xmlns:og='http://ogp.me/ns#' LPC- Lansia Preneurship Community

Tuesday, 17 February 2026

Misteri “Super-Agers” vs “Rapid-Agers”

Pendahuluan

Mengapa Ada Lansia 80+ Tahun dengan Otak dan Tubuh Setara Usia 50?

Penuaan sering dianggap sebagai proses yang tak terelakkan: tubuh melemah, ingatan menurun, dan otak menyusut (atrofi). Namun, ilmu pengetahuan modern menemukan fenomena yang menggugah rasa ingin tahu—sekelompok lansia yang menentang hukum penuaan biologis. Mereka disebut Super-Agers.

Siapa yang akan menjadi super agers dari beberapa lansia ini?.
(Sumber: foto-grup)

Super-Agers adalah individu berusia 80 tahun ke atas yang mempertahankan fungsi kognitif, fisik, dan sosial setara dengan orang berusia 50–60 tahun. Di sisi lain, terdapat kelompok Rapid-Agers, yaitu individu yang mengalami penurunan fungsi otak dan tubuh jauh lebih cepat dari usia kronologisnya.

Apa yang membedakan keduanya? Dan mengapa otak Super-Agers tampak “kebal” terhadap penyusutan alami? Inilah misteri yang sedang diteliti para ilmuwan saraf dunia.

Tonton di YouTube & Subscribe

Apa Itu Super-Agers?

Secara ilmiah, Super-Agers didefinisikan sebagai lansia yang:

  • Berusia ≥80 tahun

  • Memiliki memori episodik setara orang usia 50–60 tahun

  • Menunjukkan ketebalan korteks otak yang relatif terjaga

  • Mempertahankan fungsi sosial, emosional, dan motorik yang baik

Penelitian dari Northwestern University Cognitive Neurology and Alzheimer’s Disease Center menunjukkan bahwa otak Super-Agers tidak mengalami atrofi signifikan, terutama pada area korteks prefrontal dan cingulate anterior—wilayah penting untuk pengambilan keputusan, empati, dan kontrol emosi.

Lansia yang memiliki kemampuan setara usia 50+
(Sumber: foto-grup)

Siapa Itu Rapid-Agers?

Sebaliknya, Rapid-Agers adalah individu yang:

  • Mengalami penurunan kognitif lebih cepat dari usia biologis

  • Menunjukkan penyusutan volume otak lebih awal

  • Lebih rentan terhadap demensia, depresi, dan penyakit neurodegeneratif

  • Mengalami penurunan fungsi fisik dan sosial yang signifikan

Rapid aging sering dikaitkan dengan peradangan kronis, stres berkepanjangan, isolasi sosial, penyakit metabolik, dan gaya hidup sedentari.

Peran Misterius Sel Von Economo

Salah satu temuan paling menarik dalam penelitian Super-Agers adalah keberadaan sel Von Economo (VENs) dalam jumlah lebih banyak dibanding lansia biasa.

Apa itu Sel Von Economo?

Sel Von Economo adalah neuron besar dan langka yang berperan dalam:

  • Kecerdasan sosial

  • Empati dan intuisi

  • Kesadaran diri

  • Pengambilan keputusan cepat

Neuron ini banyak ditemukan di anterior cingulate cortex dan frontoinsular cortex, wilayah yang krusial untuk fungsi sosial tingkat tinggi.

Temuan Penting

Studi neuropatologi menunjukkan bahwa otak Super-Agers memiliki:

  • Kepadatan sel Von Economo lebih tinggi

  • Lebih sedikit akumulasi protein patologis (beta-amyloid dan tau)

  • Struktur jaringan saraf yang lebih utuh

Namun, misteri besarnya adalah:
👉 Bagaimana sel-sel ini dapat bertahan dan tidak rusak seiring usia?

Faktor yang Diduga Menjaga Otak Super-Agers

Walau belum ada jawaban tunggal, para ahli menyepakati beberapa faktor protektif utama:

1. Cadangan Kognitif (Cognitive Reserve)

Super-Agers umumnya memiliki:

  • Aktivitas mental seumur hidup

  • Rasa ingin tahu tinggi

  • Kemampuan belajar yang berkelanjutan

Cadangan kognitif memungkinkan otak menemukan jalur alternatif saat terjadi kerusakan.

