Friday, 28 March 2025

Selamat Lebaran! Begini Lansia Bisa Nikmati Hari Raya Tanpa Masalah Kesehatan!

        Hari Lebaran adalah momen penuh kebahagiaan, tetapi bagi lansia, momen ini juga bisa membawa tantangan tersendiri. Setelah sebulan berpuasa, tubuh lansia merasakan banyak manfaat, namun ada beberapa risiko yang perlu diwaspadai. 

Remaja SMA tahun 80-an
(Sumber: foto Dwipatri)

Berikut adalah dampak positif dan negatif yang bisa muncul pada lansia saat Lebaran:

Dampak Positif Hari Lebaran bagi Lansia

Kebahagiaan & Keceriaan Psikologis Bertemu keluarga dan sanak saudara membawa kebahagiaan serta memberikan dampak positif bagi kesehatan mental lansia. Aktivitas berkumpul dan berbagi kebahagiaan membantu mengurangi stres serta rasa kesepian.

Kualitas Tidur Meningkat Setelah sebulan berpuasa, tubuh lansia lebih bisa beradaptasi, sehingga tidur menjadi lebih nyenyak. Tidur yang cukup membantu mengurangi kelelahan dan meningkatkan kesejahteraan fisik serta mental.

Interaksi Sosial Lebih Aktif Lebaran memberikan kesempatan bagi lansia untuk bertemu dengan keluarga dan teman yang jarang dijumpai. Interaksi sosial ini meningkatkan kebahagiaan dan mencegah isolasi sosial.

Meningkatnya Rasa Spiritual Lebaran memberikan kedamaian spiritual, terutama bagi lansia yang menjalani ibadah dengan khusyuk. Momen ini memperkuat rasa syukur dan kedekatan dengan Tuhan.

Dampak Negatif yang Muncul untuk Lansia

Kelelahan Fisik Akibat Aktivitas Berlebih Berkunjung ke rumah keluarga, menerima tamu, atau memasak dapat menyebabkan kelelahan fisik. Jika tidak diimbangi dengan istirahat yang cukup, dapat memicu pusing dan lemas.

Gangguan Pencernaan Akibat Pola Makan Berlebihan Makanan khas Lebaran sering kali tinggi lemak, pedas, atau kaya gula, yang bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti asam lambung naik dan perut kembung.

Peningkatan Tekanan Darah Makanan asin dan berlemak dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, terutama bagi lansia dengan riwayat hipertensi, yang meningkatkan risiko stroke dan masalah jantung.

Dehidrasi Karena Kurang Minum Dalam kesibukan Lebaran, lansia bisa lupa minum air yang cukup, yang berisiko menyebabkan pusing, kelelahan, atau bahkan infeksi saluran kemih.

Risiko Jatuh & Cedera Aktivitas berlebih, seperti bergerak cepat saat berkunjung atau menerima tamu, dapat meningkatkan risiko jatuh dan cedera.

Cara Mengatasi Dampak Negatif di Hari Lebaran

💧 Pastikan Asupan Cairan Cukup 

✅ Minum air putih yang cukup, hindari minuman berkafein atau terlalu manis.

✅ Konsumsi makanan dengan kadar air tinggi seperti buah-buahan dan sayuran.

🍽 Jaga Pola Makan Seimbang 

✅ Pilih makanan sehat dan bergizi, hindari makanan berlemak, pedas, atau terlalu manis. 

✅ Makan dalam porsi kecil namun sering untuk mencegah gangguan pencernaan. 

✅ Makan dengan perlahan agar tubuh lebih mudah mencerna makanan.

🛏 Istirahat Cukup 

✅ Beri waktu istirahat yang cukup setelah aktivitas padat. 

✅ Hindari berdiri atau berjalan terlalu lama tanpa duduk sejenak.

🧑‍⚕️ Kontrol Kesehatan Secara Berkala 

✅ Lansia dengan hipertensi, diabetes, atau masalah jantung sebaiknya memantau tekanan darah dan kadar gula secara rutin. 

