xmlns:og='http://ogp.me/ns#' LPC- Lansia Preneurship Community

Wednesday, 19 April 2023

Ancaman Nyata,Pembunuh No.2 Manusia

                                                          ๐Ÿ’€

Ilustrasi orang kena penyakit jantung
(canva.com)

     Penyakit jantung masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia,bahkan menyerap APBN yang lumayan besar.

Penyakit jantung adalah kondisi medis yang terjadi ketika terdapat masalah dengan jantung atau pembuluh darah yang memasok darah ke jantung. Penyakit jantung dapat mengganggu kemampuan jantung untuk memompa darah dengan efisien, dan bisa menjadi penyebab serius dari berbagai komplikasi kesehatan.

Contoh penyakit jantung,antara lain:

๐Ÿ’”Penyakit arteri koroner: 

Terjadi ketika terjadi penyumbatan di arteri yang memasok darah ke jantung.

๐Ÿ’”Serangan jantung: 

Terjadi ketika aliran darah ke jantung terganggu secara tiba-tiba, biasanya karena penyumbatan arteri koroner.

๐Ÿ’”Gagal jantung: 

Terjadi ketika jantung tidak mampu memompa darah secara efisien.

๐Ÿ’” Aritmia: 

Terjadi ketika detak jantung tidak teratur atau terlalu cepat.

 ๐Ÿ’”Katup jantung yang rusak: 

Terjadi ketika katup jantung tidak berfungsi dengan baik, sehingga membuat jantung bekerja lebih keras.

๐Ÿ’” Kardiomiopati: 

Terjadi ketika otot jantung tidak berfungsi dengan baik atau menjadi lebih kaku.

๐Ÿ’” Pericarditis:

 Terjadi ketika lapisan luar jantung meradang.

     Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit jantung meliputi merokok, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang tinggi, obesitas, kurang berolahraga, diabetes, dan  ada riwayat keluarga dengan penyakit jantung.                                                     

Sumber: Canva.com

   Penyakit jantung lebih mudah diobati bila terdeteksi dini. 


Beberapa cara mencegah penyakit jantung, antara lain:

✋Menjaga pola makan yang sehat dan seimbang dengan memperbanyak asupan sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Hindari makanan yang tinggi lemak jenuh, kolesterol, garam dan gula.

✋ Rutin berolahraga minimal 30 menit sehari seperti jalan kaki, berenang, atau bersepeda, hal ini dapat membantu menjaga berat badan, meningkatkan kesehatan jantung dan meningkatkan sirkulasi darah.

✋ Menghindari merokok dan mengurangi konsumsi minuman beralkohol.

✋ Mengurangi stres dengan melakukan relaksasi seperti yoga atau meditasi.

 ✋Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan dan mengikuti anjuran dokter untuk menjaga kesehatan jantung.

 ✋Menghindari obesitas dan mempertahankan berat badan yang sehat.

 ✋Mengelola penyakit yang terkait dengan penyakit jantung seperti diabetes atau hipertensi dengan terapi dan pengobatan yang tepat.

        Jalankan gaya hidup yang sehat dan menghindari faktor risiko, kita dapat mencegah penyakit jantung dan menjaga kesehatan jantung dengan baik. Namun, jika Anda memiliki gejala yang terkait dengan penyakit jantung seperti nyeri dada, sesak napas, atau pusing, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Gaya hidup sehat dapat membantu mencegah dan mengelola penyakit jantung. 

๐Ÿ‘‰Berhenti merokok:

Rokok dapat merusak dinding arteri dan meningkatkan risiko penyakit jantung. Berhenti merokok adalah langkah penting untuk mencegah dan mengelola penyakit jantung.

๐Ÿ‘‰Olahraga secara teratur:

Olahraga dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung dan mengurangi risiko penyakit jantung. Berolahraga selama setidaknya 30 menit setiap hari, seperti berjalan cepat, berenang, atau bersepeda dapat membantu menjaga kesehatan jantung.