2. Keterlibatan Sosial dan Emosional

Hubungan sosial yang bermakna:

  • Merangsang sel Von Economo

  • Menurunkan inflamasi otak

  • Meningkatkan hormon oksitosin dan dopamin

Ini sejalan dengan fungsi utama VENs sebagai neuron sosial.

3. Regulasi Stres yang Baik

Super-Agers cenderung:

  • Lebih resilien terhadap stres

  • Memiliki respons kortisol yang lebih stabil

  • Tidak mudah mengalami depresi kronis

Stres kronis diketahui mempercepat atrofi hippocampus dan korteks prefrontal.

4. Faktor Genetik dan Epigenetik

Beberapa individu membawa:

  • Gen pelindung neuroplastisitas

  • Respons inflamasi yang lebih rendah

Namun, epigenetika—gaya hidup yang memengaruhi ekspresi gen—diduga jauh lebih menentukan daripada genetika murni.

Implikasi bagi Kesehatan Lansia

Fenomena Super-Agers mengubah paradigma penuaan:

  • Pikun bukan takdir

  • Otak dapat dilindungi hingga usia lanjut

  • Kualitas hidup lansia bisa optimal bila faktor protektif dijaga sejak dini

Ini memberi harapan besar bagi pencegahan demensia dan penyakit neurodegeneratif.

Kesimpulan

Misteri Super-Agers vs Rapid-Agers membuka jendela baru dalam ilmu penuaan otak. Keberadaan sel Von Economo yang lebih banyak pada Super-Agers menunjukkan bahwa kecerdasan sosial, koneksi emosional, dan makna hidup mungkin sama pentingnya dengan nutrisi dan olahraga.

Meski mekanisme biologis pastinya masih diteliti, satu hal semakin jelas:
👉 Penuaan sehat adalah hasil interaksi kompleks antara otak, emosi, hubungan sosial, dan gaya hidup sepanjang hayat.

Tantangan untuk Anda:

Apakah Anda sudah menemukan orang ' Super-Agers' atau 'Rapid-Agers'! Ceritakan dalam kolam komentar untuk berbagi dengan lansia yang lain !


Sumber:

  1. Rogalski, E. J., et al. (2013). Youthful memory capacity in old brains: anatomic and genetic clues from the Northwestern SuperAging Project. Journal of Cognitive Neuroscience.

  2. Gefen, T., et al. (2015). Von Economo neurons in the anterior cingulate cortex of SuperAgers. Journal of Neuropathology & Experimental Neurology.

  3. National Institute on Aging. (2023). Brain aging and cognitive health.

  4. Stern, Y. (2012). Cognitive reserve in ageing and Alzheimer’s disease. The Lancet Neurology.

  5. Northwestern University Feinberg School of Medicine. SuperAging Research Program.

Sunday, 15 February 2026

Polifarmasi pada Lansia: Risiko Tersembunyi di Balik Banyaknya Obat

Pendahuluan

Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia mengalami perubahan fisiologis yang memengaruhi cara obat diserap, didistribusikan, dimetabolisme, dan dikeluarkan. Lansia sering hidup dengan lebih dari satu penyakit kronis, sehingga penggunaan banyak obat dalam waktu bersamaan menjadi hal yang umum. Kondisi inilah yang dikenal sebagai polifarmasi. Meski sering tidak terhindarkan, polifarmasi menyimpan risiko serius jika tidak dikelola dengan baik.

Polifarmasi menyimpan risiko serius pada lansia
(Sumber: foto-grup)

Dalam praktik klinis geriatri, polifarmasi bukan sekadar soal jumlah obat, melainkan tentang kesesuaian, keamanan, dan manfaat bersih bagi pasien lansia. 

Apa Itu Polifarmasi?

Secara umum, polifarmasi didefinisikan sebagai penggunaan lima atau lebih obat secara bersamaan. Namun, definisi modern menekankan bahwa polifarmasi dapat bersifat:

  • Polifarmasi tepat (appropriate polypharmacy): ketika semua obat memiliki indikasi jelas, berbasis bukti, dan manfaatnya melebihi risikonya.

  • Polifarmasi tidak tepat (inappropriate polypharmacy): ketika obat tidak lagi diperlukan, berisiko tinggi, atau manfaatnya minimal.

