Pendahuluan
Benarkah Ada Penyakit Lansia yang Sampai Sekarang Masih “Misterius”?
Ketika seorang lansia mengalami lupa yang semakin berat, tremor, gangguan berjalan, perubahan perilaku, halusinasi, kelemahan otot, atau gangguan koordinasi, keluarga sering bertanya:
“Sebenarnya penyakit apa ini?”
Pertanyaan tersebut sangat wajar.
Dunia kedokteran telah berkembang luar biasa. Pemeriksaan MRI, PET scan, pemeriksaan genetik, biomarker darah, pemeriksaan cairan otak, hingga teknologi pencitraan molekuler membuat dokter mampu mengenali banyak penyakit yang dahulu sulit dibedakan.
Namun, mampu mendiagnosis penyakit tidak selalu berarti sudah memiliki obat penyembuh.
Beberapa penyakit memiliki penyebab yang sangat kompleks. Ada yang melibatkan protein abnormal di otak, kerusakan neuron yang sulit dipulihkan, faktor genetik, gangguan sistem imun, atau kombinasi berbagai proses biologis.
![]() |
| Beberapa penyakit pada lansia memiliki penyebab yang kompleks. (Sumber: foto grup) |
WHO menyebut beban penyakit neurologis sangat besar secara global, dan populasi yang menua ikut mendorong meningkatnya gangguan neurologis seperti Parkinson dan demensia.
Karena itu, istilah “belum ada cure” sebaiknya tidak diterjemahkan sebagai:
“Tidak ada pengobatan.”
Yang lebih tepat:
Belum ada terapi yang terbukti dapat menghilangkan penyebab penyakit dan mengembalikan kondisi tubuh seperti sebelum penyakit terjadi.
Banyak pasien tetap dapat memperoleh obat untuk mengendalikan gejala, rehabilitasi, terapi suportif, dan pada beberapa penyakit bahkan terapi yang dapat memperlambat proses penyakit.
⚡Ringkasan 30 Detik
Ringkasan 30 Detik
Jika Anda hanya punya waktu 30 detik, ingat 7 hal berikut:
| 1 | Tidak semua penyakit yang belum punya cure adalah penyakit misterius. |
| 2 | Banyak penyakit sebenarnya sudah dapat didiagnosis, tetapi mekanismenya masih terus diteliti. |
| 3 | Alzheimer, Parkinson, Lewy body dementia, FTD, PSP, MSA, ALS, Huntington, multiple sclerosis, dan spinocerebellar ataxia termasuk kondisi yang masih menjadi fokus penelitian. |
| 4 | “Tidak ada cure” bukan berarti “tidak ada pengobatan”. |
| 5 | Obat dapat membantu mengendalikan gejala pada banyak kondisi. |
| 6 | Rehabilitasi, nutrisi, pencegahan jatuh, terapi bicara, latihan fisik, dan dukungan caregiver juga sangat penting. |
| 7 | Gejala baru seperti kelemahan mendadak, gangguan bicara, kejang, penurunan kesadaran, atau sesak berat membutuhkan pertolongan medis segera. |
🎬🍿Ringkasan Versi Video
10 PENYAKIT/KONDISI YANG MASIH MENJADI TANTANGAN BESAR DALAM DUNIA KEDOKTERAN
| No | Kondisi | Masalah utama | Apakah sudah ada cure? | Apa yang dapat dilakukan? |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Alzheimer | Kerusakan neuron dan gangguan memori | Belum | Terapi gejala dan terapi tertentu pada tahap awal untuk pasien yang memenuhi kriteria |
| 2 | Parkinson | Degenerasi neuron penghasil dopamin | Belum | Obat, rehabilitasi, terapi lanjutan tertentu |
| 3 | Lewy Body Dementia | Gangguan kognitif + gerak + tidur + persepsi | Belum | Pengendalian gejala dan perawatan multidisiplin |
| 4 | Frontotemporal Dementia | Perubahan perilaku, bahasa dan fungsi frontal/temporal | Belum | Terapi suportif dan pengelolaan gejala |
| 5 | Progressive Supranuclear Palsy (PSP) | Gangguan gerak, keseimbangan dan gerakan mata | Belum | Terapi simptomatik dan rehabilitasi |
| 6 | Multiple System Atrophy (MSA) | Gangguan gerak dan sistem saraf otonom | Belum | Pengendalian gejala dan rehabilitasi |
| 7 | ALS | Kerusakan neuron motorik progresif | Belum | Obat tertentu, dukungan napas, nutrisi dan rehabilitasi |
| 8 | Huntington | Penyakit neurodegeneratif akibat mutasi gen | Belum | Pengendalian gejala dan dukungan multidisiplin |
| 9 | Multiple Sclerosis | Sistem imun menyerang sistem saraf pusat | Belum | Disease-modifying therapy pada tipe tertentu dan rehabilitasi |
| 10 | Spinocerebellar Ataxia | Gangguan koordinasi akibat kelainan genetik pada sebagian tipe | Umumnya belum | Terapi gejala, rehabilitasi dan konseling genetik |
Catatan penting: daftar ini bukan berarti semua penyakit tersebut selalu pertama kali muncul pada lansia. Beberapa dapat dimulai pada usia lebih muda dan kemudian menetap hingga usia lanjut.