✅ Konsultasikan dengan dokter jika muncul gejala yang mengkhawatirkan seperti pusing, mual, atau nyeri dada.

🚶‍♂️ Lakukan Aktivitas Ringan 

✅ Jika ingin berkunjung, lakukan dengan perlahan dan hindari aktivitas fisik yang terlalu melelahkan. ✅ Jangan memaksakan diri jika tubuh merasa lelah.

Kesimpulan

Hari Lebaran membawa kebahagiaan dan kedamaian bagi lansia melalui interaksi sosial, waktu bersama keluarga, dan kedekatan spiritual. Namun, tetap perlu menjaga pola makan, hidrasi, dan istirahat agar terhindar dari kelelahan atau gangguan kesehatan. Dengan perhatian yang baik, lansia dapat menikmati Lebaran dengan sehat dan bahagia.


Sumber:

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8449521/

https://www.um-surabaya.ac.id/en/article/berlebihan-konsumsi-makanan-manis-saat-lebaran-dosen-um-surabaya-waspada-penyakit-ini

https://www.alzheimers.org.uk/blog/ramadan-and-dementia-care


 

Monday, 24 March 2025

Hari- hari Terakhir Berpuasa pada Lansia ? Inilah Manfaat Puasa Hari 26–30!

         Memasuki tahap akhir bulan Ramadan, tubuh lansia sudah beradaptasi dengan pola puasa. Manfaatnya semakin terasa, tetapi ada beberapa risiko yang tetap perlu diwaspadai.

Lansia semakin bugar menjelang berakhir puasa.
(Sumber: foto Sutardi)

Manfaat yang Semakin Terasa di Hari 26–30

💪 Stamina & Energi Stabil

Lansia yang sudah terbiasa berpuasa lebih dari tiga minggu akan merasakan energi yang lebih stabil. Tubuh telah beradaptasi dengan menggunakan lemak sebagai sumber energi, mengurangi rasa lelah atau lemas.

✨ Detoksifikasi & Regenerasi Sel Meningkat

Proses autofagi (pembersihan sel rusak) semakin optimal, membantu mengurangi peradangan dan mendetoksifikasi tubuh. Ini bisa memperlambat penuaan serta mengurangi risiko penyakit seperti Alzheimer, Parkinson, dan radang sendi.

🌟 Pencernaan Lebih Lancar

Pola makan yang lebih teratur meningkatkan fungsi pencernaan, mengurangi masalah seperti sembelit atau perut kembung. Konsumsi makanan berserat tinggi dan cukup cairan membantu menjaga kesehatan pencernaan.

😊 Kesehatan Mental & Mood Lebih Baik

Hormon endorfin dan serotonin meningkat, membuat lansia lebih bahagia dan tenang. Mereka juga lebih fokus dalam ibadah, merasa lebih dekat dengan Tuhan, dan mendapatkan kedamaian batin.

💉 Penurunan Risiko Penyakit Kronis

Tekanan darah lebih stabil, mengurangi risiko hipertensi. Lansia yang berpuasa dengan pola makan sehat juga dapat mengalami penurunan kadar gula darah, menurunkan risiko diabetes atau lonjakan gula darah setelah berbuka.

🌜 Kualitas Tidur Lebih Baik

Lansia yang menjaga pola makan dengan baik (tidak berlebihan saat berbuka) dapat merasakan tidur yang lebih nyenyak. Tidur yang cukup meningkatkan kualitas hidup, memperbaiki mood, dan memberi energi untuk hari berikutnya.

Risiko yang Mungkin Muncul di Hari 26–30

⚠ Dehidrasi Jika Kurang Minum

Lansia sering lupa minum air yang cukup antara berbuka dan sahur. Dehidrasi bisa menyebabkan pusing, lemas, mulut kering, dan gangguan pencernaan. Pastikan minum cukup air serta konsumsi makanan dengan kandungan cairan tinggi.