Pada lansia, batas antara keduanya sering kali samar dan membutuhkan evaluasi klinis menyeluruh.

Tonton di YouTube & Subscribe

Mengapa Polifarmasi Umum Terjadi pada Lansia?

Beberapa faktor utama yang mendorong terjadinya polifarmasi antara lain:

  1. Multimorbiditas – Lansia sering memiliki beberapa penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, osteoartritis, penyakit jantung, dan gangguan tidur.

  2. Panduan klinis berbasis penyakit tunggal – Banyak pedoman terapi tidak dirancang untuk pasien dengan banyak penyakit.

  3. Fragmentasi layanan kesehatan – Pasien berobat ke banyak dokter spesialis tanpa koordinasi optimal.

  4. Terapi berkelanjutan tanpa evaluasi ulang – Obat lama tetap dilanjutkan meski indikasi awal sudah tidak relevan.

  5. Swamedikasi dan suplemen – Penggunaan obat bebas dan herbal sering tidak dilaporkan.

Perubahan Fisiologi Lansia dan Dampaknya terhadap Obat

Proses penuaan memengaruhi farmakokinetik dan farmakodinamik obat, antara lain:

  • Penurunan fungsi ginjal dan hati

  • Perubahan komposisi lemak dan air tubuh

  • Peningkatan sensitivitas sistem saraf pusat

Akibatnya, lansia lebih rentan terhadap efek samping, toksisitas, dan interaksi obat, bahkan pada dosis standar.

Polifarmasi adalah minum obat jumlah sama atau lebih dari 5 obat.
(Sumber: foto-grup)

Risiko Polifarmasi pada Lansia

Pada usia lanjut, fungsi organ vital seperti ginjal dan hati cenderung mengalami penurunan. Perubahan ini memengaruhi metabolisme dan eliminasi obat di dalam tubuh. Secara farmakokinetik, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui rumus klirens obat berikut:

CL=0.693×Vdt1/2CL = \frac{0.693 \times V_d}{t_{1/2}}

di mana CL adalah klirens (kemampuan tubuh untuk membersihkan obat dari sirkulasi), VdV_d adalah volume distribusi, dan t1/2t_{1/2} adalah waktu paruh obat. Ketika fungsi ginjal dan hati menurun, waktu paruh obat cenderung memanjang, sehingga obat bertahan lebih lama di dalam tubuh dan meningkatkan risiko akumulasi serta toksisitas, terutama pada lansia.

Polifarmasi yang tidak terkontrol dapat menimbulkan berbagai dampak serius, seperti:

  • Jatuh dan fraktur

  • Delirium dan penurunan kognitif

  • Hipotensi dan gangguan irama jantung

  • Gangguan ginjal dan hati

  • Penurunan kualitas hidup

  • Peningkatan rawat inap dan mortalitas

Ironisnya, efek samping obat sering disalahartikan sebagai penyakit baru, sehingga memicu prescribing cascade—penambahan obat baru untuk mengatasi efek obat lama.

Banyak obat yang dikonsumsi lansia menimbulkan penyakit lain
(Sumber: foto-grup)

Polifarmasi dan Kelelahan Kronis pada Lansia

Banyak lansia dicap "malas" atau "lemah" padahal kelelahan mereka merupakan manifestasi efek kumulatif obat, seperti sedatif, antikolinergik, beta-blocker, atau opioid. Kondisi ini menegaskan bahwa polifarmasi bukan hanya isu medis, tetapi juga isu kualitas hidup dan martabat lansia.

Strategi Pencegahan dan Penanganan Polifarmasi

Pendekatan dalam menangani polifarmasi meliputi:

1. Medication Review Berkala

Evaluasi rutin seluruh obat, termasuk obat bebas dan suplemen.

2. Deprescribing

Proses terencana untuk mengurangi atau menghentikan obat yang tidak lagi bermanfaat atau berisiko tinggi.

3. Pendekatan Berbasis Tujuan (Goal-Oriented Care)

Fokus pada tujuan pasien, seperti fungsi, kenyamanan, dan kualitas hidup, bukan sekadar target laboratorium.

4. Alat Bantu Klinis

Penggunaan kriteria seperti Beers Criteria dan STOPP/START untuk mengidentifikasi obat berisiko.

5. Kolaborasi Tim

Keterlibatan dokter, apoteker, perawat, pasien, dan keluarga sangat krusial.

