xmlns:og='http://ogp.me/ns#' LPC- Lansia Preneurship Community

Sunday, 15 February 2026

Polifarmasi pada Lansia: Risiko Tersembunyi di Balik Banyaknya Obat

Pendahuluan

Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia mengalami perubahan fisiologis yang memengaruhi cara obat diserap, didistribusikan, dimetabolisme, dan dikeluarkan. Lansia sering hidup dengan lebih dari satu penyakit kronis, sehingga penggunaan banyak obat dalam waktu bersamaan menjadi hal yang umum. Kondisi inilah yang dikenal sebagai polifarmasi. Meski sering tidak terhindarkan, polifarmasi menyimpan risiko serius jika tidak dikelola dengan baik.

Polifarmasi menyimpan risiko serius pada lansia
(Sumber: foto-grup)

Dalam praktik klinis geriatri, polifarmasi bukan sekadar soal jumlah obat, melainkan tentang kesesuaian, keamanan, dan manfaat bersih bagi pasien lansia. 

Apa Itu Polifarmasi?

Secara umum, polifarmasi didefinisikan sebagai penggunaan lima atau lebih obat secara bersamaan. Namun, definisi modern menekankan bahwa polifarmasi dapat bersifat:

  • Polifarmasi tepat (appropriate polypharmacy): ketika semua obat memiliki indikasi jelas, berbasis bukti, dan manfaatnya melebihi risikonya.

  • Polifarmasi tidak tepat (inappropriate polypharmacy): ketika obat tidak lagi diperlukan, berisiko tinggi, atau manfaatnya minimal.

Pada lansia, batas antara keduanya sering kali samar dan membutuhkan evaluasi klinis menyeluruh.

Tonton di YouTube & Subscribe

Mengapa Polifarmasi Umum Terjadi pada Lansia?

Beberapa faktor utama yang mendorong terjadinya polifarmasi antara lain:

  1. Multimorbiditas – Lansia sering memiliki beberapa penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, osteoartritis, penyakit jantung, dan gangguan tidur.

  2. Panduan klinis berbasis penyakit tunggal – Banyak pedoman terapi tidak dirancang untuk pasien dengan banyak penyakit.

  3. Fragmentasi layanan kesehatan – Pasien berobat ke banyak dokter spesialis tanpa koordinasi optimal.

  4. Terapi berkelanjutan tanpa evaluasi ulang – Obat lama tetap dilanjutkan meski indikasi awal sudah tidak relevan.

  5. Swamedikasi dan suplemen – Penggunaan obat bebas dan herbal sering tidak dilaporkan.

Perubahan Fisiologi Lansia dan Dampaknya terhadap Obat

Proses penuaan memengaruhi farmakokinetik dan farmakodinamik obat, antara lain:

  • Penurunan fungsi ginjal dan hati

  • Perubahan komposisi lemak dan air tubuh

  • Peningkatan sensitivitas sistem saraf pusat

Akibatnya, lansia lebih rentan terhadap efek samping, toksisitas, dan interaksi obat, bahkan pada dosis standar.

Polifarmasi adalah minum obat jumlah sama atau lebih dari 5 obat.
(Sumber: foto-grup)

Risiko Polifarmasi pada Lansia

Pada usia lanjut, fungsi organ vital seperti ginjal dan hati cenderung mengalami penurunan. Perubahan ini memengaruhi metabolisme dan eliminasi obat di dalam tubuh. Secara farmakokinetik, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui rumus klirens obat berikut:

CL=0.693×Vdt1/2CL = \frac{0.693 \times V_d}{t_{1/2}}

di mana CL adalah klirens (kemampuan tubuh untuk membersihkan obat dari sirkulasi), VdV_d adalah volume distribusi, dan t1/2t_{1/2} adalah waktu paruh obat. Ketika fungsi ginjal dan hati menurun, waktu paruh obat cenderung memanjang, sehingga obat bertahan lebih lama di dalam tubuh dan meningkatkan risiko akumulasi serta toksisitas, terutama pada lansia.

Polifarmasi yang tidak terkontrol dapat menimbulkan berbagai dampak serius, seperti:

  • Jatuh dan fraktur

  • Delirium dan penurunan kognitif

  • Hipotensi dan gangguan irama jantung

  • Gangguan ginjal dan hati

  • Penurunan kualitas hidup

  • Peningkatan rawat inap dan mortalitas

Ironisnya, efek samping obat sering disalahartikan sebagai penyakit baru, sehingga memicu prescribing cascade—penambahan obat baru untuk mengatasi efek obat lama.