๐Ÿ‘‰Makan sehat:

Makan makanan yang sehat dan seimbang dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung. Hindari makanan yang tinggi lemak jenuh, kolesterol, gula, dan garam. Pilihlah makanan yang kaya serat, vitamin, dan mineral seperti sayuran, buah-buahan, ikan, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

๐Ÿ‘‰Mengelola stres: 

Stres dapat meningkatkan tekanan darah dan risiko penyakit jantung. Cobalah untuk mengelola stres dengan meditasi, yoga, atau relaksasi otot progresif.

๐Ÿ‘‰Menjaga berat badan sehat: 

Berat badan yang berlebih dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Menjaga berat badan yang sehat dapat membantu menjaga kesehatan jantung.

๐Ÿ‘‰Hindari alkohol atau konsumsi dengan bijak:

Alkohol dalam jumlah yang berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Namun, konsumsi alkohol dalam jumlah yang sedang dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung.

๐Ÿ‘‰Mengelola penyakit kronis: 

Jika Anda memiliki kondisi kesehatan kronis seperti diabetes atau hipertensi, penting untuk mengelola kondisi tersebut untuk mencegah komplikasi jantung.

Catatan :

Penting untuk diperhatikan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan kesehatan yang berbeda-beda. Konsultasikan dengan dokter atau ahli kesehatan untuk mengetahui gaya hidup sehat yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda.


Makanan yang sehat untuk penyakit jantung  

Beberapa makanan sehat untuk penyakit jantung:

๐Ÿ’ชSayuran dan buah-buahan segar:

 Kaya akan serat, vitamin, dan mineral yang dapat membantu menurunkan tekanan darah dan kolesterol.

๐Ÿ’ชIkan: 

Kaya akan omega-3, asam lemak sehat yang dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung.

๐Ÿ’ชKacang-kacangan:

 Kaya akan protein nabati, serat, dan lemak sehat yang dapat membantu menurunkan kolesterol.

๐Ÿ’ชBiji-bijian: 

Kaya akan serat, vitamin, dan mineral yang dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung.

๐Ÿ’ชMinyak zaitun dan alpukat: 

Mengandung lemak sehat, seperti asam lemak tak jenuh tunggal, yang dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung.

๐Ÿ’ชSusu rendah lemak atau non-dairy milk: 

Susu kaya akan kalsium dan vitamin D yang dapat membantu menjaga kesehatan tulang dan jantung.

๐Ÿ’ชDaging tanpa lemak:

 Daging tanpa lemak seperti ayam, ikan, atau daging sapi tanpa lemak dapat membantu memenuhi kebutuhan protein tubuh tanpa meningkatkan risiko penyakit jantung.

๐Ÿ’ชTeh hijau:

 Mengandung antioksidan yang dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung.

  Catatan:      

Penting untuk diingat bahwa makanan saja tidak cukup untuk mencegah atau mengobati penyakit jantung. Namun, dengan mengonsumsi makanan yang sehat dan seimbang serta menjalankan gaya hidup sehat secara keseluruhan,dapat membantu menjaga kesehatan jantung dengan baik. Jangan lupa untuk selalu konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi untuk informasi lebih lanjut mengenai diet yang sesuai untuk kondisi kesehatan Anda.

      Demikian informasi mengenai penyakit jantung bila ada gejala dan kuatir mengenai kesehatan jantung Anda,segera konsultasi ke dokter  dan rumah sakit terdekat.




Sumber:

https://www.heart.org/en/health-topics/cholesterol/about-cholesterol        https://newsinhealth.nih.gov/special-issues/eating/plan-your-plate    https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/heart-disease/symptoms-causes/syc-20353118      https://www.cardiosmart.org/topics/high-blood-pressure  https://medlineplus.gov/ency/article/004006.htm?https://www.kemkes.go.id/article/view/19093000001/penyakit-jantung-penyebab-kematian-terbanyak-ke-2-di-indonesia.html  

Tuesday, 18 April 2023

MENGERIKAN, TAPI NYATA! Inilah Penyakit yang Paling Sering Mengintai Lansia dari Usia 60 Hingga 100 Tahun

Pendahuluan

Menjadi tua adalah anugerah yang tidak semua orang dapatkan. Namun, bertambahnya usia juga membawa tantangan tersendiri bagi kesehatan.

Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk memperbaiki kerusakan sel dan melawan penyakit secara alami akan menurun. Akibatnya, berbagai penyakit kronis menjadi lebih sering muncul pada kelompok lansia.

Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa menua bukan berarti pasti sakit. Banyak lansia yang tetap sehat, aktif, dan mandiri hingga usia 80, 90, bahkan lebih dari 100 tahun. Kuncinya adalah memahami risiko kesehatan yang mungkin muncul sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan lebih awal.

Sumber: BPS

Artikel ini membahas berbagai penyakit yang paling sering ditemukan pada lansia berdasarkan kelompok usia, mulai dari usia 60 tahun hingga mencapai usia satu abad.

Usia 60 Tahun ke Atas: Awal Meningkatnya Risiko Penyakit Kronis

Memasuki usia 60 tahun, tubuh mulai mengalami perubahan yang cukup signifikan. Pada usia ini, beberapa penyakit kronis mulai lebih sering ditemukan.

1. Penyakit Jantung

Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi pada lansia di seluruh dunia.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Nyeri atau rasa tertekan di dada
  • Sesak napas
  • Mudah lelah
  • Jantung berdebar tidak teratur
  • Pembengkakan pada kaki

Faktor risiko utama meliputi tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, merokok, dan kurang aktivitas fisik.

2. Diabetes Melitus Tipe 2

Diabetes tipe 2 menjadi semakin umum setelah usia 60 tahun.

Gejalanya meliputi:

  • Mudah haus
  • Sering buang air kecil
  • Cepat lelah
  • Berat badan turun tanpa sebab jelas
  • Penglihatan kabur

Jika tidak dikendalikan, diabetes dapat merusak jantung, ginjal, mata, dan saraf.

3. Kanker

Risiko kanker meningkat seiring bertambahnya usia karena akumulasi kerusakan sel selama puluhan tahun.

Jenis kanker yang sering ditemukan pada lansia meliputi:

  • Kanker prostat
  • Kanker payudara
  • Kanker usus besar
  • Kanker paru-paru
  • Kanker hati

4. Osteoporosis

Osteoporosis menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah.

Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita pascamenopause, tetapi juga dapat menyerang pria.

5. Stroke

Risiko stroke meningkat secara signifikan setelah usia 60 tahun.

Gejala stroke yang harus segera dikenali:

  • Wajah mencong
  • Bicara pelo
  • Lengan atau kaki mendadak lemah
  • Gangguan penglihatan mendadak

Stroke merupakan keadaan darurat medis yang membutuhkan pertolongan segera.

Usia 65 Tahun ke Atas: Ancaman pada Otak dan Sendi Mulai Meningkat

Selain penyakit yang telah disebutkan sebelumnya, usia 65 tahun ke atas mulai menghadapi risiko gangguan fungsi otak dan persendian.

1. Penyakit Alzheimer

Alzheimer merupakan penyebab paling umum dari demensia.

Gejala awalnya sering berupa:

  • Mudah lupa
  • Sulit mengingat nama atau tempat
  • Sering mengulang pertanyaan yang sama
  • Kesulitan mengatur aktivitas sehari-hari

2. Arthritis (Radang Sendi)

Arthritis menyebabkan:

  • Nyeri sendi
  • Kekakuan saat bangun pagi
  • Pembengkakan sendi
  • Kesulitan bergerak

Lutut, pinggul, dan tangan merupakan bagian tubuh yang paling sering terkena.

Usia 70 Tahun Ke Atas: Risiko Kecacatan Semakin Besar

Pada usia ini, penyakit kronis yang sudah ada biasanya semakin memengaruhi kualitas hidup.

Penyakit yang sering ditemukan meliputi:

  • Penyakit jantung
  • Diabetes tipe 2
  • Kanker
  • Osteoporosis
  • Alzheimer
  • Stroke

Pada kelompok usia ini, risiko jatuh, patah tulang, dan kehilangan kemandirian juga meningkat.

Usia 75 Tahun Ke Atas: Waspadai Parkinson

Selain berbagai penyakit kronis sebelumnya, risiko gangguan saraf semakin meningkat.

Penyakit Parkinson

Parkinson merupakan gangguan saraf progresif yang memengaruhi gerakan tubuh.

