Pendahuluan
“Kenapa sih sekarang jadi suka menunda-nunda?”
Kalimat ini sering terlontar—baik dari lansia sendiri, pasangan, anak, maupun lingkungan sekitar. Sayangnya, penundaan pekerjaan pada lansia kerap langsung diberi label malas, kurang niat, atau tidak disiplin.
![]() |
| Penundaan pekerjaan sering dilakukan oleh lansia. (Sumber: foto-grup) |
Padahal, ilmu saraf, psikologi, dan gerontologi menunjukkan fakta yang jauh lebih dalam:
👉 menunda pada lansia sering kali adalah respons biologis dan kognitif, bukan persoalan karakter.
Artikel ini akan membahas secara ilmiah dan manusiawi mengapa lansia sering menunda pekerjaan, sekaligus membantu kita melihatnya dengan empati—bukan penghakiman.
Prokrastinasi pada Lansia: Fenomena yang Nyata dan Umum
Dalam psikologi, menunda disebut prokrastinasi, yaitu kecenderungan menunda tugas meski sadar akan konsekuensinya.
Pada lansia, prokrastinasi berbeda mekanismenya dibandingkan usia muda. Jika pada orang muda sering dipicu distraksi atau perfeksionisme, pada lansia lebih banyak terkait dengan perubahan fungsi otak dan tubuh.
1. Perubahan Fungsi Otak (Executive Function Menurun)
Seiring bertambahnya usia, area otak prefrontal cortex mengalami penurunan fungsi. Area ini bertanggung jawab atas:
-
Perencanaan
-
Memulai tindakan
-
Mengatur prioritas
-
Mengambil keputusan
Akibatnya:
-
Lansia tahu apa yang harus dilakukan
-
Tapi otak lebih lambat memberi sinyal “mulai sekarang”
🧠Ini bukan kemalasan, melainkan penurunan kemampuan inisiasi tindakan (initiation deficit).
![]() |
| Area otak prefrontal cortex mengalami penurunan fungsi. (Sumber: image-ai) |
2. Working Memory Lebih Terbatas
Working memory adalah “meja kerja” di otak untuk menahan dan memproses informasi secara bersamaan.
Pada lansia:
-
Working memory lebih cepat penuh
-
Tugas sederhana terasa “ramai” di kepala
-
Otak cenderung menunda untuk menghindari kelelahan mental
📌 Menunda di sini adalah mekanisme perlindungan otak, bukan sikap menghindar.
3. Kelelahan Fisik dan Energi yang Lebih Fluktuatif
Berbeda dengan usia muda, energi lansia:
-
Lebih cepat habis
-
Tidak stabil sepanjang hari
-
Sangat dipengaruhi tidur, nutrisi, dan kondisi kesehatan
Otak lansia secara otomatis akan:
-
Menunda tugas jika dirasa “terlalu berat”
-
Memilih waktu yang dianggap paling aman secara fisik
💡 Ini adalah strategi bertahan hidup, bukan kemalasan.
![]() |
| Lansia merasakan mengapa sering menunda pekerjaan. (Sumber: foto-grup) |
4. Ketakutan Tersembunyi: Takut Salah atau Tak Mampu
Banyak lansia tidak mengungkapkan satu hal ini:
👉 takut gagal seperti dulu tidak pernah mereka alami.
Perubahan daya ingat, kecepatan berpikir, dan kekuatan fisik memunculkan:
-
Kekhawatiran membuat kesalahan
-
Takut merepotkan orang lain
-
Takut merasa “tidak berguna”
Menunda menjadi cara bawah sadar untuk:
-
Menghindari rasa malu
-
Menghindari konfirmasi bahwa diri “sudah menurun”
5. Beban Emosional dan Psikologis
Prokrastinasi pada lansia juga sering terkait dengan:
-
Kesepian
-
Kehilangan peran sosial
-
Duka (grief) yang tidak selesai
-
Gejala depresi ringan yang sering tidak terdiagnosis
Dalam kondisi ini, menunda adalah sinyal emosional, bukan masalah disiplin.
Sudut Pandang Medis: Menunda Bisa Menjadi Tanda, Bukan Masalah Utama
Dalam dunia kesehatan geriatri, kebiasaan menunda bisa menjadi:
-
Indikator penurunan kognitif ringan (MCI)
-
Tanda kelelahan saraf
-
Sinyal stres kronis
Karena itu, memarahi atau memaksa justru memperburuk kondisi.
Bagaimana Sikap yang Lebih Sehat dan Ilmiah?
Alih-alih berkata:
❌ “Kenapa sih selalu ditunda?”
Lebih membantu jika:
✅ “Bagian mana yang terasa paling berat?”
✅ “Kita kerjakan sedikit dulu, tidak harus selesai.”
Pendekatan terbaik:
-
Tugas kecil dan bertahap
-
Rutinitas yang konsisten
-
Lingkungan yang minim tekanan
-
Penguatan emosional, bukan kritik
Penutup
Menunda pada lansia bukan tanda malas, bukan pula kegagalan karakter.
Ia adalah hasil dari perubahan biologis, kognitif, dan emosional yang nyata dan ilmiah.
Dengan memahami alasannya, kita tidak hanya membantu lansia menyelesaikan tugas, tetapi juga:
-
Menjaga harga diri mereka
-
Mengurangi stres mental
-
Memperpanjang kualitas hidup
Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan lansia bukan dorongan keras, tetapi pemahaman yang lembut dan cerdas.
Artikel populer
Sumber:
-
Harada, C. N., Natelson Love, M. C., & Triebel, K. L. (2013). Normal Cognitive Aging. Clinics in Geriatric Medicine.
-
Salthouse, T. A. (2010). Selective review of cognitive aging. Journal of the International Neuropsychological Society.
-
Diamond, A. (2013). Executive Functions. Annual Review of Psychology.
-
Steel, P. (2007). The Nature of Procrastination. Psychological Bulletin.
-
Petersen, R. C. et al. (2014). Mild Cognitive Impairment. The New England Journal of Medicine.


.webp)
No comments:
Post a Comment