Banyak obat yang dikonsumsi lansia menimbulkan penyakit lain
(Sumber: foto-grup)

Polifarmasi dan Kelelahan Kronis pada Lansia

Banyak lansia dicap "malas" atau "lemah" padahal kelelahan mereka merupakan manifestasi efek kumulatif obat, seperti sedatif, antikolinergik, beta-blocker, atau opioid. Kondisi ini menegaskan bahwa polifarmasi bukan hanya isu medis, tetapi juga isu kualitas hidup dan martabat lansia.

Strategi Pencegahan dan Penanganan Polifarmasi

Pendekatan dalam menangani polifarmasi meliputi:

1. Medication Review Berkala

Evaluasi rutin seluruh obat, termasuk obat bebas dan suplemen.

2. Deprescribing

Proses terencana untuk mengurangi atau menghentikan obat yang tidak lagi bermanfaat atau berisiko tinggi.

3. Pendekatan Berbasis Tujuan (Goal-Oriented Care)

Fokus pada tujuan pasien, seperti fungsi, kenyamanan, dan kualitas hidup, bukan sekadar target laboratorium.

4. Alat Bantu Klinis

Penggunaan kriteria seperti Beers Criteria dan STOPP/START untuk mengidentifikasi obat berisiko.

5. Kolaborasi Tim

Keterlibatan dokter, apoteker, perawat, pasien, dan keluarga sangat krusial.

Peran Keluarga dan Caregiver

Keluarga memiliki peran penting dalam:

  • Memantau kepatuhan minum obat

  • Mencatat efek samping

  • Mengkomunikasikan perubahan kondisi kepada tenaga kesehatan

Edukasi yang baik dapat mencegah polifarmasi berbahaya sejak dini

Perspektif Etika dan Kemanusiaan

Mengurangi obat pada lansia bukan berarti mengurangi perawatan. Justru, deprescribing yang tepat mencerminkan penghormatan terhadap tubuh yang menua, dengan menghindari intervensi berlebihan yang tidak lagi memberi manfaat nyata.

Penutup

Polifarmasi pada lansia adalah fenomena kompleks yang tidak dapat disederhanakan sebagai kesalahan medis semata. Ia merupakan konsekuensi dari sistem kesehatan modern yang menghadapi populasi menua dengan penyakit berlapis. Dengan pendekatan berbasis bukti, empati, dan kolaborasi, polifarmasi dapat dikelola secara aman dan manusiawi.

Kesadaran bahwa "lebih banyak obat tidak selalu berarti lebih baik" adalah langkah awal menuju perawatan lansia yang lebih bermartabat.


Artikel lain yang Menarik:




Artikel Inspirasi Lansia

 Sumber:

  1. Maher RL, Hanlon J, Hajjar ER. Clinical consequences of polypharmacy in elderly. Expert Opin Drug Saf. 2014.

  2. World Health Organization. Medication Safety in Polypharmacy. WHO; 2019.

  3. American Geriatrics Society. Beers Criteria Update. 2023.

  4. Scott IA, et al. Deprescribing in older people. BMJ. 2015.

  5. O’Mahony D, et al. STOPP/START criteria for potentially inappropriate prescribing. Age and Ageing. 2015.

Thursday, 12 February 2026

PENYAKIT BERMUKA DUA! Mengapa Lansia Bisa Serangan Jantung Tanpa Nyeri Dada? (Waspada Presentasi Atipikal)

Pendahuluan

Dalam dunia kesehatan dan psikologi klinis, banyak diagnosis terlambat bukan karena kurangnya teknologi, melainkan karena penyakit tidak selalu muncul dengan gejala “buku teks”. Fenomena ini dikenal sebagai presentasi atipikal — kondisi ketika suatu penyakit atau gangguan menampilkan tanda dan gejala yang berbeda dari pola umum yang selama ini diajarkan.

Presentasi atipikal sering terjadi pada lansia, anak-anak, perempuan, dan pasien dengan penyakit kronis, sehingga kerap menyesatkan tenaga kesehatan maupun keluarga. Akibatnya, penanganan menjadi terlambat dan risiko komplikasi meningkat.

