Pendahuluan
“Kok Baru Sakit Beberapa Hari Sudah Lemas Banget?”
Banyak keluarga terkejut ketika melihat orang tua mereka menjadi sangat lemah hanya setelah beberapa hari sakit.
Awalnya mungkin hanya flu, demam, atau infeksi ringan. Nafsu makan menurun, pasien lebih banyak tidur, dan keluarga berpikir:
“Tidak apa-apa, nanti kalau sudah sembuh juga makan lagi.”
Namun beberapa hari kemudian, lansia mulai sulit berdiri, langkahnya goyah, paha tampak mengecil, dan tenaga terasa hilang.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Jawabannya cukup mengejutkan: tubuh bisa mulai memecah ototnya sendiri untuk dijadikan sumber energi ketika asupan kalori dan protein tidak mencukupi.
Fenomena ini bukan mitos. Dalam dunia medis disebut katabolisme otot atau muscle wasting, dan kondisi ini sangat sering terjadi pada pasien sakit, terutama lansia.
Masalahnya, kehilangan otot pada usia lanjut tidak selalu mudah dipulihkan. Bahkan setelah penyakitnya sembuh, banyak lansia tetap merasa lemas selama berminggu-minggu karena cadangan ototnya sudah berkurang.
![]() |
| Lansia yang sakit sering kehilangan otot sehingga tetap merasa lemas. (Sumber: foto-grup) |
Artikel ini akan menjelaskan bagaimana tubuh “memakan” otot sendiri, mengapa hal itu bisa terjadi, tanda-tanda yang harus diwaspadai, dan langkah praktis untuk mencegahnya.
| ⏱ Ringkasan 30 Detik |
|---|
| Saat kalori dan protein kurang, tubuh akan mencari sumber energi lain. |
| Setelah cadangan gula habis, tubuh mulai memecah lemak dan otot. |
| Lansia lebih cepat kehilangan otot dibanding usia muda. |
| Tanda bahaya: paha mengecil, sulit bangun dari kursi, cepat lelah, dan berat badan turun. |
| Pencegahan terbaik: makan cukup kalori, protein tinggi, cairan cukup, dan tetap bergerak ringan. |
|
Pesan utama: Jangan biarkan lansia "puasa makan" terlalu lama saat sakit—otot bisa hilang lebih cepat daripada yang kita kira. |
Teropong Mental:
Biologis-Psikologis-Lingkungan sumber gangguan mental
Memahami ketiga pilar utama ini membantu kita mengidentifikasi risiko dan langkah penanganan yang tepat.
Baca artikel →Benarkah Tubuh Bisa Memakan Otot Sendiri?
Fakta: YA
Tubuh manusia memiliki beberapa sumber energi:
Glikogen (cadangan gula di hati dan otot)
Lemak
Protein otot
Saat asupan makanan berkurang, tubuh akan menggunakan cadangan tersebut secara bertahap.
Urutan penggunaan energi
| Tahap Perubahan Sumber Energi Tubuh | |
|---|---|
| Tahap | Sumber Energi Utama |
| 0–24 jam | Glikogen |
| 1–3 hari | Lemak mulai meningkat |
| >3 hari atau sakit berat | Protein otot ikut dipecah |
Jika seseorang makan sangat sedikit selama beberapa hari, tubuh akan beralih menggunakan cadangan energi. Setelah glikogen habis dan penggunaan lemak meningkat, tubuh mulai mengambil asam amino dari otot untuk diubah menjadi energi dan sebagai bahan pembentuk glukosa. Inilah sebabnya massa otot dapat berkurang, terutama pada lansia atau orang yang sedang mengalami sakit berat.
Bagaimana Otot Diubah Menjadi Energi?
Ketika tubuh kekurangan energi, protein otot dipecah menjadi asam amino. Sebagian asam amino dikirim ke hati untuk diubah menjadi glukosa melalui proses glukoneogenesis.
Lemak dipecah melalui beta oksidasi untuk menghasilkan asetil-KoA dan ATP. Namun pada kondisi kekurangan energi berkepanjangan, tubuh juga meningkatkan pemecahan protein otot agar asam amino dapat dipakai hati untuk membuat glukosa (glukoneogenesis).
Tujuannya adalah menjaga organ penting seperti otak, jantung, dan ginjal tetap mendapatkan energi.
