering tidak dilaporkan.

Perubahan Fisiologi Lansia dan Dampaknya terhadap Obat

Proses penuaan memengaruhi farmakokinetik dan farmakodinamik obat, antara lain:

  • Penurunan fungsi ginjal dan hati

  • Perubahan komposisi lemak dan air tubuh

  • Peningkatan sensitivitas sistem saraf pusat

Akibatnya, lansia lebih rentan terhadap efek samping, toksisitas, dan interaksi obat, bahkan pada dosis standar.

Polifarmasi adalah minum obat jumlah sama atau lebih dari 5 obat.
(Sumber: foto-grup)

Risiko Polifarmasi pada Lansia

Pada usia lanjut, fungsi organ vital seperti ginjal dan hati cenderung mengalami penurunan. Perubahan ini memengaruhi metabolisme dan eliminasi obat di dalam tubuh. Secara farmakokinetik, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui rumus klirens obat berikut:

CL=0.693×Vdt1/2CL = \frac{0.693 \times V_d}{t_{1/2}}

di mana CL adalah klirens (kemampuan tubuh untuk membersihkan obat dari sirkulasi), VdV_d adalah volume distribusi, dan t1/2t_{1/2} adalah waktu paruh obat. Ketika fungsi ginjal dan hati menurun, waktu paruh obat cenderung memanjang, sehingga obat bertahan lebih lama di dalam tubuh dan meningkatkan risiko akumulasi serta toksisitas, terutama pada lansia.

Polifarmasi yang tidak terkontrol dapat menimbulkan berbagai dampak serius, seperti:

  • Jatuh dan fraktur

  • Delirium dan penurunan kognitif

  • Hipotensi dan gangguan irama jantung

  • Gangguan ginjal dan hati

  • Penurunan kualitas hidup

  • Peningkatan rawat inap dan mortalitas

Ironisnya, efek samping obat sering disalahartikan sebagai penyakit baru, sehingga memicu prescribing cascade—penambahan obat baru untuk mengatasi efek obat lama.

Banyak obat yang dikonsumsi lansia menimbulkan penyakit lain
(Sumber: foto-grup)

Polifarmasi dan Kelelahan Kronis pada Lansia

Banyak lansia dicap "malas" atau "lemah" padahal kelelahan mereka merupakan manifestasi efek kumulatif obat, seperti sedatif, antikolinergik, beta-blocker, atau opioid. Kondisi ini menegaskan bahwa polifarmasi bukan hanya isu medis, tetapi juga isu kualitas hidup dan martabat lansia.

Strategi Pencegahan dan Penanganan Polifarmasi

Pendekatan dalam menangani polifarmasi meliputi:

1. Medication Review Berkala

Evaluasi rutin seluruh obat, termasuk obat bebas dan suplemen.

2. Deprescribing

Proses terencana untuk mengurangi atau menghentikan obat yang tidak lagi bermanfaat atau berisiko tinggi.

3. Pendekatan Berbasis Tujuan (Goal-Oriented Care)

Fokus pada tujuan pasien, seperti fungsi, kenyamanan, dan kualitas hidup, bukan sekadar target laboratorium.

4. Alat Bantu Klinis

Penggunaan kriteria seperti Beers Criteria dan STOPP/START untuk mengidentifikasi obat berisiko.

5. Kolaborasi Tim

Keterlibatan dokter, apoteker, perawat, pasien, dan keluarga sangat krusial.

Peran Keluarga dan Caregiver

Keluarga memiliki peran penting dalam:

  • Memantau kepatuhan minum obat

  • Mencatat efek samping

  • Mengkomunikasikan perubahan kondisi kepada tenaga kesehatan

Edukasi yang baik dapat mencegah polifarmasi berbahaya sejak dini

Perspektif Etika dan Kemanusiaan

Mengurangi obat pada lansia bukan berarti mengurangi perawatan. Justru, deprescribing yang tepat mencerminkan penghormatan terhadap tubuh yang menua, dengan menghindari intervensi berlebihan yang tidak lagi memberi manfaat nyata.

Penutup

Polifarmasi pada lansia adalah fenomena kompleks yang tidak dapat disederhanakan sebagai kesalahan medis semata. Ia merupakan konsekuensi dari sistem kesehatan modern yang menghadapi populasi menua dengan penyakit berlapis. Dengan pendekatan berbasis bukti, empati, dan kolaborasi, polifarmasi dapat dikelola secara aman dan manusiawi.

Kesadaran bahwa "lebih banyak obat tidak selalu berarti lebih baik" adalah langkah awal menuju perawatan lansia yang lebih bermartabat.


Artikel lain yang Menarik:




Artikel Inspirasi Lansia

 Sumber:

  1. Maher RL, Hanlon J, Hajjar ER. Clinical consequences of polypharmacy in elderly. Expert Opin Drug Saf. 2014.

  2. World Health Organization. Medication Safety in Polypharmacy. WHO; 2019.

  3. American Geriatrics Society. Beers Criteria Update. 2023.

  4. Scott IA, et al. Deprescribing in older people. BMJ. 2015.

  5. O’Mahony D, et al. STOPP/START criteria for potentially inappropriate prescribing. Age and Ageing. 2015.