xmlns:og='http://ogp.me/ns#' LPC- Lansia Preneurship Community: 2025

Tuesday, 30 December 2025

TERBONGKAR! Mengapa Membayangkan Hal Buruk Bisa Bikin Sakit? Ini Ilmuwan Menjelaskan

        Pikiran manusia memiliki kekuatan besar terhadap kesehatan tubuh. Banyak orang tidak sadar bahwa hanya membayangkan sesuatu yang menakutkan, mengkhawatirkan, atau membuat stres dapat memicu gejala fisik nyata. Kondisi ini dikenal dalam dunia kesehatan sebagai psikosomatis, atau gangguan fisik yang muncul karena pikiran dan emosi.

Artikel ini akan membahas penyakit yang dapat ditimbulkan karena pikiran, mekanisme biologisnya, gejala, dan langkah pencegahan.

Pikiran-setiap-orang-berbeda-namun-pikiran-buruk-jadi-penyakit.
(Sumber: foto-grup)

Apa Itu Penyakit karena Pikiran?

Penyakit karena pikiran adalah gangguan kesehatan fisik yang dipicu oleh aktivitas mental negatif, seperti:

  • Berkhayal tentang kejadian buruk

  • Kekhawatiran berlebihan

  • Trauma atau ketakutan

  • Overthinking

  • Cemas berlebih

Otak menafsirkan pikiran negatif sebagai ancaman, lalu memicu reaksi stres berupa peningkatan hormon adrenalin dan kortisol. Jika terjadi terus-menerus, hal ini mengganggu fungsi organ tubuh.

Mekanisme: Bagaimana Pikiran Menjadi Penyakit?

Berikut adalah mekanisme ilmiah, yang dipimpin oleh pelepasan dua "zat beracun" utama:

1. Hormon Stres Utama: Kortisol (Hormon Penghancur Kronis)

Penyebab Sakit: Ketika Anda terus membayangkan hal buruk (stres kronis), kelenjar adrenal akan terus memproduksi Kortisol.

Dampak pada Fisik:

  • Kelelahan Kronis: Tingginya kadar Kortisol dalam jangka panjang dapat mengganggu tidur dan menyebabkan rasa lelah yang signifikan meskipun sudah beristirahat.

  • Gangguan Pencernaan: Kortisol mengalihkan aliran darah dari sistem pencernaan ke otot. Ini melemahkan lapisan pelindung lambung, meningkatkan produksi asam, dan memicu gejala seperti asam lambung naik (GERD), mual, atau diare.

  • Imunitas Menurun: Kortisol kronis menekan sistem kekebalan tubuh, membuat Anda lebih rentan terhadap infeksi, pilek, dan flu.

Berpikir-buruk-menimbulkan-cemas-berlebih
(Sumber: foto-grup)

2. Neurotransmiter Darurat: Adrenalin (Epinefrin)

Penyebab Sakit: Saat pikiran negatif tiba-tiba memuncak (serangan panik atau kecemasan akut), otak melepaskan Adrenalin untuk mempersiapkan tubuh menghadapi bahaya.

Dampak pada Fisik:

  • Jantung Berdebar & Sakit Dada: Adrenalin secara instan meningkatkan detak jantung (palpitasi) dan tekanan darah. Sensasi ini sering disalahartikan sebagai serangan jantung. 
  • Ketegangan Otot & Sakit Kepala: Adrenalin membuat otot tegang. Ketegangan kronis, terutama di leher dan bahu, adalah pemicu langsung munculnya sakit kepala tegang (tension headache).
  • Sesak Napas: Peningkatan laju pernapasan (hiperventilasi) akibat Adrenalin seringkali membuat seseorang merasa sesak napas atau tercekik.

Dengan membayangkan sesuatu yang menakutkan, tubuh bereaksi seperti menghadapi bahaya nyata. Hal ini menimbulkan:

  • Jantung berdebar

  • Pernafasan cepat

  • Otot tegang

  • Peningkatan tekanan darah

  • Penurunan daya tahan tubuh

  • Gangguan pencernaan

Fenomena ini dikenal sebagai fight or flight response.