⚠ Kelelahan Jika Asupan Gizi Tidak Seimbang

Kurangnya karbohidrat kompleks, protein, atau vitamin dapat menyebabkan kelelahan berlebihan. Konsumsi makanan tinggi gula saat berbuka juga bisa menyebabkan lonjakan energi yang cepat tetapi cepat turun, menyebabkan tubuh kembali lelah.

⚠ Hipotensi (Tekanan Darah Rendah)

Kurangnya garam sehat, kalium, atau magnesium bisa menyebabkan tekanan darah turun, yang membuat lansia merasa pusing atau lemas, terutama saat berdiri tiba-tiba.

⚠ Kram Otot & Kesemutan

Kekurangan elektrolit seperti kalium dan magnesium dapat menyebabkan kram otot atau kesemutan. Pastikan lansia mengonsumsi pisang, alpukat, dan sayuran hijau.

⚠ Asam Lambung Naik Jika Makan Berlebihan

Makan terlalu cepat atau terlalu banyak saat berbuka bisa memicu kenaikan asam lambung, terutama jika mengonsumsi makanan berlemak, pedas, atau tinggi gula.

⚠ Kelelahan Ekstrem Jika Tidur Tidak Teratur

Walaupun tidur lebih nyenyak, rutinitas Ramadan yang padat (salat malam, sahur) bisa menyebabkan kelelahan jika tidak diatur dengan baik.

Cara Mengatasi Efek Negatif Agar Lansia Tetap Sehat

💧 Pastikan Cairan Cukup

  • Minum 6–8 gelas air antara berbuka dan sahur.

  • Konsumsi makanan kaya air seperti sup, buah-buahan, dan sayuran (semangka, timun, tomat).

🍚 Konsumsi Makanan Bergizi & Seimbang

  • Makan karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau roti gandum.

  • Konsumsi protein sehat (ikan, ayam, telur) dan makanan kaya serat (sayuran, buah-buahan).

  • Jangan makan berlebihan atau terlalu cepat saat berbuka.

🛏 Atur Waktu Tidur

  • Tidur cukup 6–8 jam per malam.

  • Hindari makan besar terlalu dekat dengan waktu tidur.

🏃️‍♂️ Lakukan Aktivitas Ringan

  • Jalan kaki atau peregangan ringan setelah berbuka.

  • Hindari berdiri tiba-tiba dari posisi duduk untuk mencegah pusing.

⚕ Konsultasi dengan Dokter Jika Diperlukan

  • Jika merasa kelelahan berlebihan, pusing, atau mengalami gangguan kesehatan, segera konsultasi dengan dokter.

  • Jika ada masalah tekanan darah, kadar gula darah, atau gangguan pencernaan yang tidak kunjung membaik, periksakan ke tenaga medis.

Kesimpulan

Pada hari 26–30, lansia bisa merasakan manfaat besar dari puasa seperti energi stabil, pencernaan lancar, tidur lebih baik, dan pengurangan risiko penyakit kronis. Namun, risiko seperti dehidrasi, kelelahan, hipotensi, dan masalah pencernaan tetap harus diwaspadai. Dengan menjaga pola makan sehat, cukup cairan, tidur yang cukup, dan berkonsultasi dengan dokter jika perlu, lansia dapat melewati hari-hari terakhir puasa dengan lebih sehat dan bugar.



Sumber:

https://expert.taylors.edu.my/file/rems/publication/109111_7228_1.pdf

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10820472/

https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/2022071815315220_MJMHS_1018.pdf

https://nutritionj.biomedcentral.com/articles/10.1186/1475-2891-9-57

Thursday, 20 March 2025

Hari ke-21 hingga ke-25 Puasa: Lansia Semakin Bugar atau Mulai Lelah?

         Memasuki hari ke-21 hingga ke-25 puasa, tubuh sudah semakin terbiasa dengan ritme puasa. Pada tahap ini, manfaat kesehatan bisa lebih dirasakan, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tetap sehat dan nyaman.

