xmlns:og='http://ogp.me/ns#' LPC- Lansia Preneurship Community: JANGAN ABAIKAN! Mengapa Banyak Lansia Seolah “Menunggu Dijemput”? Fenomena Misterius yang Membuat Keluarga Merinding

Saturday, 20 June 2026

JANGAN ABAIKAN! Mengapa Banyak Lansia Seolah “Menunggu Dijemput”? Fenomena Misterius yang Membuat Keluarga Merinding

Pendahuluan

"Pak, sedang menunggu siapa?"

"Saya sedang menunggu dijemput."

Jawaban seperti ini mungkin terdengar biasa. Namun bagi banyak keluarga yang merawat lansia, kalimat tersebut sering menimbulkan perasaan aneh dan sulit dijelaskan.

Fenomena "menunggu dijemput " dijumpai pada lansia
(Sumber: foto-GCV)

💡 Tabel Hero

Fenomena Seberapa Sering Terjadi pada Lansia? Apa yang Sebaiknya Dilakukan Keluarga?
🚗Menunggu dijemput Cukup sering ditemukan pada usia lanjut Dengarkan dengan tenang dan penuh empati
🏠Ingin pulang ke rumah masa kecil Umum pada lansia dengan gangguan memori Ajak berbicara tentang kenangan tersebut
🕊️Menyebut orang yang telah meninggal Dapat terjadi karena kerinduan atau memori lama Jangan langsung membantah
✈️Berbicara tentang perjalanan terakhir Bisa muncul saat proses refleksi kehidupan Berikan dukungan emosional
🌙Menarik diri dari lingkungan Perlu diperhatikan lebih lanjut Konsultasikan ke dokter bila semakin berat

Tidak sedikit lansia yang menjelang akhir hidupnya mulai sering duduk di dekat pintu, memandangi jalan, atau mengatakan bahwa mereka sedang menunggu seseorang datang menjemput mereka. Ada yang menyebut nama orang tua yang telah lama meninggal. Ada yang merasa harus pulang ke rumah masa kecilnya. Ada pula yang berulang kali berkata bahwa waktunya sudah dekat.

Fenomena ini sering disebut masyarakat sebagai "menunggu dijemput."

Sebagian orang menganggapnya sebagai pertanda spiritual. Sebagian lainnya mengaitkannya dengan perubahan fungsi otak akibat penuaan. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi?

Artikel ini membahas fenomena "menunggu dijemput" dari sudut pandang ilmiah, psikologis, dan kemanusiaan agar keluarga dapat memahami kondisi lansia dengan lebih bijaksana.

Tonton di YouTube & Subscribe

Apa Itu Fenomena "Menunggu Dijemput"?

Fenomena "menunggu dijemput" bukanlah diagnosis medis resmi.

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika lansia:

  • Sering mengatakan sedang menunggu seseorang.
  • Berulang kali ingin pulang ke tempat tertentu.
  • Mengaku akan segera pergi.
  • Merasa waktunya sudah hampir habis.
  • Menunjukkan perilaku seperti sedang menantikan sebuah perjalanan.

Fenomena ini dapat muncul beberapa bulan, beberapa minggu, atau bahkan beberapa hari sebelum seseorang meninggal dunia. Namun penting dipahami bahwa tidak semua lansia yang mengalaminya akan segera meninggal.

Mengapa Lansia Bisa Mengalami Fenomena Ini?

1. Otak Kembali Mengakses Memori yang Sangat Lama

Seiring bertambahnya usia, terutama pada lansia dengan gangguan kognitif ringan atau demensia, otak sering lebih mudah mengakses kenangan lama dibandingkan peristiwa yang baru terjadi.

Akibatnya, lansia dapat merasa seolah-olah mereka masih hidup di masa lalu.

Mereka mungkin:

  • Mengira orang tuanya masih hidup.
  • Menganggap dirinya masih muda.
  • Ingin pulang ke rumah masa kecil.

Padahal rumah tersebut mungkin sudah tidak ada puluhan tahun.

2. Kerinduan terhadap Orang yang Sudah Tiada

Banyak lansia telah kehilangan:

  • Pasangan hidup.
  • Saudara kandung.
  • Sahabat dekat.
  • Teman seperjuangan.

Dalam kondisi kesepian, memori tentang orang-orang tercinta menjadi semakin kuat.

Sebagian lansia mulai sering membicarakan mereka seolah masih ada.

Ini bukan berarti mereka kehilangan akal sehat, melainkan ekspresi kerinduan yang sangat mendalam.

3. Kesadaran Akan Akhir Kehidupan

Berbeda dengan orang muda, banyak lansia menyadari bahwa hidup mereka telah memasuki fase akhir.

Kesadaran ini dapat memunculkan proses psikologis yang disebut life review, yaitu kecenderungan meninjau kembali perjalanan hidup.

Pada fase ini lansia sering:

  • Mengenang masa lalu.
  • Merenungkan kesalahan.
  • Mengingat orang-orang penting.
  • Memikirkan kematian.