Keluhan-fisik-akibat-berpikir-buruk-adalah-pusing
(Sumber: foto-grup)

Penyakit yang Bisa Timbul Karena Pikiran

1. Psikosomatis

Keluhan fisik nyata tanpa kerusakan organ. Gejala:

  • Pusing

  • Lemah badan

  • Nyeri dada

  • Kesemutan

  • Sesak napas

  • Mual

2. Gangguan Kecemasan (Anxiety)

Sering muncul saat pikiran membayangkan hal buruk yang belum terjadi.

  • Gelisah

  • Panik

  • Tidak bisa fokus

  • Tidur terganggu

3. Panic Attack

Timbul tiba-tiba, sering disangka serangan jantung.

  • Jantung kencang

  • Nafas cepat

  • Rasa mau pingsan/mati

  • Dada sesak


Dampak-berpikir-buruk-adalah-serangan-panik
(Sumber: foto-grup)

4. Migrain & Sakit Kepala Tegang

Stres membuat otot kepala dan leher tegang → sakit kepala.

5. Gangguan Lambung (GERD & Maag)

Pikiran stres memicu produksi asam lambung berlebih:

  • Perut nyeri

  • Kembung

  • Mual

  • Asam naik ke tenggorokan

6. Hipertensi Sementara

Ketakutan atau pikiran negatif meningkatkan tekanan darah sementara.

7. Penyakit Kulit

Stres mental memperparah:

  • Alergi

  • Eksim

  • Psoriasis

  • Jerawat

8. Gangguan Tidur (Insomnia)

Pikiran yang terus bekerja membuat sulit tidur.

9. Gangguan Pernapasan Psikogenik

Membayangkan bahaya → sesak napas padahal paru normal.

Contoh Nyata Kasus:

Pikiran NegatifDampak pada Tubuh
"Mungkin saya sakit berat"Dada sesak, jantung cepat
"Takut gagal saat presentasi"Keringat dingin, gemetar
"Kalau saya sendirian, nanti kenapa-kenapa"Serangan panik
"Aduh, kayaknya saya kena penyakit mematikan"Cemas, pusing, mual

Cara Mengatasi Penyakit karena Pikiran

1. Teknik Pernapasan

Tarik napas 4 detik – tahan 2 detik – buang 6 detik.

2. Latihan Mindfulness / Dzikir

Fokus pada momen saat ini, lepaskan bayangan buruk.

3. Olahraga Ringan

Berjalan, stretching, yoga, atau wudhu & shalat dapat sangat menenangkan sistem saraf.

4. Pola Tidur Teratur

Kurang tidur memperburuk respon stres.

5. Kurangi Stimulasi Negatif

Hindari berita menakutkan, konten horror, dan toxic social media.

6. Konsultasi Profesional

Psikiater/psikolog bila keluhan mengganggu aktivitas.

Hilangkan-pikiran-buruk -hadapi-masa-depan-dengan-berbaik-sangka
(Sumber: foto-grup)

Tips Pikiran Positif (Proven Psychology)

  • Ganti "Bagaimana kalau buruk?" → "Bagaimana kalau justru baik?"

  • Tulis jurnal syukur harian

  • Afirmasi positif (misal: Saya tenang, tubuh saya sehat, Allah menjaga saya)

Kesimpulan

       Pikiran negatif dapat menciptakan gejala fisik nyata, mulai dari kecemasan, maag, sakit kepala, insomnia, hingga psikosomatis. Mengelola pikiran dengan baik adalah bagian penting dari menjaga kesehatan tubuh dan mental.

Pikiran tenang → tubuh sehat.
Pikiran kacau → tubuh ikut sakit.

Tantangan untuk Anda:

Mari kita pikirkan tentang dunia yang penuh kesenangan,kehidupan yang aman, tentram dan sejahtera! Ceritakan yang Anda rasakan, tulis pada kolam komentar!




Sumber:

  1. Mayo Clinic. Stress symptoms: Effects on your body and behavior.

  2. Harvard Health Publishing. The gut-brain connection.

  3. Cleveland Clinic. Psychosomatic Disorder.

  4. American Psychological Association. Anxiety disorders fact sheet.

  5. National Institute of Mental Health. Panic Disorder Overview.

  6. Harvard Medical School. Mindfulness and your health.



Sunday, 28 December 2025

[HACKING EMOSI] Bukan Cuma Perasaan! Ini Tombol Kimia di Otak yang 'Memaksa' Anda Terus Sedih (Cara STOP Sekarang Juga)

        Kesedihan adalah emosi yang sangat manusiawi. Namun, di balik rasa perih di dada, hilangnya semangat, atau keinginan untuk menyendiri, terdapat proses biologis yang sangat kompleks. Kesedihan bukan sekadar perasaan subjektif—ia adalah respons fisiologis yang melibatkan hormon, perubahan aktivitas otak, dan mekanisme evolusioner yang telah ada sejak manusia awal bertahan hidup di alam liar.