Peran Keluarga dan Caregiver

Keluarga memiliki peran penting dalam:

  • Memantau kepatuhan minum obat

  • Mencatat efek samping

  • Mengkomunikasikan perubahan kondisi kepada tenaga kesehatan

Edukasi yang baik dapat mencegah polifarmasi berbahaya sejak dini

Perspektif Etika dan Kemanusiaan

Mengurangi obat pada lansia bukan berarti mengurangi perawatan. Justru, deprescribing yang tepat mencerminkan penghormatan terhadap tubuh yang menua, dengan menghindari intervensi berlebihan yang tidak lagi memberi manfaat nyata.

Penutup

Polifarmasi pada lansia adalah fenomena kompleks yang tidak dapat disederhanakan sebagai kesalahan medis semata. Ia merupakan konsekuensi dari sistem kesehatan modern yang menghadapi populasi menua dengan penyakit berlapis. Dengan pendekatan berbasis bukti, empati, dan kolaborasi, polifarmasi dapat dikelola secara aman dan manusiawi.

Kesadaran bahwa "lebih banyak obat tidak selalu berarti lebih baik" adalah langkah awal menuju perawatan lansia yang lebih bermartabat.


Artikel lain yang Menarik:




Artikel Inspirasi Lansia

 Sumber:

  1. Maher RL, Hanlon J, Hajjar ER. Clinical consequences of polypharmacy in elderly. Expert Opin Drug Saf. 2014.

  2. World Health Organization. Medication Safety in Polypharmacy. WHO; 2019.

  3. American Geriatrics Society. Beers Criteria Update. 2023.

  4. Scott IA, et al. Deprescribing in older people. BMJ. 2015.

  5. O’Mahony D, et al. STOPP/START criteria for potentially inappropriate prescribing. Age and Ageing. 2015.

Thursday, 12 February 2026

PENYAKIT BERMUKA DUA! Mengapa Lansia Bisa Serangan Jantung Tanpa Nyeri Dada? (Waspada Presentasi Atipikal)

Pendahuluan

Dalam dunia kesehatan dan psikologi klinis, banyak diagnosis terlambat bukan karena kurangnya teknologi, melainkan karena penyakit tidak selalu muncul dengan gejala “buku teks”. Fenomena ini dikenal sebagai presentasi atipikal — kondisi ketika suatu penyakit atau gangguan menampilkan tanda dan gejala yang berbeda dari pola umum yang selama ini diajarkan.

Presentasi atipikal sering terjadi pada lansia, anak-anak, perempuan, dan pasien dengan penyakit kronis, sehingga kerap menyesatkan tenaga kesehatan maupun keluarga. Akibatnya, penanganan menjadi terlambat dan risiko komplikasi meningkat.

Presentasi atipikal sering terjadi pada lansia sehingga penanganan menjadi terlambat.
(Sumber: foto-grup)

Artikel ini akan membahas secara komprehensif apa itu presentasi atipikal, mengapa bisa terjadi, contoh kasus nyata, serta implikasinya dalam praktik kesehatan modern.

Apa Itu Presentasi Atipikal?

Presentasi atipikal adalah kondisi ketika suatu penyakit tidak menunjukkan gejala khas atau klasik sebagaimana yang umum dijumpai pada mayoritas pasien.

Sebagai contoh:

  • Serangan jantung biasanya ditandai nyeri dada hebat

  • Namun pada lansia, bisa hanya muncul sebagai lemas, kebingungan, atau sesak ringan

  • Tanpa nyeri dada sama sekali

Dengan kata lain, penyakitnya sama — cara tubuh “bercerita” yang berbeda.

Tonton di YouTube & Subscribe

Mengapa Presentasi Atipikal Bisa Terjadi?

1. Perubahan Fisiologis Akibat Usia

Pada lansia, sistem saraf dan respon inflamasi mengalami penurunan. Akibatnya:

  • Rasa nyeri berkurang

  • Demam sering tidak muncul

  • Respons tubuh lebih “diam”

2. Perbedaan Jenis Kelamin

Banyak penelitian menunjukkan perempuan sering mengalami:

  • Gejala jantung tanpa nyeri dada

  • Keluhan tidak spesifik seperti mual, lelah ekstrem, atau pusing

3. Penyakit Penyerta (Komorbiditas)

Pasien dengan diabetes, stroke, atau gangguan saraf sering mengalami:

  • Gangguan persepsi nyeri

  • Gejala yang tumpang tindih dan membingungkan

Penyakit penyerta menimbulkan gejala tumpang tindih.
(Sumber: image ai)

4. Adaptasi Otak dan Tubuh

Pada kondisi kronis, otak dapat “menormalkan” sinyal bahaya sehingga gejala berat terasa ringan atau bahkan diabaikan.

