Pendahuluan
Memasuki usia lanjut, banyak orang mulai menyadari bahwa kebahagiaan bukan lagi tentang memiliki banyak barang, tetapi tentang hidup yang lebih ringan, tertata, dan bermakna. Di sinilah konsep Simple Living atau Decluttering menjadi sangat relevan. Hidup sederhana bukan berarti hidup dalam kekurangan, melainkan mengurangi hal-hal yang tidak penting agar lansia dapat fokus pada kesehatan, kenyamanan, dan ketenangan batin.
Di era modern yang serba cepat, lansia sering merasa kewalahan dengan banyaknya barang, tugas, atau informasi. Rumah yang penuh barang bisa meningkatkan risiko jatuh, memicu stres, dan mengganggu kenyamanan. Karena itu, Simple Living dapat menjadi pendekatan yang efektif untuk menciptakan ruang yang lebih aman, bersih, dan menenangkan.
![]() |
| Konsep-simple-living-menjadi-pendekatan-yang-aman-dan-menenangkan (Sumber: foto-grup) |
Artikel ini membahas secara lengkap konsep Simple Living bagi lansia, manfaatnya, cara menerapkan decluttering yang aman, serta tips penciptaan lingkungan rumah yang lebih ramah usia lanjut.
Apa Itu Simple Living / Decluttering?
Simple Living adalah gaya hidup yang menekankan kesederhanaan, mengurangi kepemilikan yang tidak diperlukan, dan memilih hal-hal yang benar-benar memberi nilai bagi kehidupan.
Sementara itu, Decluttering adalah proses mengurangi atau menghilangkan barang-barang yang menumpuk dan tidak lagi bermanfaat.
Bagi lansia, kedua konsep ini bertujuan:
-
Mengurangi beban fisik dan mental.
-
Meningkatkan keselamatan dalam rumah.
-
Memperkuat rasa kontrol dan kemandirian.
-
Menciptakan ruang hidup yang tenang dan nyaman.
Manfaat Simple Living bagi Lansia
1. Mengurangi Risiko Jatuh
Rumah yang penuh barang dapat menjadi bahaya tersembunyi. Decluttering membantu:
-
Menghilangkan penghalang di area berjalan.
-
Mencegah tersandung karpet atau benda kecil.
-
Menciptakan ruang bergerak yang lebih luas.
2. Meningkatkan Ketenangan dan Kesehatan Mental
Riset menunjukkan bahwa rumah berantakan dapat meningkatkan hormon stres kortisol. Hidup sederhana membantu lansia:
-
Merasa lebih tenang dan terkontrol.
-
Mengurangi kecemasan dan beban pikiran.
-
Meningkatkan kualitas tidur.
3. Mempermudah Aktivitas Sehari-hari
Barang yang terlalu banyak membuat lansia sulit:
-
Menemukan benda yang diperlukan.
-
Membersihkan rumah.
-
Mengatur ruang secara efisien.
Simple Living memberikan kemudahan dalam seluruh rutinitas harian.
4. Menghemat Energi dan Waktu
Semakin sedikit barang, semakin sedikit pula yang harus diurus, dibersihkan, dan ditata. Lansia bisa fokus pada:
-
Kesehatan.
-
Hobi.
-
Interaksi sosial.
5. Membangun Kemandirian
Rumah yang tertata rapi dan sederhana membuat lansia lebih mudah mengerjakan aktivitas tanpa banyak bantuan.
Langkah Praktis Decluttering untuk Lansia
1. Mulai dari Area Kecil
Jangan mulai dari seluruh rumah. Pilih area seperti:
-
Laci obat,
-
Meja samping tempat tidur,
-
Lemari pakaian.
Dengan cara ini, lansia tidak merasa kewalahan.
2. Gunakan Metode 4 Kotak
Siapkan 4 kategori:
-
Simpan
-
Berikan/Sumbangkan
-
Buang
-
Pertimbangkan nanti
Metode ini sangat membantu mengatur keputusan agar tidak bingung.
3. Fokus pada Keamanan
Prioritaskan penataan area yang sering digunakan:
-
Kamar mandi,
-
Dapur,
-
Jalur menuju kamar tidur.