Kesedihan-respons-fisiologis-yang-melibatkan-hormon-dan-perubahan-aktivasi-otak
(Sumber: foto-grup)

Artikel ini membahas dasar biologis kesedihan, perbedaannya dengan depresi klinis, dan intervensi fisik yang terbukti membantu memperbaiki keseimbangan kimia otak.

Pendahuluan 

Mengapa Kita Merasa Sedih?

Kesedihan muncul sebagai respons terhadap kehilangan, kekecewaan, tekanan hidup, atau pengalaman emosional lainnya. Tapi secara biologis, kesedihan tidak terjadi "begitu saja". Ia melibatkan:

  • kerja sama sistem limbik,

  • perubahan kadar neurotransmitter (Serotonin & Dopamin),

  • peningkatan hormon stres (Kortisol),

  • dan aktivasi area otak yang khusus memproses rasa sakit emosional.

Kesedihan bahkan memiliki fungsi evolusioner, seperti mendorong kita untuk beristirahat, meminta dukungan sosial, serta mengevaluasi pengalaman hidup.

Lansia-mengalami-kesedihan-bentuk-respons-terhadap-'kehilangan'
(Sumber: image-ai)

Dengan memahami biologi kesedihan, kita jadi mengerti bahwa emosi ini bukan kelemahan—melainkan bagian dari cara tubuh membantu kita pulih.

Dasar Biologis Kesedihan

1. Serotonin & Dopamin: Kimia Pengatur Mood

Dua neurotransmitter utama yang dipengaruhi saat seseorang sedih:

Serotonin

  • Mengatur mood, tidur, dan stabilitas emosi.

  • Rendahnya Serotonin sering memunculkan:
    ✔ Perasaan sedih mendalam
    ✔ Gelisah atau cemas
    ✔ Gangguan tidur

  • Obat antidepresan (seperti SSRI) bekerja dengan meningkatkan ketersediaan Serotonin.

Dopamin

  • Berperan dalam rasa senang, motivasi, dan reward system.

  • Saat sedih, Dopamin menurun → menyebabkan:
    ✔ Hilang minat
    ✔ Tidak ada energi
    ✔ Sulit merasa bahagia

2. Kortisol: Hormon Stres yang Membebani Otak

Kesedihan, terutama yang berat, memicu peningkatan hormon Kortisol.

  • Akut: Kortisol tinggi mempersiapkan tubuh menghadapi stres.

  • Kronis: Kortisol yang tinggi terus menerus dapat
    ✔ merusak neuron di Hipokampus
    ✔ mengganggu memori
    ✔ memperburuk kesedihan

Inilah sebabnya orang sedih berat sering merasa "bodoh", sulit fokus, atau lupa.

3. Aktivasi Area Otak Saat Sedih

• Amygdala – pusat emosi negatif

Menjadi sangat aktif ketika seseorang mengalami kesedihan atau ketakutan.

• Prefrontal Cortex – pusat kontrol logika & regulasi emosi

Aktivitasnya menurun saat depresi, sehingga sulit “menghentikan” pikiran negatif.

• Anterior Cingulate Cortex (ACC) – pusat rasa sakit emosional

Aktif saat kita merenungi masalah (rumination). Ini menjelaskan mengapa kesedihan terasa berat.

Fungsi Evolusioner Kesedihan

Mengapa Alam Mendesain Kita Untuk Merasa Perih?

Walau menyakitkan, kesedihan memiliki fungsi biologis yang penting:

1. Konservasi Energi

Setelah kehilangan, tubuh “memaksa” kita untuk istirahat.

2. Meminta Dukungan Sosial

Menangis, raut wajah sedih, atau menarik diri adalah sinyal biologis agar orang lain membantu dan memberi perlindungan.

3. Pemrosesan dan Refleksi

Kesedihan membuat kita mengevaluasi pengalaman buruk agar tidak mengulanginya.