Masalahnya, semakin banyak otot yang dipecah, semakin lemah tubuh kita.
Mengapa Lansia Lebih Cepat Kehilangan Otot?
Pada usia lanjut, massa otot memang sudah mulai berkurang secara alami (sarkopenia).
Akibatnya:
cadangan otot lebih sedikit,
pembentukan otot baru lebih lambat,
nafsu makan sering menurun,
dan aktivitas fisik berkurang saat sakit.
Perbandingan kehilangan otot
| Risiko Kehilangan Otot Berdasarkan Kondisi | |
|---|---|
| Kondisi | Risiko Kehilangan Otot |
| Orang muda sehat | Rendah |
| Lansia sehat | Sedang |
| Lansia sakit + kurang makan | Sangat tinggi |
| Lansia tirah baring > 5 hari | Ekstrem |
Penelitian menunjukkan bahwa tirah baring selama beberapa hari saja pada lansia dapat menyebabkan penurunan massa dan kekuatan otot yang bermakna. Risiko ini semakin besar jika disertai asupan kalori dan protein yang tidak mencukupi, sehingga pemulihan menjadi lebih lama.
Tanda-Tanda Tubuh Sedang “Memakan” Otot
| Checklist Kehilangan Otot | |
|---|---|
| ✓ | Checklist yang Perlu Diperhatikan |
| ☐ | Berat badan turun dalam beberapa hari. |
| ☐ | Paha tampak mengecil. |
| ☐ | Lengan lebih kurus dari biasanya. |
| ☐ | Sulit bangun dari kursi. |
| ☐ | Tidak kuat naik tangga. |
| ☐ | Cepat lelah saat berjalan. |
| ☐ | Pegangan tangan terasa lemah. |
| ☐ | Lebih sering ingin berbaring. |
Apabila terdapat 3 tanda atau lebih, kemungkinan sudah terjadi penurunan massa dan kekuatan otot. Kondisi ini sebaiknya segera dievaluasi oleh tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat diketahui dan penanganan, seperti perbaikan nutrisi serta latihan fisik yang sesuai, dapat dimulai sedini mungkin.
Kenapa Setelah Sembuh Masih Lemas?
Banyak pasien berkata:
“Demamnya sudah hilang, tapi badan masih tidak ada tenaga.”
Sering kali penyebabnya bukan infeksinya lagi, melainkan kehilangan otot dan cadangan energi selama sakit.
Yang hilang saat sakit
massa otot,
kekuatan otot,
cadangan protein,
dan kebugaran tubuh.
Memulihkan otot bisa memerlukan minggu hingga bulan, terutama pada lansia.
Berapa Banyak Protein yang Dibutuhkan?
| Kebutuhan Protein Lansia | |
|---|---|
| Kondisi | Protein (g/kgBB/hari) |
| Lansia sehat | 1,0–1,2 |
| Sakit ringan | 1,2–1,5 |
| Infeksi / operasi | 1,5–2,0 |
Kebutuhan protein pada lansia umumnya lebih tinggi dibandingkan orang dewasa muda untuk membantu mempertahankan massa otot, mempercepat pemulihan, dan mendukung sistem kekebalan tubuh. Pada kondisi infeksi, setelah operasi, atau penyakit berat, kebutuhan protein dapat meningkat sesuai anjuran dokter atau ahli gizi.
Contoh
Lansia 60 kg yang sedang sakit membutuhkan sekitar:
60 × 1,5 = 90 gram protein per hari
Sumber protein terbaik:
telur,
ikan,
ayam,
tahu,
tempe,
susu tinggi protein,
yogurt,
dan kacang-kacangan.
Mitos vs Fakta
| Mitos vs Fakta Kehilangan Otot pada Lansia | |
|---|---|
| ❌ Mitos | ✅ Fakta |
| Kalau tidak makan beberapa hari tidak masalah. | Tubuh dapat mulai memecah otot sebagai sumber energi ketika cadangan energi menurun. |
| Yang penting minum vitamin. | Vitamin tidak dapat menggantikan kalori dan protein yang dibutuhkan tubuh untuk mempertahankan massa otot. |
| Lansia memang wajar lemas setelah sakit. | Kelemahan yang berlangsung lama dapat menjadi tanda kehilangan massa dan kekuatan otot, sehingga perlu dievaluasi. |
| Tidur terus akan menghemat energi tubuh. | Tirah baring terlalu lama justru mempercepat penyusutan otot dan menurunkan kemampuan bergerak. |
Pada lansia, kombinasi asupan makanan yang cukup, protein berkualitas, aktivitas fisik ringan sesuai kemampuan, dan penanganan penyakit yang tepat merupakan cara terbaik untuk membantu mempertahankan massa otot dan mempercepat pemulihan setelah sakit.