Dalam beberapa kasus, muncul perasaan bahwa mereka sedang bersiap untuk sebuah perjalanan terakhir.

4. Perubahan Fungsi Otak

Beberapa kondisi neurologis dapat memengaruhi persepsi dan cara berpikir lansia, seperti:

  • Demensia Alzheimer
  • Demensia Lewy Body
  • Penyakit Parkinson
  • Delirium akibat infeksi atau penyakit akut

Gangguan ini dapat menyebabkan kebingungan mengenai waktu, tempat, dan identitas seseorang.

Akibatnya lansia bisa mengatakan ingin pulang meskipun sebenarnya sedang berada di rumahnya sendiri.

🔍 Tabel "Mitos vs Fakta"

Mitos yang Beredar Fakta Ilmiah
Lansia yang menunggu dijemput pasti akan meninggal dalam waktu dekat. Tidak ada bukti medis yang dapat memastikan hal tersebut.
Fenomena ini pasti berkaitan dengan hal gaib. Sebagian besar dapat dijelaskan melalui faktor neurologis, psikologis, dan sosial.
Lansia yang mengalaminya sudah tidak waras. Banyak lansia tetap mampu berpikir logis dalam aktivitas sehari-hari.
Tidak perlu ditanggapi karena hanya omong kosong. Justru bisa menjadi tanda kebutuhan emosional atau kesepian yang mendalam.
Membantah lansia akan membuatnya sadar. Membantah sering memperburuk kecemasan dan kebingungan mereka.

Apakah Ini Tanda Kematian Sudah Dekat?

Pertanyaan ini sering membuat keluarga cemas.

Jawabannya adalah tidak selalu.

Namun sejumlah penelitian perawatan paliatif menemukan bahwa sebagian orang memang mengalami perubahan perilaku menjelang akhir kehidupan.

Beberapa tanda yang kadang muncul:

  • Menarik diri dari aktivitas sosial.
  • Lebih banyak tidur.
  • Berbicara tentang perjalanan atau kepulangan.
  • Mengingat orang yang sudah meninggal.
  • Menunjukkan ketenangan yang tidak biasa.

Meski demikian, tanda-tanda tersebut tidak dapat digunakan untuk memprediksi waktu kematian secara pasti.

Contoh Kasus

Ibu Siti, 83 tahun, tinggal bersama anak bungsunya setelah suaminya meninggal lima tahun sebelumnya.

Selama beberapa bulan terakhir, ia sering duduk di teras menjelang sore sambil memandangi jalan.

Ketika ditanya sedang apa, ia menjawab:

"Saya sedang menunggu bapak datang menjemput."

Padahal suaminya telah meninggal bertahun-tahun sebelumnya.

Keluarga awalnya panik dan mengira terjadi gangguan kejiwaan.

Setelah berkonsultasi dengan dokter geriatri, diketahui bahwa Ibu Siti mengalami penurunan memori ringan disertai kesepian yang cukup berat.

Keluarga kemudian mulai lebih sering mengajak berbicara, menunjukkan album foto lama, dan melibatkan beliau dalam aktivitas keluarga.

Perasaan cemasnya berkurang dan kualitas hidupnya membaik.

Kasus ini menunjukkan bahwa fenomena "menunggu dijemput" sering kali lebih berkaitan dengan emosi, memori, dan proses penuaan daripada sesuatu yang bersifat mistis.

Mitos yang Sering Beredar

Mitos 1: Menunggu Dijemput Pasti Pertanda Akan Meninggal Besok

Fakta:

Tidak ada bukti ilmiah yang dapat memastikan hal tersebut.

Fenomena ini dapat berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Mitos 2: Lansia yang Mengalami Ini Pasti Kehilangan Akal Sehat

Fakta:

Banyak lansia masih mampu berpikir logis dalam banyak aspek kehidupan meskipun sesekali mengalami kebingungan terkait memori atau waktu.

Mitos 3: Ini Selalu Fenomena Gaib

Fakta:

Sebagian besar kasus dapat dijelaskan melalui kombinasi faktor psikologis, neurologis, emosional, dan sosial.

Bagaimana Keluarga Harus Menyikapinya?

Dengarkan dengan Empati

Jangan langsung membantah.

Kalimat seperti:

"Tidak ada yang menjemput, Ibu ngaco."

dapat membuat lansia merasa tersinggung atau sedih.

Ajak Berbicara Tentang Kenangan

Terkadang yang dibutuhkan lansia hanyalah teman untuk bercerita.

Diskusi tentang masa lalu dapat memberikan rasa nyaman dan aman.

Perhatikan Gejala Lain

Segera konsultasikan ke dokter apabila disertai:

  • Kebingungan berat.
  • Halusinasi.
  • Penurunan memori yang cepat.
  • Perubahan perilaku ekstrem.

Kurangi Kesepian

Interaksi sosial terbukti membantu menjaga kesehatan mental lansia.