Kesedihan adalah mekanisme adaptif, bukan kesalahan biologis.

Kesedihan-mengevaluasi-pengalaman-buruk-agar-tidak-terulang-lagi.
(Sumber: foto-grup)

Kesedihan Normal vs Depresi Klinis

Beda Emosi dan Beda Biologinya

1. Neurotransmitter dan Durasi

Faktor Kesedihan NormalDepresi Klinis
PemicuJelas, terikat waktuTidak jelas atau tidak proporsional
Serotonin & DopaminMenurun sementaraDefisit kronis dan menetap
KortisolNaik sementaraTinggi terus menerus, berdampak toksik
Sistem RewardMasih berfungsiTidak mampu merasakan senang (anhedonia)

2. Perubahan Otak pada Depresi Klinis

Depresi klinis melibatkan perubahan struktural yang bisa diukur:

• Hipokampus mengecil

Akibat paparan Kortisol kronis.

• Amygdala hiperaktif

Memperbesar rasa takut, cemas, dan pikiran negatif.

• Prefrontal Cortex hipoaktif

Menurunkan kemampuan berpikir jernih, merencanakan, dan mengendalikan emosi.

Inilah mengapa depresi bukan sekadar sedih, tetapi gangguan biologis yang memerlukan perawatan serius.

3. Faktor Genetik dan Epigenetik

  • Gen transporter Serotonin tertentu meningkatkan kerentanan depresi.

  • Trauma masa kecil dapat mematikan atau mengaktifkan gen tertentu melalui mekanisme epigenetik.

Depresi lahir dari kombinasi: biologi + pengalaman hidup + stres.

Intervensi Fisik untuk Meredakan Kesedihan (Teruji Ilmiah)

1. Olahraga Teratur

Manfaat biologis:

  • Meningkatkan Dopamin & Endorfin

  • Menurunkan Kortisol

  • Meningkatkan BDNF, yang memperbaiki sel-sel Hipokampus

Jenis olahraga yang efektif:
  • jalan cepat

  • bersepeda santai

  • berenang

  • senam low impact

2. Terapi Cahaya & Paparan Matahari

Manfaat:

  • menstabilkan ritme sirkadian

  • meningkatkan Serotonin

  • ideal dilakukan pagi hari 10–20 menit

Sangat penting untuk orang yang rentan Seasonal Affective Disorder.

3. Aktivasi Otot Wajah (Facial Feedback)

“Senyum palsu” sekalipun dapat:

  • menurunkan stres

  • memicu pelepasan endorfin

  • mengaktifkan area otak pengatur emosi

4. Kontak Fisik & Kehangatan

Pelukan, sentuhan hangat, atau interaksi dengan hewan peliharaan meningkatkan Oksitosin, yang menurunkan Kortisol.

5. Perbaikan Pola Tidur

Tidur sehat membantu:

  • mengatur ulang neurotransmitter

  • meningkatkan ketahanan mental

  • membersihkan "limbah stres" melalui sistem glimfatik

Kesimpulan

Kesedihan adalah reaksi biologis yang kompleks, melibatkan neurotransmitter, hormon, dan struktur otak tertentu. Ia memiliki fungsi adaptif yang penting untuk pemulihan dan evolusi manusia. Namun, ketika kesedihan berubah menjadi depresi klinis, terdapat perubahan biologis yang lebih parah, lebih lama, dan membutuhkan intervensi profesional.

Kabar baiknya, ada banyak intervensi fisik yang mampu memengaruhi biologi otak secara positif: olahraga, cahaya matahari, tidur teratur, kontak sosial, hingga facial feedback. Kombinasi intervensi ini membantu tubuh dan otak pulih lebih cepat, terutama pada kesedihan normal atau depresi ringan hingga sedang.

Kesedihan bukan kelemahan—ia adalah tanda bahwa tubuh sedang berusaha menata ulang diri.

Tantangan untuk Anda:

Kapan Anda sedih, lakukan intervensi fisik untuk meredakan kesedihan ! Tulis di kolam komentar hasil dari intervensi fisik!