![]() |
| Ilustrasi Penelitian penyakit otak Alzheimer masih terus dilakukan. (Sumber: image ai) |
1. ALZHEIMER: BUKAN SEKADAR “PELUPA KARENA TUA”
Penyakit Alzheimer merupakan salah satu bentuk demensia yang paling dikenal.
Masalahnya jauh lebih kompleks daripada sekadar lupa.
Pada penyakit ini terjadi perubahan biologis di otak, termasuk akumulasi protein seperti amyloid beta dan tau, yang berhubungan dengan kerusakan neuron dan jaringan koneksinya.
Mengapa masih sulit disembuhkan?
Otak memiliki jaringan neuron yang sangat kompleks. Ketika neuron dan koneksi antar-neuron mengalami kerusakan progresif, menggantikannya bukan seperti mengganti komponen mesin.
Saat ini belum tersedia obat yang dapat menyembuhkan Alzheimer secara total.
Namun, perkembangan terapi sudah signifikan.
Beberapa terapi anti-amyloid telah disetujui untuk pasien Alzheimer tertentu pada tahap awal. FDA telah menyetujui lecanemab dan donanemab untuk populasi pasien tertentu, sehingga istilah “tidak ada obat sama sekali” juga sudah tidak tepat.
Tetapi terapi tersebut bukan cure dan mempunyai persyaratan serta risiko yang harus dinilai dokter.
Misalnya, lecanemab memiliki risiko amyloid-related imaging abnormalities (ARIA) sehingga pemantauan MRI menjadi bagian penting dari keselamatan terapi.
Teropong Mental:
Biologis-Psikologis-Lingkungan sumber gangguan mental
Memahami ketiga pilar utama ini membantu kita mengidentifikasi risiko dan langkah penanganan yang tepat.
Baca artikel →2. PARKINSON: TREMOR HANYALAH SALAH SATU GEJALA
Parkinson sering dikenal karena tangan gemetar.
Padahal penyakit ini dapat menyebabkan:
gerakan menjadi lambat,
tubuh kaku,
gangguan keseimbangan,
gangguan berjalan,
gangguan tidur,
gangguan bicara,
gangguan penciuman,
nyeri,
gangguan mood,
hingga gangguan kognitif.
WHO menyatakan Parkinson bersifat progresif dan saat ini belum memiliki cure, tetapi obat dan terapi dapat mengurangi gejala dan membantu mempertahankan fungsi serta kualitas hidup.
Salah satu obat yang sangat penting adalah levodopa/carbidopa.
Masalahnya, obat tersebut terutama membantu mengendalikan gejala. Ia tidak berarti menghentikan seluruh proses degenerasi neuron.
Karena itu:
Parkinson ≠ penyakit yang tidak bisa diobati.
Lebih tepat:
Parkinson = penyakit yang dapat ditangani tetapi belum dapat disembuhkan secara total.