Gejala yang sering muncul:

  • Tangan gemetar saat istirahat
  • Gerakan melambat
  • Tubuh kaku
  • Sulit menjaga keseimbangan
  • Tulisan tangan menjadi lebih kecil

Penyakit ini berkembang perlahan selama bertahun-tahun.

Usia 80 Tahun Ke Atas: Demensia Semakin Sering Ditemukan

Semakin panjang usia seseorang, semakin tinggi risiko gangguan fungsi otak.

Demensia

Demensia bukan penyakit tunggal, melainkan kumpulan gejala yang menyebabkan penurunan:

  • Daya ingat
  • Kemampuan berpikir
  • Kemampuan mengambil keputusan
  • Kemampuan berkomunikasi

Tidak semua lansia mengalami demensia, tetapi risikonya meningkat tajam setelah usia 80 tahun.

Usia 85 Tahun Ke Atas: Tantangan Menjaga Kemandirian

Pada kelompok usia ini, penyakit yang sering ditemukan meliputi:

  • Demensia
  • Penyakit jantung
  • Stroke
  • Osteoporosis
  • Parkinson
  • Kanker

Fokus utama kesehatan pada usia ini bukan hanya memperpanjang usia, tetapi juga mempertahankan kualitas hidup dan kemandirian sehari-hari.

Usia 90 Tahun Ke Atas: Waspadai Pneumonia

Pneumonia (Radang Paru)

Pneumonia menjadi salah satu penyebab utama perawatan dan kematian pada lansia sangat tua.

Gejalanya antara lain:

  • Batuk
  • Sesak napas
  • Demam
  • Lemah mendadak
  • Nafsu makan menurun

Pada lansia, pneumonia kadang tidak disertai demam tinggi sehingga sering terlambat dikenali.

Usia 95 Tahun Ke Atas: Tubuh Menjadi Sangat Rentan

Pada usia ini biasanya ditemukan kombinasi beberapa kondisi berikut:

  • Demensia
  • Osteoporosis
  • Penyakit jantung
  • Stroke
  • Pneumonia
  • Kanker

Namun perlu diingat, banyak lansia usia 95 tahun yang tetap mampu beraktivitas dan menikmati hidup dengan dukungan keluarga serta perawatan kesehatan yang baik.

Bagaimana dengan Lansia yang Berusia 100 Tahun?

Mencapai usia 100 tahun merupakan pencapaian luar biasa.

Menariknya, banyak penelitian menemukan bahwa sebagian centenarian (orang yang berusia 100 tahun atau lebih) justru memiliki ketahanan biologis yang lebih baik dibandingkan sebagian orang yang lebih muda.

Meski demikian, beberapa masalah kesehatan tetap sering ditemukan.

1. Gangguan Penglihatan

Seperti:

  • Katarak
  • Glaukoma
  • Degenerasi makula

Gangguan ini dapat mengurangi kemampuan membaca, berjalan, dan melakukan aktivitas sehari-hari.

2. Kehilangan Pendengaran

Penurunan fungsi pendengaran sangat umum terjadi akibat proses penuaan saraf pendengaran.

3. Gangguan Saluran Pencernaan

Misalnya:

  • Sembelit kronis
  • Diare berulang
  • Gangguan penyerapan nutrisi

4. Demensia

Risikonya meningkat seiring pertambahan usia, meskipun tidak semua centenarian mengalami demensia.

Contoh Kasus

Pak Ahmad berusia 68 tahun dan memiliki tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol selama bertahun-tahun.

Karena merasa sehat, ia jarang memeriksakan diri ke dokter.

Pada usia 72 tahun, beliau mengalami stroke ringan yang menyebabkan kelemahan pada tangan kanan.

Setelah kejadian tersebut, Pak Ahmad mulai rutin mengontrol tekanan darah, berolahraga ringan setiap hari, mengikuti kegiatan Posyandu Lansia, serta memperbaiki pola makan.

Kini pada usia 80 tahun, beliau masih mampu berjalan mandiri, berkebun, dan aktif mengikuti kegiatan sosial.

Kisah Pak Ahmad menunjukkan bahwa penyakit kronis dapat dikendalikan apabila terdeteksi dan ditangani sejak dini.

