Pendahuluan
Atrial Fibrillation (AFib) adalah gangguan irama jantung yang paling sering terjadi, terutama pada usia lanjut. Kondisi ini kerap disebut silent killer karena sering tidak menimbulkan gejala jelas, namun secara signifikan meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, dan kematian dini. Banyak penderita baru menyadari keberadaan AFib setelah mengalami komplikasi serius. Oleh karena itu, pemahaman yang tepat mengenai AFib menjadi sangat penting, baik bagi lansia maupun keluarga yang merawatnya.
![]() |
| Gangguan-irama-jantung-dapat-menimpa-tua-muda-terutama-pada-lansia. (Sumber: foto-grup) |
Apa Itu Atrial Fibrillation (AFib)?
Atrial Fibrillation adalah kondisi ketika dua ruang atas jantung (atrium) berdenyut secara tidak teratur dan sangat cepat. Akibatnya, aliran darah dari atrium ke bilik jantung menjadi tidak efisien, sehingga darah dapat menggenang dan membentuk bekuan.
Bekuan darah ini berpotensi lepas dan menyumbat pembuluh darah otak, menyebabkan stroke iskemik.
Seberapa Umum AFib Terjadi?
AFib merupakan gangguan irama jantung paling umum di dunia. Risiko meningkat tajam seiring bertambahnya usia:
-
Usia >60 tahun: risiko meningkat signifikan
-
Usia >80 tahun: hingga 1 dari 10 orang mengalami AFib
Dengan populasi lansia yang terus bertambah, AFib menjadi tantangan kesehatan global.
Penyebab dan Faktor Risiko AFib
AFib tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada berbagai faktor pemicu yang berperan:
1. Faktor Kardiovaskular
-
Hipertensi (tekanan darah tinggi)
-
Penyakit jantung koroner
-
Gagal jantung
-
Penyakit katup jantung
2. Faktor Non-Jantung
-
Diabetes mellitus
-
Obesitas
-
Gangguan tiroid (hipertiroid)
-
Sleep apnea
-
Konsumsi alkohol berlebihan
-
Penuaan alami jaringan jantung
-
Stres kronis
-
Kurang aktivitas fisik
Gejala AFib: Mengapa Sering Tidak Disadari?
AFib dapat muncul dengan atau tanpa gejala. Inilah yang membuatnya berbahaya.
![]() |
| Jantung-berdebar-tidak-teratur-dan-mudah-lelah (Sumber: foto-grup) |
Gejala yang Mungkin Dirasakan
-
Jantung berdebar tidak teratur
-
Mudah lelah
-
Sesak napas
-
Pusing atau hampir pingsan
-
Nyeri dada
AFib Tanpa Gejala (Silent AFib)
Sekitar 30–40% penderita AFib tidak merasakan gejala apa pun, namun tetap memiliki risiko stroke yang sama tingginya. Mengapa AFib Sangat Berbahaya?
1. Risiko Stroke
AFib meningkatkan risiko stroke hingga 5 kali lipat. Stroke akibat AFib cenderung lebih berat dan mematikan.
2. Gagal Jantung
Irama jantung yang kacau membuat jantung bekerja tidak efisien, memicu penurunan fungsi pompa jantung.
3. Penurunan Kualitas Hidup
Kelelahan kronis, kecemasan, dan keterbatasan aktivitas sering dialami penderita AFib.
Bagaimana AFib Didiagnosis?
Diagnosis AFib memerlukan pemeriksaan medis, antara lain:
-
Elektrokardiogram (EKG): standar emas diagnosis AFib
-
Holter monitor (24–48 jam) untuk AFib yang muncul hilang-timbul
-
Ekokardiografi untuk menilai struktur jantung
-
Tes darah untuk mengevaluasi penyebab pemicu
![]() |
| Perbandingan-Grafik-Afib-dan- grafik-normal (Sumber: imagi-ai) |
![]() |
| Ilustrasi-grafik-jantung-normal-(warna hitam)-dan grafik-jantung-AFib-(warna kuning) (Sumber: image-ai) |
Penanganan AFib: Dari Obat hingga Perubahan Gaya Hidup
Penanganan AFib bersifat individual, tergantung usia, gejala, dan risiko komplikasi.
1. Terapi Medis
-
Pengontrol denyut jantung (beta blocker, calcium channel blocker)
-
Pengontrol irama jantung (antiaritmia)
-
Antikoagulan (pengencer darah) untuk mencegah stroke
2. Tindakan Medis
-
Kardioversi listrik
-
Ablasi kateter
-
Pemasangan alat pacu jantung (pada kasus tertentu)
3. Pendekatan Gaya Hidup (Pengalaman Klinis & Preventif)
Berdasarkan pengalaman klinis dan studi populasi:
-
Menurunkan tekanan darah
-
Olahraga ringan teratur (jalan kaki, tai chi)
-
Mengelola stres
-
Tidur cukup dan berkualitas
-
Mengurangi konsumsi garam dan alkohol
![]() |
| Gaya hidup lansia: tidur cukup dan berkualitas serta rajin jalan kaki (Sumber: foto-grup) |
AFib pada Lansia: Tantangan Khusus
Pada lansia, AFib sering disertai penyakit lain (multimorbiditas). Oleh karena itu:
-
Pemantauan rutin sangat penting
-
Penggunaan obat harus hati-hati
-
Edukasi keluarga menjadi kunci pencegahan komplikasi
Pendekatan holistik—medis, psikologis, dan sosial—memberikan hasil terbaik.
Penutup
Atrial Fibrillation (AFib) bukan sekadar gangguan irama jantung biasa, melainkan kondisi serius yang dapat berujung pada stroke dan kematian jika tidak terdeteksi dan ditangani dengan tepat. Karena sering muncul tanpa gejala, pemeriksaan rutin dan kesadaran kesehatan menjadi kunci utama, terutama pada usia lanjut.
Dengan diagnosis dini, pengobatan yang tepat, serta perubahan gaya hidup sehat, penderita AFib tetap dapat menjalani hidup yang aktif, aman, dan bermakna.
Artikel lain yang Menarik:
Artikel Inspirasi Lansia
Sumber:
-
January CT, et al. 2019 AHA/ACC/HRS Guideline for the Management of Atrial Fibrillation. Circulation.
-
Hindricks G, et al. ESC Guidelines for the diagnosis and management of atrial fibrillation. European Heart Journal, 2020.
-
Chugh SS, et al. Worldwide epidemiology of atrial fibrillation. Circulation, 2014.
-
Kirchhof P, et al. Early rhythm-control therapy in patients with atrial fibrillation. New England Journal of Medicine, 2020.
-
World Health Organization. Cardiovascular Diseases Fact Sheet.








.webp)
No comments:
Post a Comment