3. LEWY BODY DEMENTIA: KETIKA PIKIRAN, GERAKAN, TIDUR DAN PERSEPSI TERGANGGU
Lewy body dementia atau LBD sering membingungkan karena gejalanya dapat menyerupai Alzheimer maupun Parkinson.
Keluhan dapat berupa:
perubahan kemampuan berpikir,
perhatian yang naik-turun,
halusinasi visual,
kekakuan,
tremor,
gangguan berjalan,
gangguan tidur,
perubahan perilaku.
LBD berkaitan dengan akumulasi protein alpha-synuclein yang membentuk Lewy bodies di otak.
Salah satu tantangan terbesar adalah diagnosis.
Gejala awal dapat tumpang tindih dengan penyakit neurodegeneratif lainnya. Penelitian terus dilakukan untuk menemukan biomarker dan cara membedakan berbagai penyakit tersebut secara lebih akurat.
Saat ini belum ada cure untuk LBD, tetapi berbagai gejala dapat ditangani.
Telisik Organ Tubuh:
Otak-Jantung-Hati-Ginjal-Paru-paru mutlak untuk bertahan hidup
Memahami cara kerjanya,kita dapat lebih menghargai tubuh dan membangun kebiasaan hidup sehat.
Baca artikel →4. FRONTOTEMPORAL DEMENTIA: BUKAN SELALU DIMULAI DENGAN LUPA
Frontotemporal dementia atau gangguan frontotemporal dapat sangat berbeda dari gambaran demensia yang selama ini dikenal masyarakat.
Pada sebagian pasien, perubahan pertama justru berupa:
perilaku menjadi sangat berbeda,
kehilangan kontrol sosial,
perilaku impulsif,
apatis,
gangguan bahasa,
kesulitan merencanakan sesuatu,
perubahan kepribadian.
NIA menjelaskan bahwa gangguan frontotemporal berkaitan dengan kerusakan neuron pada area frontal dan temporal otak.
Karena perubahan perilaku dapat dianggap sebagai:
“Orangnya sekarang menjadi aneh.”
atau:
“Memang sifatnya sudah berubah.”
diagnosis dapat terlambat.
Padahal perubahan perilaku yang progresif, terutama bila disertai gangguan bahasa atau fungsi sehari-hari, perlu dievaluasi secara medis.
5. PROGRESSIVE SUPRANUCLEAR PALSY: SERING TERLIHAT SEPERTI PARKINSON
Progressive supranuclear palsy atau PSP adalah gangguan neurodegeneratif yang dapat menyerupai Parkinson.
Namun terdapat petunjuk penting.
Pasien dapat mengalami:
sering jatuh,
tubuh kaku,
gerakan menjadi lambat,
gangguan keseimbangan,
perubahan ekspresi wajah,
masalah berbicara,
gangguan menelan,
dan gangguan gerakan mata, terutama kesulitan mengarahkan pandangan ke bawah.
NIA menyebut gangguan gerakan mata sebagai salah satu ciri penting PSP.
Karena mirip Parkinson, diagnosisnya tidak selalu sederhana.
Saat ini belum ada terapi yang dapat menyembuhkan PSP.
Fokus perawatan biasanya adalah mempertahankan keselamatan, mobilitas, komunikasi, kemampuan makan dan kualitas hidup.
Misteri Kesehatan lansia:
Kejadian Aneh pada lansia Mulai Terkuak Secara Medis
Memahami peristiwa agar kita bijak bersikap dan bertindak untuk orang tua atau lansia sesuai medis
Baca artikel →6. MULTIPLE SYSTEM ATROPHY: KETIKA GERAKAN DAN SISTEM OTOMATIS TUBUH TERGANGGU
Multiple System Atrophy atau MSA merupakan penyakit neurodegeneratif yang relatif jarang.
Salah satu keunikannya adalah penyakit ini tidak hanya mengganggu gerakan.
Sistem saraf otonom juga dapat terkena.
Akibatnya pasien dapat mengalami:
tekanan darah turun ketika berdiri,
pusing,
gangguan keseimbangan,
kekakuan,
gerakan lambat,
gangguan buang air kecil,
gangguan fungsi seksual,
gangguan koordinasi.