Cara Menurunkan Risiko Penyakit pada Lansia

Beberapa langkah sederhana yang terbukti bermanfaat:

✓ Rutin berolahraga sesuai kemampuan

✓ Mengonsumsi makanan bergizi seimbang

✓ Mengontrol tekanan darah, gula darah, dan kolesterol

✓ Berhenti merokok

✓ Tidur yang cukup

✓ Menjaga berat badan ideal

✓ Tetap aktif secara sosial

✓ Melakukan pemeriksaan kesehatan berkala

✓ Aktif mengikuti Posyandu Lansia

Kebiasaan-kebiasaan ini dapat membantu memperlambat penurunan fungsi tubuh dan meningkatkan kualitas hidup. 

Penutup

Bertambahnya usia memang meningkatkan risiko berbagai penyakit. Namun usia tua bukanlah vonis untuk hidup dalam kondisi sakit.

Penyakit jantung, diabetes, kanker, osteoporosis, stroke, Alzheimer, Parkinson, demensia, hingga pneumonia memang lebih sering ditemukan pada lansia. Akan tetapi, banyak di antaranya dapat dicegah, dideteksi lebih awal, atau dikendalikan dengan baik.

Kunci utama penuaan sehat bukan sekadar hidup lebih lama, melainkan hidup lebih mandiri, lebih aktif, dan lebih bermakna.

Karena itu, jangan menunggu sakit untuk mulai menjaga kesehatan. Semakin dini upaya pencegahan dilakukan, semakin besar peluang menikmati masa tua yang sehat, produktif, dan bahagia.

Responsive Grid Lansia Premium

#lpclansia

Tonton info singkat kesehatan lansia. Kenali tanda penyakit sebelum terlambat.

Tonton →

#KesehatanLansia

Jangan lewatkan info kesehatan lansia agar lebih cepat memahami gejala tubuh.

Lihat →

#TipsLansiaSehat

Pelajari perubahan organ tubuh lansia dengan penjelasan yang mudah dipahami.

Cek →

Jelajahi LPC Lansia

Sumber

  1. World Health Organization (WHO). Ageing and Health.
  2. National Institute on Aging (NIA). Health and Aging.
  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Healthy Aging.
  4. Alzheimer's Association. 2025 Alzheimer's Disease Facts and Figures.
  5. American Heart Association. Heart Disease and Stroke Statistics.
  6. International Osteoporosis Foundation. Osteoporosis in Older Adults.
  7. American Diabetes Association. Standards of Care in Diabetes.
  8. World Stroke Organization. Stroke Prevention Guidelines.
  9. United Nations Decade of Healthy Ageing 2021–2030.
  10. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelayanan Kesehatan Lansia.












      

Wednesday, 12 April 2023

Pelecehan lansia,hati-hati

 "Jangan berkata kasar.. membentak!"                                                                                                           

Ilustrasi lansia
(canva.com)

     Seiring dengan berjalannya waktu,kedua orang tua mencapai lanjut usia,terjadi penurunan kemampuan penglihatan,pendengaran,gerakan,ketrampilan dan masih banyak yang lain.Sesuai dengan tuntunan agama islam,orang muda apalagi putra-putrinya dilarang berperilaku kasar terhadap keduanya.

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu.Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan " ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia" (QS.Al-Isra'23)

Perkataan "ah" dan membentak tidak boleh dilakukan kepada orang lanjut usia karena itu bagian dari bentuk pelecehan lansia.Bahkan menurut WHO secara global 1 dari 6 orang berusia 60 tahun ke atas mengalami pelecehan di masyarakat setiap tahun. Pelecehan lansia adalah tindakan yang merugikan atau merendahkan martabat seseorang yang sudah lanjut usia. 

Bentuk-bentuk Pelecehan Lansia

๐Ÿ“ฃ Fisik  

Pelecehan fisik pada lansia meliputi penganiayaan, pemukulan, dan penelantaran yang mengakibatkan luka atau cedera pada tubuh mereka. 