Berpuasa hari 21-25 membuat lansia terbiasa dengan ritme puasa.
(Sumber: foto brodeker)

Manfaat Baik di Hari ke-21 hingga ke-25

Tubuh Lebih Terbiasa dengan Puasa
Puasa tidak lagi terasa berat. Metabolisme sudah menyesuaikan diri, sehingga tubuh tetap berenergi sepanjang hari.

Berat Badan Lebih Terjaga
Jika makan dengan seimbang, berat badan bisa lebih stabil. Ini baik untuk mengurangi beban pada sendi dan menjaga kesehatan jantung.

Radang dalam Tubuh Berkurang
Proses alami tubuh membersihkan sel-sel yang rusak semakin baik. Ini membantu mengurangi radang yang bisa menyebabkan nyeri sendi atau penyakit jantung.

Pikiran Lebih Jernih
Otak mendapatkan energi dari keton, yang bisa meningkatkan fokus dan daya ingat.

Tubuh Lebih Kuat Melawan Penyakit
Puasa yang dijalani dengan baik dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Tubuh menjadi lebih kuat dalam melawan penyakit.

Tidur Lebih Nyenyak
Dengan pola makan yang teratur, banyak lansia merasakan tidur yang lebih baik dan lebih segar saat bangun.

Perasaan Lebih Tenang
Puasa dan ibadah dapat memberikan ketenangan hati dan membantu mengurangi stres.

Hal yang Perlu Diperhatikan

Tetap Minum yang Cukup
Sebagian lansia tidak merasa haus, sehingga bisa kurang minum. Ini bisa menyebabkan lemas, pusing, atau sulit buang air kecil.

Jaga Keseimbangan Mineral
Kurang garam atau kalium bisa menyebabkan kram otot atau pusing saat berdiri.

Hindari Makanan yang Sulit Dicerna
Makanan berminyak, pedas, atau terlalu manis bisa menyebabkan kembung atau sembelit.

Perhatikan Tekanan Darah
Bagi yang tekanan darahnya rendah, kurang garam dan air bisa membuat pusing.

Jangan Sampai Lemas
Jika makan terlalu sedikit, tubuh bisa lemas dan sulit beraktivitas.

Jangan Makan Terlalu Banyak Sebelum Tidur
Makan berat sebelum tidur bisa membuat tidur terganggu.

Tips Agar Tetap Sehat dan Nyaman

💧 Banyak Minum Air

  • Minum 6–8 gelas air dari waktu berbuka hingga sahur.

  • Makan buah-buahan seperti semangka atau jeruk yang banyak airnya.

  • Hindari minuman berkafein seperti kopi berlebihan.

🍚 Pilih Makanan Sehat

  • Makan nasi merah, ubi, atau oatmeal agar energi tahan lama.

  • Pilih ikan, telur, tahu, atau tempe untuk menjaga kekuatan otot.

  • Makan sayur dan buah agar pencernaan lancar.

🛏 Tidur yang Cukup

  • Tidur 6–8 jam agar tubuh tetap segar.

  • Hindari makan terlalu banyak sebelum tidur.

🚶‍♂️ Tetap Bergerak

  • Jalan santai atau lakukan peregangan ringan agar tubuh tidak kaku.

  • Jika duduk lama, berdiri perlahan agar tidak pusing.

Kesimpulan

Di hari ke-21 hingga ke-25 puasa, tubuh sudah lebih terbiasa dan manfaatnya semakin terasa. Namun, penting untuk tetap memperhatikan pola makan, minum yang cukup, dan beraktivitas ringan agar tetap sehat dan nyaman. Jika merasa terlalu lelah, pusing, atau mengalami gangguan pencernaan yang berkepanjangan, jangan ragu untuk berbuka dan berkonsultasi dengan dokter.




Sumber:

https://www.nature.com/articles/s41598-024-80049-2

https://www.liebertpub.com/doi/10.1089/jicm.2023.0352

https://www.kkh.com.sg/news/medical-news-singhealth/fast-track-to-good-health

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1279770723006498

https://www.emro.who.int/emhj-volume-25-2019/volume-25-issue-4/comparison-of-time-restricted-feeding-and-islamic-fasting-a-scoping-review.html