Masalahnya menjadi lebih kompleks karena gejalanya dapat menyerupai Parkinson atau gangguan neurologis lainnya.
Belum tersedia terapi yang dapat menyembuhkan MSA.
Namun komplikasi dan gejalanya dapat ditangani.
7. ALS: KETIKA SARAF PENGGERAK OTOT RUSAK
Amyotrophic lateral sclerosis atau ALS merupakan penyakit yang menyerang neuron motorik.
Akibatnya otot semakin kehilangan kemampuan menerima perintah saraf.
Gejala dapat berupa:
kelemahan tangan atau kaki,
sulit melakukan gerakan halus,
otot berkedut,
kesulitan berjalan,
bicara menjadi pelo atau sulit,
gangguan menelan,
dan pada tahap tertentu gangguan pernapasan.
ALS merupakan contoh penting bahwa:
“Belum ada cure” bukan berarti “tidak ada terapi.”
Beberapa terapi dapat digunakan untuk membantu memperlambat perjalanan penyakit pada kondisi tertentu, sementara terapi suportif seperti dukungan nutrisi, alat bantu komunikasi, fisioterapi, dan dukungan pernapasan dapat sangat penting.
8. HUNTINGTON: PENYAKIT GENETIK YANG DAPAT MUNCUL BERSAMA GANGGUAN GERAK DAN PERILAKU
Huntington disease berbeda dari banyak penyakit degeneratif karena penyebab genetiknya telah diketahui.
Mutasi pada gen tertentu dapat menyebabkan penyakit neurodegeneratif progresif.
Gejalanya dapat meliputi:
gerakan tidak terkendali,
perubahan koordinasi,
gangguan berpikir,
perubahan perilaku,
gangguan mood,
penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.
Jadi, mengetahui penyebab genetik bukan berarti dunia kedokteran otomatis mempunyai obat penyembuh.
Salah satu tantangan penelitian adalah bagaimana menghentikan atau membalikkan kerusakan neuron yang sudah terjadi.
Fenomena"Super Agers":
Kisah lansia mendekati usia satu abad namun tetap bugar secara ekstrem
Studi genetika global manusia yang hidup sehat melewati usia 100(centenarian).
Baca artikel →9. MULTIPLE SCLEROSIS: PENYAKIT IMUN YANG MENYERANG SISTEM SARAF
Multiple sclerosis atau MS terjadi ketika sistem imun menyerang struktur sistem saraf pusat.
Gejalanya dapat sangat beragam, misalnya:
gangguan penglihatan,
kelemahan,
kesemutan,
gangguan keseimbangan,
gangguan koordinasi,
kelelahan,
gangguan kognitif.
MS bukan penyakit yang identik dengan lansia.
Namun seseorang yang telah hidup dengan MS selama puluhan tahun dapat memasuki usia lanjut dengan penyakit tersebut.
Berbeda dari beberapa penyakit neurodegeneratif lainnya, MS telah memiliki berbagai disease-modifying therapies untuk kondisi tertentu.
Jadi:
MS belum memiliki cure total, tetapi bukan berarti tidak ada terapi yang dapat memengaruhi perjalanan penyakit.
10. SPINOCEREBELLAR ATAXIA: KETIKA KOORDINASI TUBUH SEMAKIN TERGANGGU
Spinocerebellar ataxia atau SCA mencakup kelompok penyakit yang menyebabkan gangguan koordinasi.
Keluhan dapat berupa:
berjalan tidak stabil,
sulit menjaga keseimbangan,
gerakan tangan tidak tepat,
bicara menjadi tidak jelas,
gangguan koordinasi mata,
kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari.
Sebagian tipe SCA berhubungan dengan kelainan genetik tertentu.
Karena SCA merupakan kelompok penyakit yang sangat beragam, diagnosis dapat memerlukan pemeriksaan neurologis, pencitraan dan pada kondisi tertentu pemeriksaan genetik.
Belum ada satu obat yang dapat menyembuhkan seluruh kelompok SCA.
Penanganan biasanya diarahkan pada gejala, keselamatan, rehabilitasi dan mempertahankan kemandirian.