Presentasi atipikal sering terjadi pada lansia sehingga penanganan menjadi terlambat.
(Sumber: foto-grup)

Artikel ini akan membahas secara komprehensif apa itu presentasi atipikal, mengapa bisa terjadi, contoh kasus nyata, serta implikasinya dalam praktik kesehatan modern.

Apa Itu Presentasi Atipikal?

Presentasi atipikal adalah kondisi ketika suatu penyakit tidak menunjukkan gejala khas atau klasik sebagaimana yang umum dijumpai pada mayoritas pasien.

Sebagai contoh:

  • Serangan jantung biasanya ditandai nyeri dada hebat

  • Namun pada lansia, bisa hanya muncul sebagai lemas, kebingungan, atau sesak ringan

  • Tanpa nyeri dada sama sekali

Dengan kata lain, penyakitnya sama — cara tubuh “bercerita” yang berbeda.

Tonton di YouTube & Subscribe

Mengapa Presentasi Atipikal Bisa Terjadi?

1. Perubahan Fisiologis Akibat Usia

Pada lansia, sistem saraf dan respon inflamasi mengalami penurunan. Akibatnya:

  • Rasa nyeri berkurang

  • Demam sering tidak muncul

  • Respons tubuh lebih “diam”

2. Perbedaan Jenis Kelamin

Banyak penelitian menunjukkan perempuan sering mengalami:

  • Gejala jantung tanpa nyeri dada

  • Keluhan tidak spesifik seperti mual, lelah ekstrem, atau pusing

3. Penyakit Penyerta (Komorbiditas)

Pasien dengan diabetes, stroke, atau gangguan saraf sering mengalami:

  • Gangguan persepsi nyeri

  • Gejala yang tumpang tindih dan membingungkan

Penyakit penyerta menimbulkan gejala tumpang tindih.
(Sumber: image ai)

4. Adaptasi Otak dan Tubuh

Pada kondisi kronis, otak dapat “menormalkan” sinyal bahaya sehingga gejala berat terasa ringan atau bahkan diabaikan.

Contoh Presentasi Atipikal yang Sering Terjadi

1. Infeksi pada Lansia

  • Tanpa demam

  • Hanya tampak bingung, mengantuk, atau jatuh mendadak

  • Sering disalahartikan sebagai “pikun biasa”

2. Depresi pada Usia Lanjut

Bukan sedih, tetapi:

  • Penurunan fungsi kognitif

  • Menarik diri

  • Nyeri badan tanpa sebab

3. Serangan Jantung

Keluhan:

  • Nyeri rahang atau punggung

  • Mual

  • Sesak napas

Tanpa nyeri dada klasik

Keluhan jantung tanpa nyeri dada klasik
(Sumber: image ai)

4. Gangguan Psikologis

Kecemasan muncul sebagai:

  • Detak jantung tidak nyaman

  • Pusing kronis

  • Gangguan pencernaan

Risiko Besar Jika Presentasi Atipikal Tidak Dikenali

❌ Salah diagnosis
❌ Penundaan pengobatan
❌ Peningkatan angka rawat inap
❌ Risiko kematian lebih tinggi
❌ Beban keluarga dan sistem kesehatan meningkat

Banyak kasus “mendadak memburuk” sebenarnya telah menunjukkan sinyal awal — namun tidak dikenali karena atipikal.

Pendekatan Klinis yang Lebih Aman

1. Berpikir Di Luar Gejala Klasik

Tenaga kesehatan perlu bertanya:

“Apa perubahan fungsi, bukan hanya apa keluhannya?”

2. Mengutamakan Perubahan Perilaku

Pada lansia:

  • Perubahan nafsu makan

  • Pola tidur

  • Aktivitas harian
    Sering lebih bermakna daripada keluhan verbal.

3. Pendekatan Holistik

Menggabungkan:

  • Pemeriksaan medis

  • Riwayat sosial

  • Lingkungan

  • Dukungan keluarga

Peran Keluarga dan Caregiver

Keluarga adalah detektor dini terbaik presentasi atipikal. Mereka paling tahu:

  • Apa yang “tidak biasa” dari kebiasaan harian

  • Perubahan kecil yang luput dari pemeriksaan singkat

Edukasi keluarga tentang presentasi atipikal terbukti menurunkan keterlambatan penanganan.

