xmlns:og='http://ogp.me/ns#' LPC- Lansia Preneurship Community

Tuesday, 10 February 2026

BUKAN PURA-PURA SAKIT! Penjelasan Ilmiah di Balik Medically Unexplained Symptoms pada Geriatri

Pendahuluan

Ketika Keluhan Nyata Lansia Tak Terlihat di Hasil Tes Medis

Dalam praktik klinis geriatri, dokter sering menghadapi situasi yang membingungkan: seorang lansia datang dengan keluhan fisik yang nyata dan mengganggu—nyeri di seluruh tubuh, kelelahan kronis yang ekstrem, pusing berputar, atau sensasi tidak enak badan yang menetap. Namun setelah dilakukan berbagai pemeriksaan, mulai dari tes darah lengkap hingga MRI, hasilnya normal.

Lansia sering mengeluh nyeri di seluruh tubuh namun hasil pemeriksaan normal
(Sumber: foto-grup)

Kondisi ini dikenal sebagai Medically Unexplained Symptoms (MUS), yaitu kumpulan gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan secara memadai oleh temuan medis konvensional. Pada lansia, MUS menjadi tantangan besar karena sering berada di persimpangan antara masalah fisik, psikologis, dan neurologis yang halus.

Apa Itu Medically Unexplained Symptoms (MUS)?

Medically Unexplained Symptoms (MUS) adalah istilah medis untuk keluhan fisik yang:

  • Dirasakan nyata oleh pasien

  • Menyebabkan gangguan fungsi dan kualitas hidup

  • Tidak ditemukan penyebab organik yang jelas setelah pemeriksaan standar

Contoh MUS yang sering muncul pada lansia meliputi:

  • Nyeri kronis tanpa kelainan struktural

  • Kelelahan ekstrem yang menetap

  • Pusing atau rasa melayang

  • Sesak atau rasa tertekan di dada tanpa kelainan jantung

  • Gangguan pencernaan fungsional

Penting dipahami bahwa MUS bukanlah keluhan “dibuat-buat”, melainkan pengalaman tubuh yang kompleks.

Tonton di YouTube & Subscribe

Mengapa MUS Sangat Umum pada Lansia?

Prevalensi MUS meningkat seiring bertambahnya usia karena tubuh lansia mengalami perubahan biologis yang halus namun luas, yang sering tidak tertangkap alat diagnostik saat ini.

Hasil pemeriksaan menunjukkan normal namun lansia masih kesakitan
(Sumber: foto-grup)

Beberapa faktor kunci yang berperan antara lain:

1. Beban Alostatik: Akumulasi Stres Seumur Hidup

Apa Itu Beban Alostatik?

Beban alostatik adalah akumulasi dampak stres fisik, emosional, dan sosial sepanjang hidup terhadap sistem tubuh.

Pada lansia, beban ini dapat berasal dari:

  • Stres pekerjaan bertahun-tahun

  • Trauma emosional masa lalu

  • Penyakit kronis berulang

  • Kehilangan pasangan atau peran sosial

Stres kronis jangka panjang mengubah cara tubuh mengatur:

  • Hormon stres (kortisol)

  • Sistem imun

  • Sistem saraf otonom

Akibatnya, tubuh “lelah mengatur diri” meski tidak tampak rusak secara struktural.

Lansia mengalami beban alostatik sepanjang hidupnya
(Sumber: foto-grup)

2. Perubahan Sistem Saraf yang Sulit Dideteksi

Seiring usia, terjadi perubahan mikro pada:

  • Jalur nyeri

  • Neurotransmiter

  • Saraf perifer dan pusat

Perubahan ini dapat menyebabkan hipersensitivitas saraf, sehingga rangsangan ringan dirasakan sebagai nyeri atau ketidaknyamanan berat. Namun, perubahan tersebut:

  • Tidak tampak di MRI standar

  • Tidak terdeteksi lewat tes darah rutin

Inilah salah satu alasan MUS sering disalahartikan sebagai “tidak ada apa-apa”.

