Pendahuluan
Bayangkan Anda terbangun pada tengah malam, lalu mendapati ayah, ibu, atau pasangan yang sudah lanjut usia sedang berdiri di ruang tamu dengan tatapan kosong. Mereka berjalan perlahan menuju dapur, membuka lemari, bahkan mencoba membuka pintu rumah. Saat dipanggil, mereka tampak tidak benar-benar sadar. Anehnya, keesokan paginya mereka sama sekali tidak mengingat kejadian tersebut.
Bagi sebagian keluarga, peristiwa ini mungkin dianggap sekadar mimpi, kebiasaan tidur yang unik, atau akibat terlalu lelah. Namun, pada lansia, berjalan saat tidur (sleepwalking atau somnambulisme) bukanlah kondisi yang boleh dianggap sepele.
Sleepwalking memang lebih sering terjadi pada anak-anak dan umumnya akan berkurang seiring bertambahnya usia. Sebaliknya, kemunculan sleepwalking yang baru terjadi pada usia lanjut lebih sering dikaitkan dengan kondisi medis tertentu, seperti efek samping obat-obatan, gangguan tidur, penyakit neurologis, hingga gangguan pernapasan saat tidur (sleep apnea).
![]() |
| Sleepwalking pada lansia membawa risiko jatuh. (Sumber: foto grup) |
Selain menunjukkan kemungkinan adanya masalah kesehatan, sleepwalking pada lansia juga membawa risiko yang jauh lebih besar dibandingkan pada usia muda. Penurunan keseimbangan, kekuatan otot, dan kepadatan tulang membuat lansia lebih rentan mengalami jatuh, patah tulang, cedera kepala, bahkan komplikasi yang dapat mengancam jiwa.
Kabar baiknya, banyak penyebab sleepwalking pada lansia dapat dikenali dan ditangani apabila keluarga segera mencari pertolongan medis dan melakukan langkah-langkah pencegahan yang tepat di rumah.
Apa Itu Sleepwalking?
Sleepwalking atau somnambulisme adalah gangguan tidur ketika seseorang melakukan aktivitas saat masih berada dalam fase tidur sebagian (partial arousal), biasanya pada fase tidur non-REM.
Selama episode berlangsung, seseorang dapat tampak terjaga karena matanya terbuka, tetapi sebenarnya kesadarannya belum pulih sepenuhnya.
Tabel 1. Aktivitas Sleepwalking
| Aktivitas | Penjelasan |
|---|---|
| Duduk di tempat tidur | Tampak bingung atau melamun. |
| Berjalan di dalam rumah | Tanpa tujuan yang jelas. |
| Membuka pintu atau lemari | Dilakukan tanpa sadar. |
| Berbicara | Biasanya tidak jelas atau tidak sesuai konteks. |
| Memindahkan barang | Aktivitas sederhana tetapi tidak disadari. |
| Keluar rumah | Dapat terjadi pada kasus tertentu dan sangat berbahaya. |
Teropong Mental:
Biologis-Psikologis-Lingkungan sumber gangguan mental
Memahami ketiga pilar utama ini membantu kita mengidentifikasi risiko dan langkah penanganan yang tepat.
Baca artikel →Mengapa Sleepwalking pada Lansia Tidak Boleh Dianggap Normal?
Berbeda dengan anak-anak, sleepwalking yang baru muncul pada usia lanjut lebih sering berhubungan dengan gangguan kesehatan yang mendasarinya.
Tabel 2. Penyebab Sleepwalking pada Lansia
| Penyebab | Mengapa Dapat Menyebabkan Sleepwalking? |
|---|---|
| Efek samping obat | Mengganggu mekanisme tidur normal. |
| Sleep apnea | Menyebabkan tidur terputus dan kekurangan oksigen. |
| Penyakit neurologis | Mengganggu pusat pengatur tidur di otak. |
| Kurang tidur | Memicu gangguan transisi antara tidur dan bangun. |
| Stres atau kecemasan | Memengaruhi kualitas tidur. |
| Demam atau penyakit akut | Pada sebagian kasus dapat memicu episode sleepwalking. |
Penyebab yang Paling Sering Ditemukan
1. Efek Samping Obat
Lansia sering mengonsumsi beberapa obat sekaligus (polypharmacy).
Beberapa obat yang diketahui dapat meningkatkan risiko perilaku tidur yang kompleks meliputi:
- obat tidur,
- obat penenang,
- obat anti-kecemasan,
- beberapa antidepresan,
- obat yang bekerja pada sistem saraf pusat.
Jangan menghentikan obat sendiri tanpa berkonsultasi dengan dokter.
2. Gangguan Neurodegeneratif
Beberapa penyakit pada sistem saraf dapat memengaruhi pusat pengatur tidur.
Contohnya:
- Penyakit Parkinson
- Demensia dengan badan Lewy (Lewy body dementia)
- Penyakit neurodegeneratif lainnya
Pada sebagian kasus, gangguan perilaku saat tidur dapat muncul bertahun-tahun sebelum gejala utama penyakit terlihat.
3. Sleep Apnea
Sleep apnea menyebabkan napas berhenti berulang kali saat tidur sehingga kadar oksigen dalam darah menurun.
Akibatnya, otak berulang kali "membangunkan" tubuh untuk kembali bernapas.
Hal ini dapat memicu:
- tidur gelisah,
- sering terbangun,
- kebingungan saat malam,
- perilaku seperti sleepwalking.
| Gejala | Ya / Tidak |
|---|---|
| Mendengkur keras | ☐ |
| Napas berhenti saat tidur | ☐ |
| Tersedak saat tidur | ☐ |
| Mengantuk berlebihan di siang hari | ☐ |
| Sakit kepala saat bangun | ☐ |
| Sulit berkonsentrasi | ☐ |
4. Kurang Tidur dan Stres
Gangguan tidur kronis akibat:
- nyeri,
- kecemasan,
- depresi,
- kesepian,
- perubahan jadwal tidur,
dapat meningkatkan risiko gangguan perilaku saat tidur.
Bahaya Sleepwalking pada Lansia
| Risiko | Dampaknya |
|---|---|
| Jatuh | Cedera serius. |
| Patah tulang | Memerlukan operasi. |
| Cedera kepala | Dapat mengancam jiwa. |
| Keluar rumah | Berisiko tersesat atau mengalami kecelakaan. |
| Menabrak furnitur | Menyebabkan luka atau memar. |
| Menggunakan benda berbahaya | Dapat menyebabkan cedera pada diri sendiri. |
Checklist: Apakah Sleepwalking Perlu Diwaspadai?
| Pertanyaan | Ya | Tidak |
|---|---|---|
| Sleepwalking baru muncul setelah usia 60 tahun | ☐ | ☐ |
| Kejadiannya semakin sering | ☐ | ☐ |
| Pernah hampir jatuh saat episode | ☐ | ☐ |
| Mengonsumsi obat tidur atau obat penenang | ☐ | ☐ |
| Mendengkur keras setiap malam | ☐ | ☐ |
| Ada henti napas saat tidur | ☐ | ☐ |
| Mengalami perubahan daya ingat | ☐ | ☐ |
| Ada perubahan perilaku | ☐ | ☐ |
Interpretasi
- 0–2 Ya ➡️ Tetap lakukan observasi dan catat setiap kejadian.
- 3–4 Ya ➡️ Jadwalkan konsultasi dengan dokter.
- ≥5 Ya ➡️ Sebaiknya segera dilakukan evaluasi medis karena kemungkinan terdapat gangguan tidur atau penyakit yang mendasari.