Pentingnya edukasi keluarga tentang presentasi atipikal
(Sumber: image ai)

Implikasi dalam Dunia Kesehatan Modern

Presentasi atipikal menuntut:

  • Pendidikan klinis berbasis realitas, bukan hafalan

  • Panduan diagnosis yang lebih inklusif

  • Pendekatan personal (personalized medicine)

Di era populasi menua, presentasi atipikal bukan pengecualian — melainkan norma baru.

Penutup

Presentasi atipikal mengajarkan satu hal penting:

Tubuh manusia tidak selalu mengikuti buku teks.

Mengenali variasi cara penyakit muncul adalah kunci keselamatan, terutama pada kelompok rentan seperti lansia. Dengan pemahaman yang lebih luas, empati klinis, dan keterlibatan keluarga, keterlambatan diagnosis dapat dicegah.

Karena dalam banyak kasus, yang tampak “ringan” justru menyimpan bahaya besar.



Artikel lain yang Menarik:




Artikel Inspirasi Lansia

 Sumber:

  1. Clegg, A., & Young, J. (2011). Which medications to avoid in people at risk of delirium. Age and Ageing.

  2. Resnick, B., et al. (2012). Geriatric syndromes and atypical disease presentation. Journal of the American Geriatrics Society.

  3. American Heart Association. (2023). Heart Attack Symptoms in Older Adults and Women.

  4. Inouye, S. K. (2006). Delirium in older persons. New England Journal of Medicine.

  5. WHO. (2022). Integrated care for older people (ICOPE).

Tuesday, 10 February 2026

BUKAN PURA-PURA SAKIT! Penjelasan Ilmiah di Balik Medically Unexplained Symptoms pada Geriatri

Pendahuluan

Ketika Keluhan Nyata Lansia Tak Terlihat di Hasil Tes Medis

Dalam praktik klinis geriatri, dokter sering menghadapi situasi yang membingungkan: seorang lansia datang dengan keluhan fisik yang nyata dan mengganggu—nyeri di seluruh tubuh, kelelahan kronis yang ekstrem, pusing berputar, atau sensasi tidak enak badan yang menetap. Namun setelah dilakukan berbagai pemeriksaan, mulai dari tes darah lengkap hingga MRI, hasilnya normal.

Lansia sering mengeluh nyeri di seluruh tubuh namun hasil pemeriksaan normal
(Sumber: foto-grup)

Kondisi ini dikenal sebagai Medically Unexplained Symptoms (MUS), yaitu kumpulan gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan secara memadai oleh temuan medis konvensional. Pada lansia, MUS menjadi tantangan besar karena sering berada di persimpangan antara masalah fisik, psikologis, dan neurologis yang halus.

Apa Itu Medically Unexplained Symptoms (MUS)?

Medically Unexplained Symptoms (MUS) adalah istilah medis untuk keluhan fisik yang:

  • Dirasakan nyata oleh pasien

  • Menyebabkan gangguan fungsi dan kualitas hidup

  • Tidak ditemukan penyebab organik yang jelas setelah pemeriksaan standar

Contoh MUS yang sering muncul pada lansia meliputi:

  • Nyeri kronis tanpa kelainan struktural

  • Kelelahan ekstrem yang menetap

  • Pusing atau rasa melayang

  • Sesak atau rasa tertekan di dada tanpa kelainan jantung

  • Gangguan pencernaan fungsional

Penting dipahami bahwa MUS bukanlah keluhan “dibuat-buat”, melainkan pengalaman tubuh yang kompleks.

Tonton di YouTube & Subscribe

Mengapa MUS Sangat Umum pada Lansia?

Prevalensi MUS meningkat seiring bertambahnya usia karena tubuh lansia mengalami perubahan biologis yang halus namun luas, yang sering tidak tertangkap alat diagnostik saat ini.

Hasil pemeriksaan menunjukkan normal namun lansia masih kesakitan
(Sumber: foto-grup)

Beberapa faktor kunci yang berperan antara lain:

1. Beban Alostatik: Akumulasi Stres Seumur Hidup

Apa Itu Beban Alostatik?

Beban alostatik adalah akumulasi dampak stres fisik, emosional, dan sosial sepanjang hidup terhadap sistem tubuh.

Pada lansia, beban ini dapat berasal dari:

  • Stres pekerjaan bertahun-tahun

  • Trauma emosional masa lalu

  • Penyakit kronis berulang

  • Kehilangan pasangan atau peran sosial

Stres kronis jangka panjang mengubah cara tubuh mengatur:

  • Hormon stres (kortisol)

  • Sistem imun

  • Sistem saraf otonom

Akibatnya, tubuh “lelah mengatur diri” meski tidak tampak rusak secara struktural.