MENGAPA PENYAKIT-PENYAKIT INI SULIT DISEMBUHKAN?
Ada beberapa alasan.
1. NEURON YANG RUSAK SULIT DIGANTI
Sel saraf memiliki jaringan koneksi yang sangat kompleks.
Mengembalikan satu neuron saja tidak otomatis mengembalikan seluruh jaringan komunikasi otak.
2. PENYAKIT TIDAK SELALU DISEBABKAN SATU MEKANISME
Pada banyak penyakit otak, faktor yang terlibat dapat mencakup:
genetik,
protein abnormal,
sistem imun,
metabolisme,
lingkungan,
proses inflamasi,
faktor vaskular,
dan penuaan.
3. PENYAKIT DAPAT DIMULAI JAUH SEBELUM GEJALA TERLIHAT
Kerusakan biologis dapat berlangsung sebelum seseorang terlihat mengalami gangguan berat.
Akibatnya, pasien mungkin baru datang ketika sebagian kerusakan sudah terjadi.
4. OTAK SANGAT KOMPLEKS
Otak tidak bekerja seperti satu organ dengan satu fungsi.
Memori, gerakan, bahasa, emosi, keseimbangan, penglihatan dan fungsi otomatis tubuh melibatkan jaringan yang saling terhubung.
5. USIA MEMENGARUHI CADANGAN FUNGSI TUBUH
Lansia lebih mungkin memiliki beberapa penyakit sekaligus. WHO juga menekankan bahwa usia lanjut sering disertai multimorbiditas dan kondisi geriatri kompleks.
Karena itu, pengobatan satu penyakit harus mempertimbangkan:
jantung + ginjal + obat lain + nutrisi + mobilitas + kognisi + risiko jatuh + dukungan keluarga.
CHECKLIST: APAKAH KELUHAN LANSIA PERLU DIEVALUASI?
Gunakan checklist berikut sebagai panduan awal, bukan alat diagnosis.
Semakin banyak tanda yang progresif, semakin penting pemeriksaan medis.
❌ MITOS VS ✅FAKTA
| Mitos | Fakta |
|---|---|
| “Kalau belum ada cure berarti tidak ada obat.” | Salah. Banyak penyakit memiliki obat untuk mengendalikan gejala atau memengaruhi perjalanan penyakit tertentu. |
| “Demensia adalah proses normal menjadi tua.” | Salah. Penuaan bukan berarti seseorang pasti mengalami demensia. |
| “Parkinson hanya tremor.” | Salah. Parkinson juga dapat menyebabkan perlambatan gerak, kekakuan, gangguan berjalan, tidur, mood dan kognitif. |
| “Alzheimer sekarang sudah ada obat yang menyembuhkan.” | Belum. Ada terapi baru untuk pasien tertentu, tetapi bukan cure total. |
| “Penyakit misterius berarti penyakit gaib.” | Tidak. Dalam konteks medis, penyakit yang masih diteliti berarti mekanisme, diagnosis, biomarker atau terapinya masih terus dipelajari. |
| “Kalau penyakitnya genetik pasti tidak bisa ditangani.” | Tidak selalu. Gejala dan komplikasinya tetap dapat ditangani, walaupun penyebab genetiknya belum dapat diperbaiki sepenuhnya. |
| “Semua lupa pada lansia adalah Alzheimer.” | Salah. Ada banyak penyebab gangguan kognitif dan beberapa dapat diperbaiki atau dikendalikan. |
| “Kalau MRI normal berarti pasti tidak ada penyakit saraf.” | Tidak selalu. Diagnosis neurologis tidak ditentukan oleh satu pemeriksaan saja. |
| “Penyakit langka tidak perlu diperiksa.” | Justru gejala progresif yang tidak biasa perlu dievaluasi untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. |
FLOWCHART PANDUAN TINDAKAN
🚨 KOTAK: KAPAN LANSIA HARUS SEGERA KE DOKTER?