Flowchart: Apakah Sudah Terjadi Kehilangan Otot?
| Alur Penilaian Risiko Kehilangan Otot pada Lansia yang Sedang Sakit |
|---|
| Lansia sedang sakit |
| ↓ |
| Apakah makan kurang dari setengah porsi selama > 2 hari? |
| ↓ |
| TIDAK Lanjutkan makan bergizi dan tetap lakukan aktivitas fisik ringan sesuai kemampuan. |
| YA Risiko katabolisme (pemecahan) otot meningkat. |
| ↓ |
| Apakah terdapat paha mengecil, sulit berdiri, atau berat badan turun? |
| ↓ |
| KONSULTASI DOKTER / AHLI GIZI |
Cara Mencegah Kehilangan Otot Saat Sakit
1. Makan sedikit tetapi sering
Targetkan 5–6 kali makan kecil per hari.
2. Utamakan protein di setiap makan
Contoh:
telur saat sarapan,
ikan atau ayam saat makan siang,
tahu/tempe saat makan malam,
susu tinggi protein sebagai selingan.
3. Cukupi kalori
Tambahkan:
alpukat,
minyak zaitun,
santan secukupnya,
kacang-kacangan,
atau bubur yang diperkaya telur dan ayam.
4. Jangan tirah baring total jika tidak perlu
Lakukan gerakan ringan seperti:
duduk di kursi,
berdiri beberapa menit,
jalan di kamar,
atau latihan kaki sederhana.
Telisik Organ Tubuh:
Otak-Jantung-Hati-Ginjal-Paru-paru mutlak untuk bertahan hidup
Memahami cara kerjanya,kita dapat lebih menghargai tubuh dan membangun kebiasaan hidup sehat.
Baca artikel →Contoh Kasus
Pak Rahmat, 78 Tahun
Pak Rahmat mengalami pneumonia ringan dan dirawat di rumah selama seminggu. Karena tidak nafsu makan, beliau hanya minum teh dan makan beberapa sendok bubur setiap hari.
Dalam 6 hari:
berat badan turun 3 kg,
paha tampak mengecil,
dan beliau tidak kuat berdiri tanpa bantuan.
Dokter menjelaskan bahwa tubuhnya mengalami katabolisme otot akibat kekurangan energi dan protein.
Setelah diberikan:
makan 6 kali sehari,
telur 2 butir per hari,
ikan setiap makan utama,
susu tinggi protein,
dan latihan berdiri ringan,
kekuatannya mulai membaik dalam 3 minggu.
Pelajaran penting: otot bisa hilang sangat cepat saat sakit, tetapi pemulihannya jauh lebih lama.
class="duPRdW_Divider" data-w-component="divider">🚨 Kapan Harus Segera ke Dokter?
Segera periksa jika lansia:
Tanda bahaya
Tidak mau makan atau minum lebih dari 24 jam.
Berat badan turun cepat.
Tidak bisa bangun dari tempat tidur atau kursi.
Sering jatuh atau hampir jatuh.
Sesak napas atau napas cepat.
Kebingungan atau mengantuk berlebihan.
Tanda dehidrasi (mulut kering, urine sangat sedikit, atau pusing saat berdiri).
Misteri Kesehatan lansia:
Kejadian Aneh pada lansia Mulai Terkuak Secara Medis
Memahami peristiwa agar kita bijak bersikap dan bertindak untuk orang tua atau lansia sesuai medis
Baca artikel →FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
Apakah otot benar-benar bisa habis karena tidak makan?
Tidak habis total, tetapi tubuh memang bisa memecah sebagian protein otot untuk dijadikan energi dan bahan pembentuk glukosa.
Berapa lama tubuh mulai memecah otot?
Biasanya setelah cadangan glikogen menurun (sekitar 24 jam) dan asupan energi tetap tidak mencukupi, pemecahan otot mulai meningkat.
Apakah lemak tidak cukup sebagai sumber energi?