๐Ÿ“ฃ Emosional    

Pelecehan emosional pada lansia meliputi mengabaikan atau mengisolasi mereka, mengkritik atau menyalahkan mereka secara berlebihan, atau memberikan perlakuan kasar atau mengintimidasi mereka.

๐Ÿ“ฃ Seksual     

Pelecehan seksual pada lansia terjadi ketika seseorang memaksakan perilaku seksual pada mereka atau melakukan tindakan tidak senonoh atau cabul.

๐Ÿ“ฃ Finansial    

Pelecehan finansial pada lansia meliputi penipuan, penggelapan uang, atau memaksa mereka untuk memberikan uang atau harta benda lainnya.

๐Ÿ“ฃ Penelantaran      

Pelecehan penalantaran pada lansia bentuknya adalah pengabaian atau ketidakpedulian dalam waktu periode tertentu

Dampak pelecehan lansia dapat berupa:

๐Ÿ˜จ Cedera fisik: Lansia yang mengalami pelecehan fisik dapat mengalami cedera serius seperti luka, memar, patah tulang, dan cedera kepala.

๐Ÿ˜จ Gangguan kesehatan mental dan emosional: Pelecehan lansia dapat memicu gangguan kesehatan mental dan emosional seperti depresi, kecemasan, dan stres yang berkepanjangan.

๐Ÿ˜จ Rendahnya harga diri dan kualitas hidup: Pelecehan lansia dapat merendahkan harga diri dan kualitas hidup lansia, yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka secara keseluruhan.

๐Ÿ˜จ Penurunan fungsi kognitif: Lansia yang mengalami pelecehan mungkin mengalami penurunan fungsi kognitif dan memori.

๐Ÿ˜จ Kematian: Pelecehan lansia dapat meningkatkan risiko kematian pada lansia, terutama jika mereka mengalami pelecehan fisik yang serius atau penelantaran.

Beberapa cara untuk memperbaiki dampak pelecehan lansia,antara lain:

๐Ÿ‘ Memberikan dukungan emosional: Memberikan dukungan emosional dan memperbaiki hubungan antara lansia dan keluarga atau orang terdekat mereka dapat membantu memperbaiki kondisi kesehatan mental dan emosional lansia.

๐Ÿ‘ Menyediakan perawatan kesehatan yang tepat: Pemberian perawatan medis yang tepat, termasuk perawatan cedera fisik dan pengobatan untuk gangguan kesehatan mental dan emosional yang mungkin timbul akibat pelecehan lansia.

๐Ÿ‘ Memastikan keamanan lansia: Melakukan tindakan pencegahan keamanan seperti memasang alat pemantau dan memperkuat sistem keamanan di sekitar tempat tinggal lansia dapat membantu mencegah terjadinya pelecehan lagi.

๐Ÿ‘ Melakukan terapi: Lansia yang telah mengalami pelecehan dapat mendapatkan manfaat dari terapi, seperti terapi kognitif atau terapi perilaku kognitif, yang dapat membantu mereka mengatasi gangguan mental dan emosional.

๐Ÿ‘ Meningkatkan kesadaran masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pelecehan lansia dan dampaknya dapat membantu mencegah terjadinya pelecehan lagi dan memperkuat dukungan sosial bagi lansia.

๐Ÿ‘ Mengambil tindakan hukum: Melaporkan pelecehan lansia ke pihak yang berwenang dan mengambil tindakan hukum yang diperlukan dapat membantu memastikan bahwa pelaku bertanggung jawab atas tindakan mereka.

     Memperbaiki dampak pelecehan lansia pada lansia memerlukan upaya yang terintegrasi dan kolaboratif dari berbagai pihak, termasuk keluarga, tenaga medis, pemerintah, dan masyarakat luas,hal ini memerlukan waktu dan usaha, namun dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi kesehatan dan kesejahteraan mereka. Pelecehan lansia sangat tidak patut dan harus dicegah. Setiap orang harus menghormati martabat dan hak-hak warga lanjut usia serta membantu mencegah pelecehan lansia dengan memberikan dukungan dan perhatian pada mereka. Jika ada lansia menjadi korban pelecehan,segera laporkan ke pihak yang berwenang untuk tindakan lebih lanjut.







Sumber:

https://www.who.int/publications/i/item/9789240052550