Contoh Presentasi Atipikal yang Sering Terjadi

1. Infeksi pada Lansia

  • Tanpa demam

  • Hanya tampak bingung, mengantuk, atau jatuh mendadak

  • Sering disalahartikan sebagai “pikun biasa”

2. Depresi pada Usia Lanjut

Bukan sedih, tetapi:

  • Penurunan fungsi kognitif

  • Menarik diri

  • Nyeri badan tanpa sebab

3. Serangan Jantung

Keluhan:

  • Nyeri rahang atau punggung

  • Mual

  • Sesak napas

Tanpa nyeri dada klasik

Keluhan jantung tanpa nyeri dada klasik
(Sumber: image ai)

4. Gangguan Psikologis

Kecemasan muncul sebagai:

  • Detak jantung tidak nyaman

  • Pusing kronis

  • Gangguan pencernaan

Risiko Besar Jika Presentasi Atipikal Tidak Dikenali

❌ Salah diagnosis
❌ Penundaan pengobatan
❌ Peningkatan angka rawat inap
❌ Risiko kematian lebih tinggi
❌ Beban keluarga dan sistem kesehatan meningkat

Banyak kasus “mendadak memburuk” sebenarnya telah menunjukkan sinyal awal — namun tidak dikenali karena atipikal.

Pendekatan Klinis yang Lebih Aman

1. Berpikir Di Luar Gejala Klasik

Tenaga kesehatan perlu bertanya:

“Apa perubahan fungsi, bukan hanya apa keluhannya?”

2. Mengutamakan Perubahan Perilaku

Pada lansia:

  • Perubahan nafsu makan

  • Pola tidur

  • Aktivitas harian
    Sering lebih bermakna daripada keluhan verbal.

3. Pendekatan Holistik

Menggabungkan:

  • Pemeriksaan medis

  • Riwayat sosial

  • Lingkungan

  • Dukungan keluarga

Peran Keluarga dan Caregiver

Keluarga adalah detektor dini terbaik presentasi atipikal. Mereka paling tahu:

  • Apa yang “tidak biasa” dari kebiasaan harian

  • Perubahan kecil yang luput dari pemeriksaan singkat

Edukasi keluarga tentang presentasi atipikal terbukti menurunkan keterlambatan penanganan.

Pentingnya edukasi keluarga tentang presentasi atipikal
(Sumber: image ai)

Implikasi dalam Dunia Kesehatan Modern

Presentasi atipikal menuntut:

  • Pendidikan klinis berbasis realitas, bukan hafalan

  • Panduan diagnosis yang lebih inklusif

  • Pendekatan personal (personalized medicine)

Di era populasi menua, presentasi atipikal bukan pengecualian — melainkan norma baru.

Penutup

Presentasi atipikal mengajarkan satu hal penting:

Tubuh manusia tidak selalu mengikuti buku teks.

Mengenali variasi cara penyakit muncul adalah kunci keselamatan, terutama pada kelompok rentan seperti lansia. Dengan pemahaman yang lebih luas, empati klinis, dan keterlibatan keluarga, keterlambatan diagnosis dapat dicegah.

Karena dalam banyak kasus, yang tampak “ringan” justru menyimpan bahaya besar.



Artikel lain yang Menarik:




Artikel Inspirasi Lansia

 Sumber:

  1. Clegg, A., & Young, J. (2011). Which medications to avoid in people at risk of delirium. Age and Ageing.

  2. Resnick, B., et al. (2012). Geriatric syndromes and atypical disease presentation. Journal of the American Geriatrics Society.

  3. American Heart Association. (2023). Heart Attack Symptoms in Older Adults and Women.

  4. Inouye, S. K. (2006). Delirium in older persons. New England Journal of Medicine.

  5. WHO. (2022). Integrated care for older people (ICOPE).