Lemak membantu, tetapi tubuh tetap membutuhkan asam amino dari protein untuk fungsi tertentu, termasuk pembentukan glukosa dan antibodi.
Apakah minum susu saja sudah cukup?
Susu tinggi protein bisa membantu sementara, tetapi tetap lebih baik jika dikombinasikan dengan makanan lain agar gizinya lebih lengkap.
Apakah olahraga saat sakit berbahaya?
Saat demam tinggi atau infeksi berat, fokus pada istirahat. Namun setelah kondisi stabil, gerakan ringan justru membantu mencegah penyusutan otot.
Ringkasan Poin Penting
| Ringkasan Poin Penting |
|---|
| 1Tubuh dapat memecah otot sendiri ketika kekurangan energi dan protein. |
| 2Lansia kehilangan massa otot lebih cepat dibandingkan usia muda. |
| 3Kehilangan otot dapat menyebabkan tubuh lemas, sulit berjalan, dan meningkatkan risiko jatuh. |
| 4Perhatikan tanda-tanda penting seperti paha mengecil, berat badan turun, dan sulit bangun dari kursi. |
| 5Asupan protein dan kalori yang cukup merupakan kunci utama mencegah katabolisme otot. |
| 6Porsi makan sedikit tetapi lebih sering biasanya lebih efektif daripada memaksa makan dalam jumlah besar sekaligus. |
| 7Aktivitas fisik ringan sesuai kemampuan membantu mempertahankan kekuatan otot selama masa pemulihan. |
Semakin lama lansia kekurangan kalori, protein, dan aktivitas fisik, semakin besar risiko kehilangan massa otot. Penanganan sejak dini melalui nutrisi yang cukup, gerak ringan, dan konsultasi dengan tenaga kesehatan bila diperlukan dapat membantu mempertahankan kemandirian serta mempercepat proses pemulihan.
Penutup
Fakta bahwa tubuh bisa “memakan” ototnya sendiri saat kekurangan energi memang terdengar menakutkan, tetapi itulah salah satu mekanisme bertahan hidup manusia. Saat makanan tidak cukup, tubuh akan berusaha menjaga organ-organ penting tetap bekerja dengan mengambil cadangan energi dari lemak dan protein otot.
Pada lansia, proses ini bisa terjadi lebih cepat dan dampaknya lebih besar. Karena itu, hilangnya nafsu makan saat sakit tidak boleh dianggap sepele.
Pastikan orang tua tetap mendapatkan:
kalori yang cukup untuk energi,
protein yang cukup untuk mempertahankan otot,
cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi,
dan gerakan ringan agar otot tidak cepat menyusut.
Ingat: penyakit mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi kehilangan otot bisa membuat lansia lemah selama berbulan-bulan. Menjaga asupan makan saat sakit adalah investasi penting untuk mempertahankan kemandirian dan kualitas hidup di usia lanjut.
#lpclansia
Tonton info singkat kesehatan lansia. Kenali tanda penyakit sebelum terlambat.
#KesehatanLansia
Jangan lewatkan info kesehatan lansia agar lebih cepat memahami gejala tubuh.
#TipsLansiaSehat
Pelajari perubahan organ tubuh lansia dengan penjelasan yang mudah dipahami.
Jelajahi LPC Lansia
Artikel Populer
Sumber
Volkert D, Beck AM, Cederholm T, et al. ESPEN guideline on clinical nutrition and hydration in geriatrics. Clinical Nutrition. 2019;38(1):10–47.
Cederholm T, Jensen GL, Correia MITD, et al. GLIM criteria for the diagnosis of malnutrition. Clinical Nutrition. 2019;38(1):1–9.
Deutz NEP, Bauer JM, Barazzoni R, et al. Protein intake and exercise for optimal muscle function with aging. Clinical Nutrition. 2014;33(6):929–936.
McClave SA, Taylor BE, Martindale RG, et al. Guidelines for nutrition support therapy in critically ill adults. JPEN. 2016;40(2):159–211.
Hall JE. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. 14th ed. Elsevier; 2021.
Longo DL, Fauci AS, Kasper DL, et al., editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 21st ed. McGraw-Hill; 2022.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelayanan Gizi pada Lansia. Jakarta: Kemenkes RI; 2020.
World Health Organization (WHO). Nutrition for Older Persons. Geneva: WHO; 2021.

.webp)