Kegiatan sederhana seperti:

  • berbincang,
  • berjalan santai,
  • beribadah bersama,
  • atau melihat album keluarga,

dapat memberikan manfaat besar.

Artikel Kesehatan
Ilustrasi gangguan Mental

Teropong Mental:
Biologis-Psikologis-Lingkungan sumber gangguan mental

Memahami ketiga pilar utama ini membantu kita mengidentifikasi risiko dan langkah penanganan yang tepat.

Baca artikel →

Kapan Harus Memeriksakan Lansia ke Dokter?

Pemeriksaan medis dianjurkan jika fenomena ini disertai:

  • Kehilangan orientasi tempat dan waktu.
  • Sering tersesat.
  • Sulit mengenali keluarga.
  • Halusinasi visual atau pendengaran.
  • Perubahan kepribadian yang signifikan.

Deteksi dini dapat membantu menemukan gangguan neurologis yang mendasarinya.

📋 Tabel Fakta Singkat yang Perlu Diketahui Keluarga

Pertanyaan Jawaban Singkat
Apakah fenomena ini nyata? ✔️Ya, cukup sering ditemukan pada lansia.
Apakah selalu pertanda kematian? ✔️Tidak. Banyak lansia mengalaminya selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Apakah termasuk gangguan jiwa? ✔️Tidak selalu. Bisa berkaitan dengan memori, emosi, dan proses penuaan.
Apakah perlu diperiksakan ke dokter? ✔️Ya, terutama jika disertai kebingungan berat, halusinasi, atau penurunan memori yang cepat.
Bagaimana keluarga harus merespons? ✔️Dengarkan dengan empati, jangan langsung membantah atau memarahi.

Penutup

Fenomena "menunggu dijemput" merupakan salah satu pengalaman yang paling mengharukan sekaligus membingungkan dalam kehidupan lansia. Bagi sebagian orang, ini tampak misterius. Namun dari sudut pandang ilmiah, kondisi tersebut sering berkaitan dengan perubahan memori, kerinduan terhadap orang yang dicintai, kesepian, serta proses psikologis menghadapi tahap akhir kehidupan.

Daripada menanggapinya dengan ketakutan atau prasangka, keluarga sebaiknya melihat fenomena ini sebagai kesempatan untuk memberikan perhatian, kasih sayang, dan pendampingan yang lebih hangat kepada lansia.

Pada akhirnya, yang paling dibutuhkan oleh banyak lansia bukanlah jawaban atas siapa yang akan menjemput mereka, melainkan keyakinan bahwa mereka tidak menjalani perjalanan hidup ini sendirian.

Responsive Grid Lansia Premium

#lpclansia

Tonton info singkat kesehatan lansia. Kenali tanda penyakit sebelum terlambat.

Tonton →

#KesehatanLansia

Jangan lewatkan info kesehatan lansia agar lebih cepat memahami gejala tubuh.

Lihat →

#TipsLansiaSehat

Pelajari perubahan organ tubuh lansia dengan penjelasan yang mudah dipahami.

Cek →

Jelajahi LPC Lansia

Senior Berprestasi Di Seluruh Dunia

Alat Ini Sering Dibutuhkan Oleh Senior!

Lansia Sukses
Senior Berprestasi Di Seluruh Dunia

Siapa Saja Senior Berprestasi yang Anda Kenal!

Lansia Sukses

Artikel Populer

HATI-HATI! Diamnya Orang Tua Bisa Jadi Tanda Depresi Geriatri yang Berakibat Fatal

Gangguan kesehatan mental yang terjadi pada usia lanjut dan sering kali tidak terdiagnosis,...

Baca Selengkapnya

DARI PENJARA ke PUNCAK KUASA: Rahasia Ketabahan Anwar Ibrahim, PM Malaysia yang Bangkit di Usia Senja

Perjalanan hidupnya bukan sekadar kisah politik, melainkan kronik keteguhan, ketabahan moral,...

Baca Selengkapnya

[STOP PAKAI KERAMIK BIASA!] Ini 5 Jenis Lantai Anti-Slip TERBAIK yang Jamin Kamar Mandi Lansia 100% Bebas Cedera Fatal

Lansia adalah kelompok yang paling rentan mengalami cedera akibat jatuh di kamar mandi,...

Baca Selengkapnya

Sumber

  1. National Institute on Aging. Aging, Memory, and Cognitive Health.
  2. Alzheimer's Association. Dementia-Related Behaviors and Memory Changes.
  3. World Health Organization. Mental Health of Older Adults.
  4. American Psychological Association. Life Review and Aging.
  5. National Institute of Mental Health. Older Adults and Emotional Well-Being.
  6. Butler RN. The Life Review: An Interpretation of Reminiscence in the Aged. Psychiatry. 1963.
  7. Erikson EH. Identity and the Life Cycle. Psychological Issues. 1980.
  8. Geriatric Psychiatry> literature on end-of-life psychological adaptation and reminiscence in aging populations. 

No comments:

Post a Comment