Seiring usia terjadi perubahan mikro pada jalur nyeri
()Sumber: foto0grup

3. Interaksi Pikiran–Tubuh yang Makin Kompleks

Pada lansia, batas antara fisik dan psikis menjadi semakin kabur:

  • Gangguan tidur memicu nyeri

  • Kecemasan memperberat pusing

  • Nyeri kronis memperburuk suasana hati

Semua ini membentuk lingkaran umpan balik negatif, di mana satu gejala memperkuat gejala lain tanpa sebab tunggal yang jelas.

Tantangan Besar dalam Diagnosis MUS Geriatri

Mengapa Sulit Dibedakan?

Dokter menghadapi dilema besar:

  • Mengabaikan keluhan berisiko meremehkan penderitaan pasien

  • Pemeriksaan berlebihan berisiko polifarmasi dan kecemasan

Kesulitannya adalah menentukan apakah MUS berasal dari:

  1. Masalah fisik yang belum terdeteksi

  2. Dampak beban alostatik

  3. Penurunan fungsi saraf subklinis

  4. Kombinasi dari semuanya

Pendekatan Klinis Modern terhadap MUS Lansia

Ilmu kedokteran modern mulai bergeser dari pendekatan “mencari penyakit” menjadi memahami pengalaman tubuh pasien.

Pendekatan yang direkomendasikan meliputi:

  • Penilaian fungsi harian, bukan hanya hasil tes

  • Evaluasi stres dan riwayat hidup

  • Pendekatan biopsikososial

  • Komunikasi empatik dan berkelanjutan

Tujuan utamanya adalah mengurangi penderitaan, bukan sekadar memberi label diagnosis.

Dampak MUS terhadap Kualitas Hidup Lansia

Jika tidak dipahami dengan baik, MUS dapat menyebabkan:

  • Frustrasi dan keputusasaan

  • Ketergantungan obat yang tidak perlu

  • Isolasi sosial

  • Penurunan kepercayaan terhadap tenaga medis

Sebaliknya, pendekatan yang tepat dapat meningkatkan:

  • Rasa dipahami

  • Kendali diri

  • Kualitas hidup secara keseluruhan

Dampak MUS pada lansia antara lain frustasi dan keputusasaan
(Sumber: foto grup)

Kesimpulan

Medically Unexplained Symptoms (MUS) pada geriatri bukanlah tanda kelemahan atau keluhan tanpa dasar, melainkan cerminan kompleksitas tubuh lansia yang telah melalui perjalanan panjang kehidupan.

MUS berada di wilayah abu-abu antara fisik, saraf, dan psikologis—wilayah yang belum sepenuhnya bisa dijelaskan oleh teknologi medis saat ini. Dengan pendekatan yang lebih holistik, empatik, dan berbasis ilmu terbaru, dunia medis dapat membantu lansia hidup lebih nyaman meski tanpa diagnosis yang sederhana.


Artikel lain yang Menarik:




Artikel Inspirasi Lansia

Sumber:

  1. World Health Organization. (2017). Integrating mental health into primary care.

  2. Henningsen, P., et al. (2018). Management of medically unexplained symptoms. The Lancet Psychiatry.

  3. National Institute on Aging. (2023). Chronic symptoms in older adults.

  4. McEwen, B. S. (2007). Physiology and neurobiology of stress and adaptation: central role of the brain. Physiological Reviews.

  5. Kroenke, K. (2003). Patients presenting with somatic symptoms: epidemiology and management. Archives of Internal Medicine.

Sunday, 8 February 2026

SIAPA YANG MENYETIR? Rahasia Teori Automaticity yang Membuat Otak Anda Berjalan Tanpa Sadar!

Pendahuluan

Bagaimana Otak Menghemat Energi dan Mengapa Kita Mudah Lupa.

Pernahkah Anda berjalan pulang tanpa sadar mengingat setiap belokan? Atau tiba-tiba lupa apa yang ingin diambil saat masuk ke sebuah ruangan? Fenomena ini bukanlah tanda kemalasan otak, apalagi “kurang fokus”, melainkan hasil dari dua sistem kerja otak yang sangat penting: Automaticity dan Working Memory.

Dalam ilmu kognitif dan neuropsikologi, kedua konsep ini menjelaskan bagaimana otak manusia mengatur perhatian, menghemat energi, serta menghadapi keterbatasan kapasitas mental, terutama seiring bertambahnya usia. Artikel ini akan mengulas secara ilmiah namun mudah dipahami tentang perbedaan, hubungan, serta implikasi praktis dari Teori Automaticity vs Working Memory.