Lansia mengalami beban alostatik sepanjang hidupnya
(Sumber: foto-grup)

2. Perubahan Sistem Saraf yang Sulit Dideteksi

Seiring usia, terjadi perubahan mikro pada:

  • Jalur nyeri

  • Neurotransmiter

  • Saraf perifer dan pusat

Perubahan ini dapat menyebabkan hipersensitivitas saraf, sehingga rangsangan ringan dirasakan sebagai nyeri atau ketidaknyamanan berat. Namun, perubahan tersebut:

  • Tidak tampak di MRI standar

  • Tidak terdeteksi lewat tes darah rutin

Inilah salah satu alasan MUS sering disalahartikan sebagai “tidak ada apa-apa”.

Seiring usia terjadi perubahan mikro pada jalur nyeri
()Sumber: foto0grup

3. Interaksi Pikiran–Tubuh yang Makin Kompleks

Pada lansia, batas antara fisik dan psikis menjadi semakin kabur:

  • Gangguan tidur memicu nyeri

  • Kecemasan memperberat pusing

  • Nyeri kronis memperburuk suasana hati

Semua ini membentuk lingkaran umpan balik negatif, di mana satu gejala memperkuat gejala lain tanpa sebab tunggal yang jelas.

Tantangan Besar dalam Diagnosis MUS Geriatri

Mengapa Sulit Dibedakan?

Dokter menghadapi dilema besar:

  • Mengabaikan keluhan berisiko meremehkan penderitaan pasien

  • Pemeriksaan berlebihan berisiko polifarmasi dan kecemasan

Kesulitannya adalah menentukan apakah MUS berasal dari:

  1. Masalah fisik yang belum terdeteksi

  2. Dampak beban alostatik

  3. Penurunan fungsi saraf subklinis

  4. Kombinasi dari semuanya

Pendekatan Klinis Modern terhadap MUS Lansia

Ilmu kedokteran modern mulai bergeser dari pendekatan “mencari penyakit” menjadi memahami pengalaman tubuh pasien.

Pendekatan yang direkomendasikan meliputi:

  • Penilaian fungsi harian, bukan hanya hasil tes

  • Evaluasi stres dan riwayat hidup

  • Pendekatan biopsikososial

  • Komunikasi empatik dan berkelanjutan

Tujuan utamanya adalah mengurangi penderitaan, bukan sekadar memberi label diagnosis.

Dampak MUS terhadap Kualitas Hidup Lansia

Jika tidak dipahami dengan baik, MUS dapat menyebabkan:

  • Frustrasi dan keputusasaan

  • Ketergantungan obat yang tidak perlu

  • Isolasi sosial

  • Penurunan kepercayaan terhadap tenaga medis

Sebaliknya, pendekatan yang tepat dapat meningkatkan:

  • Rasa dipahami

  • Kendali diri

  • Kualitas hidup secara keseluruhan

Dampak MUS pada lansia antara lain frustasi dan keputusasaan
(Sumber: foto grup)

Kesimpulan

Medically Unexplained Symptoms (MUS) pada geriatri bukanlah tanda kelemahan atau keluhan tanpa dasar, melainkan cerminan kompleksitas tubuh lansia yang telah melalui perjalanan panjang kehidupan.

MUS berada di wilayah abu-abu antara fisik, saraf, dan psikologis—wilayah yang belum sepenuhnya bisa dijelaskan oleh teknologi medis saat ini. Dengan pendekatan yang lebih holistik, empatik, dan berbasis ilmu terbaru, dunia medis dapat membantu lansia hidup lebih nyaman meski tanpa diagnosis yang sederhana.


Artikel lain yang Menarik:




Artikel Inspirasi Lansia

Sumber:

  1. World Health Organization. (2017). Integrating mental health into primary care.

  2. Henningsen, P., et al. (2018). Management of medically unexplained symptoms. The Lancet Psychiatry.

  3. National Institute on Aging. (2023). Chronic symptoms in older adults.

  4. McEwen, B. S. (2007). Physiology and neurobiology of stress and adaptation: central role of the brain. Physiological Reviews.

  5. Kroenke, K. (2003). Patients presenting with somatic symptoms: epidemiology and management. Archives of Internal Medicine.