Sumber:

  1. Sapolsky, R. M. (2004). Why Zebras Don’t Get Ulcers.

  2. Nestler, E. J., & Hyman, S. E. (2010). "Animal models of neuropsychiatric disorders." Nature Neuroscience.

  3. Duman, R. S., & Aghajanian, G. K. (2012). "Synaptic dysfunction in depression." Biological Psychiatry.

  4. Kendler, K. S. (2013). "What psychiatric genetics has taught us." World Psychiatry.

  5. Porges, S. W. (2011). The Polyvagal Theory.

  6. American Psychiatric Association. (2013). DSM-5: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders.

  7. Cacioppo, J. T., & Patrick, W. (2008). Loneliness: Human Nature and the Need for Social Connection.

  8. Mayo Clinic. Depression: Biological causes and risk factors.

  9. Harvard Health Publishing. (2021). “Exercise and the Brain”.

Saturday, 27 December 2025

KECANDUAN YANG MENYELAMATKAN! Alasan Medis Mengapa Lansia Wajib "Ketagihan" Membaca dan Menulis

Pendahuluan

Fenomena lansia yang sangat gemar membaca atau menulis—bahkan hingga terlihat seperti “ketagihan” atau 'kecanduan' —sering kali disalahpahami sebagai kebiasaan mengisi waktu luang semata. Padahal, dari sudut pandang kesehatan otak dan mental, aktivitas literasi ini merupakan strategi adaptif yang sangat penting bagi lansia untuk menjaga kualitas hidup mereka.

Berbagai penelitian di bidang neurologi, psikologi geriatri, dan kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa membaca dan menulis bukan hanya aktivitas kognitif pasif, melainkan intervensi non-farmakologis yang efektif untuk memperlambat penurunan kognitif, mengurangi depresi, serta menjaga identitas diri pada usia lanjut.

Membaca-menulis jaga kesehatan otak, stabilitas emosional, dan makna hidup
(Sumber: foto-grup)

Artikel ini akan membahas secara ilmiah mengapa membaca dan menulis menjadi kebutuhan mendasar bagi lansia, serta bagaimana aktivitas ini berperan besar dalam menjaga kesehatan otak, emosi, dan makna hidup.

1. Membaca dan Menulis sebagai Upaya Melawan Penurunan Kognitif

Seiring bertambahnya usia, otak manusia mengalami perubahan struktural dan fungsional. Risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan demensia vaskular meningkat akibat berkurangnya plastisitas sinaps dan aliran darah ke otak.

Membaca dan menulis berfungsi sebagai “senam otak” karena:

  • Mengaktifkan berbagai area otak secara simultan (korteks prefrontal, temporal, dan hippocampus)

  • Memperkuat koneksi antar-neuron (sinapsis)

  • Memperlambat proses atrofi otak

Secara biologis, stimulasi ini mirip dengan cara menjaga sel rambut di telinga dalam agar tetap berfungsi optimal: jika jarang digunakan, fungsinya akan menurun lebih cepat. Otak lansia yang aktif secara kognitif terbukti memiliki cadangan kognitif (cognitive reserve) yang lebih baik, sehingga lebih tahan terhadap kerusakan saraf.

Otak-lansia-yang-aktif-secara-kognitif-terbukti-memiliki-cognitive-reserve
(Sumber: foto-grup)

2. Mengatasi Kesepian dan Isolasi Sosial pada Lansia

Kesepian merupakan masalah serius pada populasi lansia, terutama mereka yang:

  • Hidup tanpa anak

  • Tinggal sendiri

  • Minim interaksi sosial rutin

Membaca memberikan kehadiran simbolik melalui cerita, tokoh, dan gagasan, sementara menulis—baik jurnal, catatan harian, maupun memoar—menjadi sarana ekspresi emosional yang aman.

Dari sudut pandang psikologi klinis, aktivitas ini:

  • Membantu regulasi emosi

  • Mengurangi perasaan hampa dan tidak berguna

  • Menurunkan risiko depresi dan kecemasan kronis

Menulis juga berfungsi sebagai bentuk terapi naratif, yang terbukti efektif dalam membantu lansia mengolah pengalaman hidup tanpa harus selalu bergantung pada terapi formal.