Menyetir sambil mengobrol,bagaimana bisa terjadi.
(Sumber: foto-grup)

Apa Itu Working Memory?

Working Memory (memori kerja) adalah kemampuan otak untuk menyimpan dan memproses informasi secara sementara dalam waktu singkat. Ibarat meja kerja mental, working memory menampung informasi yang sedang digunakan “saat ini”.

Contoh Fungsi Working Memory:

  • Mengingat nomor telepon sebelum menuliskannya

  • Menghitung secara mental

  • Mengingat jumlah rakaat saat salat

  • Mengikuti instruksi bertahap

Karakteristik Working Memory:

  • Kapasitas sangat terbatas (sekitar 4–7 unit informasi)

  • Mudah terganggu oleh distraksi

  • Membutuhkan energi kognitif tinggi

  • Menurun secara alami seiring usia

Catatan ilmiah: Penurunan working memory pada lansia adalah proses biologis normal, bukan selalu tanda demensia.

Tonton di YouTube & Subscribe

Apa Itu Teori Automaticity?

Automaticity adalah kondisi ketika suatu aktivitas dapat dilakukan tanpa kesadaran penuh dan hampir tanpa usaha mental karena sudah sering diulang.

Contoh Automaticity:

  • Mengikat tali sepatu

  • Menyikat gigi

  • Berjalan

  • Membaca teks sederhana

  • Gerakan salat yang sudah sangat familiar

Aktivitas otomatis ini tidak lagi bergantung pada working memory, melainkan dijalankan oleh jaringan otak yang lebih efisien seperti basal ganglia.

Otak mengambil alih kebiasaan untuk menghemat energi
(Sumber: foto-grup)

Mengapa Otak Menciptakan Automaticity?

Karena otak adalah organ yang hemat energi. Dengan menjadikan aktivitas sebagai kebiasaan otomatis, otak:

  • Mengurangi beban kerja

  • Menghemat energi

  • Membebaskan working memory untuk tugas penting lainnya

Perbedaan Utama Automaticity vs Working Memory

AspekWorking MemoryAutomaticity
KesadaranPerlu perhatian penuhHampir tanpa sadar
Energi otakTinggiSangat rendah
KapasitasTerbatasHampir tak terbatas
Rentan lupaSangat rentanSangat stabil
Dampak usiaCepat menurunRelatif bertahan

Hubungan Keduanya: Bukan Lawan, tapi Mitra

Automaticity dan working memory bekerja saling melengkapi, bukan saling bertentangan.

  • Tahap awal belajar: Mengandalkan working memory

  • Tahap mahir: Beralih ke automaticity

Contohnya, saat belajar membaca Al-Qur’an:

  • Awalnya fokus tajwid dan huruf → working memory

  • Setelah terbiasa → membaca mengalir otomatis

Semakin banyak aktivitas yang menjadi otomatis, semakin ringan beban working memory.

Mengapa Lansia Lebih Mengandalkan Automaticity?

Secara neurologis, penuaan menyebabkan:

  • Penurunan fungsi korteks prefrontal (pusat working memory)

  • Namun jalur kebiasaan otomatis relatif lebih stabil

Akibatnya:

  • Lansia mungkin lupa hitungan

  • Tetapi tetap lancar melakukan kebiasaan lama

  • Gerakan rutin tetap presisi

Ini menjelaskan mengapa lupa bukan selalu tanda penurunan iman, kecerdasan, atau niat, melainkan dinamika kerja otak.

Implikasi Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Bangun Rutinitas yang Konsisten

Rutinitas membantu memindahkan aktivitas dari working memory ke automaticity.

2. Kurangi Beban Kognitif

Gunakan:

  • Catatan

  • Alarm

  • Pola waktu tetap

3. Latih Otak Secara Bijak

  • Ulangi kebiasaan baik

  • Jangan memaksa multitasking berlebihan

  • Fokus pada kualitas, bukan kecepatan

Perspektif Psikologi & Neurosains Modern

Penelitian modern menunjukkan bahwa kebiasaan otomatis yang positif dapat:

  • Melindungi fungsi kognitif

  • Meningkatkan rasa percaya diri

  • Mengurangi stres mental

  • Mendukung cognitive reserve pada lansia

Dengan kata lain, kebiasaan baik yang diulang hari ini adalah investasi otak di masa depan.