4. Ajak Keluarga atau Pendamping
Decluttering bagi lansia lebih aman jika dilakukan dengan pendamping untuk:
-
Membantu angkat barang berat,
-
Mengingatkan kenangan penting,
-
Menjaga emosi tetap stabil.
5. Hilangkan Barang Usang atau Tidak Terpakai
Perhatikan barang seperti:
-
Obat kedaluwarsa,
-
Kabel tidak terpakai,
-
Perabot rusak,
-
Tumpukan koran.
6. Pertahankan Barang yang Memiliki Makna
Simple Living bukan menghapus kenangan, tetapi menjaga hanya yang paling berarti:
-
Foto keluarga,
-
Koleksi khusus,
-
Barang hadiah penuh nilai emosional.
Lima (5) Langkah Minimalis yang Menghilangkan Cemas dan Penyakit Lansia
Minimalis bagi lansia bukanlah tentang membuang semua barang, melainkan mengoptimalkan energi dan fokus pada apa yang benar-benar penting.
Langkah 1: Decluttering Digital dan Sosial
Minimalisme modern dimulai dari otak, bukan lemari. Barang digital dan beban sosial seringkali menjadi sumber stres terbesar.
Aksi: Batasi berita yang provokatif dan scrolling media sosial yang memicu perbandingan. Berhenti mengikuti akun atau grup yang memancarkan energi negatif atau kepanikan.
Manfaat Biologis: Mengurangi paparan informasi berlebihan secara drastis menurunkan pelepasan hormon Kortisol (hormon stres), sehingga meningkatkan ketenangan mental.
Fokus Lansia: Menyaring informasi agar pikiran tetap jernih, mencegah kecemasan, dan melindungi waktu tidur.
Langkah 2: Aturan 20/80 untuk Pakaian dan Barang
Fokuskan energi harian hanya pada 20% barang yang benar-benar digunakan. Barang yang tidak terpakai adalah "keputusan yang tertunda" yang membebani mental.
Aksi: Identifikasi 80% pakaian atau perabotan yang tidak pernah digunakan dalam setahun terakhir. Berikan, jual, atau simpan di luar pandangan. Sediakan hanya barang yang paling nyaman dan berfungsi (misalnya, 3 pasang sepatu paling sering dipakai).
Manfaat Biologis: Lingkungan yang rapi mengurangi input visual yang harus diproses otak, sehingga menurunkan beban kognitif (terutama penting bagi lansia yang fungsi otaknya lebih rentan terhadap stimulasi berlebihan).
Fokus Lansia: Mengurangi risiko jatuh dan mempermudah menemukan barang, menghemat waktu dan energi harian.
Langkah 3: Mengadopsi Pola Makan Simple Fuel
Ubah pola makan yang rumit dan penuh variasi menjadi pola makan yang sederhana, konsisten, dan berfokus pada nutrisi inti untuk mencegah peradangan.
Aksi: Batasi diri pada 5-7 resep favorit yang paling mudah disiapkan, bernutrisi tinggi, dan tidak memicu masalah pencernaan (seperti kentut atau refluks). Singkirkan bahan-bahan "mewah" atau snack berkalori kosong yang memicu lonjakan gula darah.
Manfaat Biologis: Pola makan sederhana mengurangi fluktuasi gula darah dan peradangan usus, yang secara langsung berkaitan dengan penyakit kronis dan suasana hati.
Fokus Lansia: Konsistensi diet memudahkan kepatuhan terhadap obat dan meminimalkan masalah pencernaan yang memicu stres.
Langkah 4: Minimalisme Komitmen Sosial (Kualitas Bukan Kuantitas)
Tinggalkan komitmen yang menghabiskan energi tetapi tidak memberikan kebahagiaan sejati.
Aksi: Fokuskan interaksi sosial hanya pada 3-5 orang yang benar-benar memberikan dukungan emosional (high-quality connections). Tolak undangan yang hanya bersifat kewajiban atau yang memerlukan perjalanan jauh dan melelahkan.