3. Perspektif Ekopsikologi: Literasi dan Alam sebagai Kombinasi Penyembuh

Dalam pendekatan ekopsikologi, hubungan manusia dengan alam berperan penting dalam kesehatan mental. Lansia yang membaca atau menulis di lingkungan alami—seperti taman, teras rumah, atau ruang hijau—mendapatkan manfaat ganda:

  1. Stimulasi kognitif dari aktivitas literasi

  2. Efek relaksasi biologis dari paparan alam

Paparan lingkungan hijau terbukti:

  • Menurunkan kadar hormon stres (kortisol)

  • Menstabilkan tekanan darah

  • Meningkatkan suasana hati

Ketika membaca atau menulis dilakukan di ruang terbuka, otak lansia menerima sinyal ketenangan yang memperkuat efek positif dari aktivitas kognitif tersebut.

Lansia-yang-senang-membaca-dan-menulis-berperan-besar-dalam-menjaga-kesehatan-otak
(Sumber: foto-grup)

4. Menulis untuk Menjaga Memori dan Identitas Diri Lansia

Salah satu tantangan psikologis terbesar pada lansia adalah hilangnya rasa identitas akibat pensiun, berkurangnya peran sosial, atau kehilangan pasangan hidup.

Menulis membantu lansia untuk:

a. Merekonstruksi Kenangan

Dengan menuliskan pengalaman masa lalu, lansia mengaktifkan memori episodik dan autobiografis, sehingga kenangan tidak menghilang begitu saja.

b. Memberi Makna pada Kehidupan

Menulis memungkinkan lansia:

  • Menjelaskan pengalaman hidup

  • Menerima kegagalan dan pencapaian

  • Mengurangi penyesalan yang tidak terselesaikan

Proses ini sangat penting untuk menjaga kesehatan mental, mencegah ruminasi negatif, dan mengurangi kecemasan eksistensial yang sering muncul di usia lanjut.

Lansia-yang-menulis-dan-membaca- berdampak-untuk-menjaga-kesehatan-mental
(Sumber: foto-grup)

5. Stimulasi Dopamin: Mengapa Terasa Seperti “Ketagihan”?

Secara neurobiologis, membaca dan menulis memicu pelepasan dopamin, neurotransmiter yang berperan dalam rasa senang, motivasi, dan penghargaan diri.

Dopamin dilepaskan ketika:

  • Lansia memahami informasi baru

  • Menyelesaikan sebuah tulisan

  • Merasa “berhasil” menuangkan ide atau kenangan

Perasaan puas ini menciptakan lingkaran positif, di mana otak mendorong individu untuk mengulangi aktivitas tersebut. Inilah sebabnya membaca dan menulis pada lansia sering tampak seperti “ketagihan”, padahal sejatinya merupakan mekanisme adaptif yang sehat.

Kesimpulan

Kegemaran lansia membaca dan menulis bukanlah kebiasaan sepele, melainkan strategi alami dan ilmiah untuk menjaga kesehatan otak, stabilitas emosional, dan makna hidup. Aktivitas ini terbukti membantu melawan penurunan kognitif, mengatasi kesepian, memperkuat identitas diri, serta menstimulasi sistem penghargaan otak.

Dalam konteks kesehatan lansia modern, membaca dan menulis layak dipandang sebagai intervensi preventif yang murah, aman, dan berdampak besar. Mendukung kebiasaan ini berarti ikut menjaga kualitas hidup lansia secara menyeluruh—fisik, mental, dan psikososial.

Tantangan untuk Anda:

Apakah Anda memilih tema tertentu atau random dalam menulis ? Tuliskan di dalam kolam komentar agar bermanfaat untuk lansia lain !


Artikel lain yang Menarik:




Artikel Inspirasi Lansia

Sumber:

  1. Stern, Y. (2012). Cognitive reserve in ageing and Alzheimer's disease. The Lancet Neurology.

  2. Wilson, R. S., et al. (2013). Cognitive activity and the cognitive morbidity of Alzheimer disease. Neurology.

  3. Pennebaker, J. W., & Chung, C. K. (2011). Expressive writing and its links to mental and physical health. Oxford Handbook of Health Psychology.

  4. Holt-Lunstad, J., et al. (2015). Loneliness and social isolation as risk factors for mortality. Perspectives on Psychological Science.

  5. Bratman, G. N., et al. (2019). Nature and mental health: An ecosystem service perspective. Science Advances.

  6. Erickson, K. I., et al. (2011). Exercise training increases size of hippocampus and improves memory. PNAS.