Penutup

Teori Automaticity vs Working Memory membantu kita memahami bahwa otak manusia bukan mesin sempurna, melainkan sistem cerdas yang penuh strategi. Lupa sesekali bukan kelemahan, tetapi sinyal bahwa otak sedang mengatur energinya.

Dengan membangun kebiasaan otomatis yang sehat dan memahami keterbatasan working memory, kita dapat hidup lebih tenang, efektif, dan penuh penerimaan—terutama dalam proses menua yang alami.


Artikel lain yang Menarik:




Artikel Inspirasi Lansia

Sumber:

  1. Baddeley, A. (2012). Working Memory: Theories, Models, and Controversies. Annual Review of Psychology.

  2. Schneider, W., & Shiffrin, R. M. (1977). Controlled and Automatic Human Information Processing. Psychological Review.

  3. Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.

  4. Norman, D. A., & Shallice, T. (1986). Attention to Action. Consciousness and Self-Regulation.

  5. Park, D. C., & Reuter-Lorenz, P. (2009). The Adaptive Brain: Aging and Neurocognitive Scaffolding. Annual Review of Psychology.

Thursday, 5 February 2026

MALAS ATAU SAKIT? Garis Tipis Antara Kebiasaan Buruk dan Gangguan Mental yang Sering Terabaikan

 Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari, istilah kebiasaan buruk sering digunakan untuk menggambarkan perilaku yang dianggap negatif: menunda pekerjaan, sulit berhenti bermain gawai, terlalu sering marah, atau kebiasaan begadang. Di sisi lain, dunia psikologi klinis mengenal istilah gangguan mental, yang memiliki makna jauh lebih spesifik dan konsekuensi medis yang serius.

Masalahnya, batas antara kebiasaan buruk dan gangguan mental sering tampak samar bagi masyarakat awam. Akibatnya, tidak jarang seseorang dengan gangguan mental dianggap “kurang disiplin”, sementara kebiasaan buruk yang nyata justru dinormalisasi hingga menimbulkan dampak serius. Artikel ini akan membahas secara mendalam di mana garis pemisah keduanya, berdasarkan sudut pandang psikologi klinis yang ilmiah dan bertanggung jawab.

Tonton di YouTube & Subscribe

Memahami Apa Itu Kebiasaan Buruk

Secara psikologis, kebiasaan adalah pola perilaku yang terbentuk melalui pengulangan. Kebiasaan buruk muncul ketika perilaku tersebut berdampak negatif, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial.

Ciri utama kebiasaan buruk:

  • Masih berada dalam kendali individu

  • Dapat dihentikan atau diubah dengan usaha sadar

  • Tidak selalu menimbulkan gangguan fungsi hidup signifikan

  • Umumnya dipengaruhi lingkungan dan pola belajar

Contoh kebiasaan buruk antara lain:

  • Menunda pekerjaan (procrastination)

  • Pola tidur tidak teratur

  • Konsumsi gula berlebihan

  • Kebiasaan marah tanpa kontrol emosi yang baik

Kebiasaan buruk memang dapat berdampak serius bila dibiarkan, tetapi secara klinis tidak otomatis dikategorikan sebagai gangguan mental.

Apa yang Dimaksud dengan Gangguan Mental?

Gangguan mental adalah kondisi psikologis yang memengaruhi pikiran, emosi, perilaku, dan fungsi hidup seseorang secara signifikan, serta telah didefinisikan secara resmi dalam pedoman diagnostik seperti DSM-5-TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders).

Karakteristik utama gangguan mental:

  • Menimbulkan penderitaan psikologis yang nyata

  • Mengganggu fungsi sosial, pekerjaan, atau perawatan diri

  • Sulit dikendalikan meski individu sudah berusaha

  • Berlangsung dalam periode waktu tertentu

  • Memiliki kriteria diagnostik klinis

Contoh gangguan mental:

  • Depresi mayor

  • Gangguan kecemasan

  • Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

  • Gangguan bipolar

  • Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Dalam konteks ini, perilaku yang tampak “sepele” bisa jadi merupakan manifestasi dari gangguan mental yang lebih dalam.