Jangan menunggu jika lansia mengalami:
TANDA DARURAT
🚨 Kelemahan atau mati rasa mendadak pada satu sisi tubuh
🚨 Wajah tiba-tiba mencong
🚨 Bicara mendadak pelo atau sulit memahami
🚨 Penurunan kesadaran
🚨 Kejang baru
🚨 Sakit kepala sangat hebat dan mendadak
🚨 Gangguan penglihatan mendadak
🚨 Sesak berat
🚨 Kesulitan menelan akut
🚨 Jatuh dengan cedera kepala dan perubahan kesadaran
Untuk gejala neurologis mendadak, jangan menunggu dengan asumsi bahwa itu hanya “penyakit tua”.
KAPAN SEBAIKNYA MEMBUAT JANJI DENGAN DOKTER?
Jika tidak darurat tetapi terdapat:
lupa yang semakin berat,
perubahan perilaku progresif,
tremor,
sering jatuh,
jalan semakin lambat,
kelemahan progresif,
gangguan bicara,
gangguan koordinasi,
halusinasi berulang,
gangguan tidur yang disertai perubahan gerakan,
atau kemampuan aktivitas sehari-hari semakin menurun,
buatlah evaluasi medis.
Untuk lansia dengan beberapa masalah sekaligus, pendekatan multidisiplin dan penilaian fungsi secara menyeluruh dapat membantu menyusun rencana perawatan yang lebih individual. WHO melalui kerangka ICOPE juga menekankan deteksi penurunan kapasitas intrinsik dan penyusunan rencana perawatan yang berpusat pada individu.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apakah penyakit “belum ada cure” berarti dokter tidak bisa berbuat apa-apa?
Tidak.
Justru banyak terapi bertujuan mengurangi gejala, memperlambat perjalanan penyakit tertentu, mencegah komplikasi, mempertahankan fungsi dan meningkatkan kualitas hidup.
2. Apakah Alzheimer sekarang sudah bisa disembuhkan?
Belum.
Namun perkembangan terapi Alzheimer telah maju. Beberapa terapi anti-amyloid tersedia untuk pasien tertentu pada tahap awal penyakit berdasarkan kriteria klinis dan biologis tertentu.
Jadi, terapi baru ≠ cure total.
3. Apakah Parkinson pasti menyebabkan lansia menjadi lumpuh?
Tidak selalu.
Perjalanan Parkinson sangat bervariasi. Banyak pasien dapat mempertahankan fungsi selama bertahun-tahun dengan pengobatan, rehabilitasi dan dukungan yang tepat.
4. Mengapa penyakit otak lebih sulit disembuhkan?
Karena neuron yang rusak tidak mudah diganti dan jaringan otak sangat kompleks.
Selain itu, penyakit neurodegeneratif dapat melibatkan berbagai proses biologis sekaligus.
5. Apakah semua gangguan ingatan pada lansia adalah Alzheimer?
Tidak.
Gangguan kognitif dapat mempunyai banyak penyebab, termasuk berbagai jenis demensia, efek obat, gangguan tidur, gangguan metabolik, depresi dan kondisi medis lainnya.
6. Apakah halusinasi pada lansia pasti gangguan jiwa?
Tidak.
Halusinasi dapat muncul dalam berbagai kondisi, termasuk penyakit neurologis tertentu seperti Lewy body dementia, efek obat, gangguan metabolik, delirium dan kondisi medis lainnya.
Karena itu penyebabnya perlu dicari.
7. Apakah penyakit langka selalu lebih berbahaya?
Tidak selalu.
“Langka” berarti jumlah kasusnya relatif sedikit, bukan otomatis penyakitnya lebih berat.
8. Mengapa beberapa penyakit terlihat seperti Parkinson?
Karena beberapa gangguan neurodegeneratif memiliki gejala yang tumpang tindih.
PSP, MSA dan beberapa kondisi lain dapat memiliki perlambatan gerak, kekakuan atau gangguan keseimbangan yang menyerupai Parkinson.
9. Apakah pemeriksaan genetik diperlukan untuk semua lansia dengan gangguan saraf?
Tidak.
Pemeriksaan genetik biasanya dipertimbangkan berdasarkan riwayat keluarga, pola gejala, usia onset dan kecurigaan klinis tertentu.