Manfaat Biologis: Interaksi sosial berkualitas tinggi memicu pelepasan Oksitosin (hormon ikatan) dan Serotonin, yang melawan depresi dan meningkatkan rasa aman (melalui Saraf Vagus).
Fokus Lansia: Energi yang terbatas diinvestasikan untuk mendapatkan dukungan emosional maksimal, mencegah isolasi tanpa memicu kelelahan fisik.
Langkah 5: Minimalist Motion (Gerakan yang Efisien)
Alih-alih olahraga berat, fokus pada gerakan yang memberikan manfaat fisik maksimal dengan risiko cedera minimal.
Aksi: Alokasikan 10-15 menit sehari untuk Tiga Pilar Gerakan Minimalis: 1) Peregangan (fleksibilitas), 2) Jalan kaki singkat (kardio ringan), dan 3) Latihan keseimbangan (pencegahan jatuh). Hentikan rutinitas olahraga yang rumit atau berlebihan.
Manfaat Biologis: Gerakan teratur menjaga Vagal Tone tetap kuat, memperbaiki sirkulasi, dan memicu pelepasan Endorfin tanpa membebani sendi.
Fokus Lansia: Memprioritaskan kualitas hidup harian (fleksibilitas dan keseimbangan) di atas penampilan fisik, secara langsung mengurangi risiko jatuh fatal.
Tips Menciptakan Rumah Simple Living yang Ramah Lansia
1. Gunakan Perabot Minimalis dan Ergonomis
Pilih kursi, meja, dan rak yang stabil dan mudah dijangkau.
2. Maksimalkan Pencahayaan
Rumah terang mengurangi risiko kecelakaan sekaligus menciptakan suasana positif.
3. Gunakan Kotak Penyimpanan Berlabel
Membantu lansia cepat menemukan barang yang dibutuhkan.
4. Hindari Karpet Tebal
Karpet tebal mudah membuat tersandung. Gunakan karpet tipis dengan anti-slip.
5. Jaga Jalur Jalan Tetap Kosong
Pastikan jalur menuju kamar mandi, dapur, dan kamar tidur tidak terhalang.
Kesimpulan
Simple Living atau decluttering bukan sekadar tren, melainkan gaya hidup yang memberikan dampak besar bagi kualitas hidup lansia. Dengan hidup lebih sederhana, lansia dapat menikmati:
-
Rumah yang aman,
-
Pikiran yang lebih tenang,
-
Aktivitas yang lebih mudah,
-
Waktu dan energi untuk hal yang benar-benar penting.
Menerapkan hidup sederhana tidak harus drastis. Mulai dari langkah kecil sudah mampu membawa perubahan besar. Yang terpenting adalah menjaga kenyamanan, keamanan, dan kedamaian lansia dalam menjalani masa tua yang sehat dan bahagia.
Tantangan untuk Anda:
Tulis di kolom komentar dan bagikan pengalaman Anda.
Artikel lain yang Menarik:
Artikel Inspirasi Lansia
Sumber:
-
Kim, S. & Lee, H. (2021). Impact of Home Clutter on Stress and Well-Being in Older Adults. Journal of Environmental Psychology.
-
Mather, M. (2016). Aging and Cognitive Control: The Role of Simplification in Daily Living. Psychological Science Review.
-
National Institute on Aging. (2022). Home Safety Tips for Older Adults.
-
Wiles, J. (2019). Living Simply: Benefits for Mental Health in the Elderly. Gerontology Today.
-
Peterson, L. (2020). Decluttering and Aging in Place: Creating Safe and Supportive Homes for Seniors. Aging & Society Journal.




.webp)
Termasuk mendengarkan,membaca, nonton berita politik ya ? Karena bisa menimbulkan kecemasan, meningkatkan emosional, ketakutan, dsb yg bersifat negatip
ReplyDeleteIntinya hidup sederhana,tetap berkecukupan tak merasa ada kehilangan,dan kekurangan apapun yg dimiliki...alias"PLONG"lebih mengisi untuk kehidupan akhirat daripada dunia yg fana ini..
ReplyDeleteSehat jasmani dan rohani
Delete