Di Mana Garis Pemisahnya? Perspektif Psikologi Klinis

Psikologi klinis menilai perbedaan kebiasaan buruk dan gangguan mental bukan dari label moral, melainkan dari dampak dan mekanisme psikologisnya.

1. Tingkat Kendali Diri

  • Kebiasaan buruk: Masih dapat dikendalikan dengan latihan dan kesadaran.

  • Gangguan mental: Kendali diri terganggu akibat disfungsi biologis dan psikologis.

Contoh:
Sulit fokus karena sering membuka media sosial ≠ ADHD klinis.

2. Dampak terhadap Fungsi Hidup

Gangguan mental selalu dinilai dari sejauh mana ia mengganggu:

  • Hubungan sosial

  • Pekerjaan atau akademik

  • Kesehatan fisik

  • Kemandirian hidup

Jika perilaku sudah membuat seseorang tidak mampu menjalani peran hidupnya, maka evaluasi klinis diperlukan.

3. Durasi dan Konsistensi Gejala

Kebiasaan buruk biasanya fluktuatif dan situasional.
Gangguan mental persisten, berlangsung berminggu-minggu hingga bertahun-tahun.

4. Respons terhadap Intervensi Sederhana

  • Kebiasaan buruk sering membaik dengan edukasi, disiplin, dan perubahan lingkungan.

  • Gangguan mental tidak cukup ditangani dengan “niat” atau motivasi saja, melainkan memerlukan terapi profesional.

Bahaya Menyamakan Keduanya

Menyamakan gangguan mental dengan kebiasaan buruk bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya.

Dampak negatif yang sering terjadi:

  • Stigmatisasi penderita gangguan mental

  • Keterlambatan diagnosis dan pengobatan

  • Rasa bersalah berlebihan pada penderita

  • Penanganan yang tidak tepat

Kalimat seperti “kurang iman”, “kurang bersyukur”, atau “tinggal niat saja” sering kali justru memperburuk kondisi psikologis seseorang.

Kapan Seseorang Perlu Evaluasi Profesional?

Evaluasi psikolog atau psikiater perlu dipertimbangkan bila:

  • Gejala berlangsung lebih dari 2 minggu

  • Mengganggu aktivitas sehari-hari

  • Disertai perubahan emosi ekstrem

  • Muncul pikiran menyakiti diri sendiri

  • Upaya mandiri tidak membuahkan hasil

Pemeriksaan profesional bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap kesehatan mental.

Pendekatan Sehat: Tidak Menghakimi, Tapi Memahami

Pendekatan psikologi modern menekankan:

  • Edukasi berbasis sains

  • Empati, bukan stigma

  • Intervensi dini

  • Kolaborasi keluarga dan tenaga profesional

Memahami perbedaan kebiasaan buruk dan gangguan mental membantu masyarakat:

  • Bersikap lebih adil

  • Menghindari penghakiman

  • Memberikan dukungan yang tepat

Penutup

Batas antara kebiasaan buruk dan gangguan mental memang tampak samar di permukaan, namun dalam dunia psikologi klinis terdapat garis pemisah yang jelas dan terukur. Perbedaannya tidak terletak pada “niat” atau “kemauan”, melainkan pada kendali diri, dampak fungsional, durasi, dan mekanisme psikologis yang mendasarinya.

Dengan pemahaman yang tepat, kita dapat membangun masyarakat yang lebih sadar, empatik, dan bertanggung jawab terhadap kesehatan mental—bukan dengan label, tetapi dengan ilmu dan kepedulian.


Artikel lain yang Menarik:




Artikel Inspirasi Lansia

 Sumber:

  1. American Psychiatric Association. DSM-5-TR: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. APA Publishing.

  2. World Health Organization. Mental Disorders Fact Sheets. WHO.

  3. National Institute of Mental Health (NIMH). Understanding Mental Illness.

  4. Skinner, B. F. (1953). Science and Human Behavior.

  5. Beck, J. S. (2011). Cognitive Behavior Therapy: Basics and Beyond.