10. Kalau belum ada cure, apakah penelitian masih berguna?
Sangat berguna.
Penelitian dapat menghasilkan:
diagnosis lebih cepat,
biomarker baru,
obat yang lebih aman,
terapi yang lebih efektif,
pemahaman tentang mekanisme penyakit,
serta pendekatan untuk memperlambat atau mencegah kerusakan.
Perkembangan terapi Alzheimer dalam beberapa tahun terakhir merupakan salah satu contoh bahwa “belum ada cure” bukan berarti ilmu kedokteran berhenti berkembang.
RINGKASAN POIN PENTING
10 kondisi yang masih menjadi tantangan besar dalam penelitian medis antara lain:
Namun jangan sampai muncul kesalahpahaman:
“BELUM ADA CURE” BUKAN BERARTI “TIDAK ADA HARAPAN”.
Pada sebagian penyakit, tersedia obat untuk mengurangi gejala.
Pada sebagian lainnya, tersedia terapi yang dapat memengaruhi perjalanan penyakit.
Dan hampir semua pasien dapat memperoleh manfaat dari pendekatan seperti:
diagnosis tepat → pengobatan → rehabilitasi → nutrisi → pencegahan komplikasi → dukungan keluarga → pemantauan berkala.
Bahkan pada penyakit yang belum dapat disembuhkan, tujuan pengobatan tetap sangat berarti:
mempertahankan kemampuan berjalan, berbicara, makan, berpikir, berkomunikasi, melakukan aktivitas sehari-hari dan mempertahankan kualitas hidup selama mungkin.
Karena itu, jangan pernah mengatakan kepada keluarga:
“Percuma diobati karena penyakitnya tidak ada obat.”
Kalimat yang lebih tepat adalah:
“Belum ada obat yang menyembuhkan penyakitnya secara total, tetapi masih banyak hal yang dapat dilakukan untuk membantu pasien.”
Catatan :
Artikel ini membedakan secara sengaja antara “belum ada cure”, “belum ada terapi yang efektif untuk semua pasien”, dan “tidak ada pengobatan”. Ketiganya bukan istilah yang sama.
Informasi mengenai terapi dapat berubah seiring hasil penelitian dan persetujuan regulator. Untuk keputusan pengobatan individual, terutama pada lansia dengan banyak obat atau penyakit penyerta, diagnosis dan rekomendasi dokter tetap menjadi dasar utama.
#lpclansia
Tonton info singkat kesehatan lansia. Kenali tanda penyakit sebelum terlambat.
▶ Tonton Shorts
#lansiaSehat
Jangan lewatkan info kesehatan lansia agar lebih cepat memahami gejala tubuh.
🩺 Kesehatan Lansia
#TipsSehat
Pelajari perubahan organ tubuh lansia dengan penjelasan yang mudah dipahami.
📚 Pelajari TipsJelajahi LPC Lansia
Artikel Populer
Sumber
World Health Organization (WHO). Parkinson disease – Fact Sheet. WHO menjelaskan bahwa Parkinson bersifat progresif, belum memiliki cure, tetapi obat dan rehabilitasi dapat membantu mengendalikan gejala dan meningkatkan fungsi.
World Health Organization (WHO). Global status report on neurology / neurological care. WHO melaporkan besarnya beban penyakit neurologis secara global dan kebutuhan penguatan diagnosis, terapi, rehabilitasi dan penelitian.
National Institute on Aging (NIA). Understanding Different Types of Dementia. Membahas Alzheimer, frontotemporal dementia, Lewy body dementia dan vascular dementia.
National Institute on Aging (NIA). Lewy Body Dementia: Causes, Symptoms, and Diagnosis.
National Institute on Aging (NIA). Frontotemporal Disorders: Causes, Symptoms, and Diagnosis.
U.S. Food and Drug Administration (FDA). FDA Approves Treatment for Adults with Alzheimer’s Disease – donanemab.
U.S. Food and Drug Administration (FDA). Leqembi / lecanemab information and safety monitoring.
World Health Organization (WHO). Integrated Care for Older People (ICOPE), 2nd edition, 2025.


No comments:
Post a Comment