Masalah sering lupa jumlah rakaat saat shalat pada lansia adalah hal yang sangat umum, wajar, dan manusiawi. Banyak orang tua merasa gelisah, bahkan menyalahkan diri sendiri karena mengira lupa rakaat adalah tanda kurang khusyuk atau lemahnya iman.
Padahal, secara ilmiah dan psikologis, kondisi ini bukan semata-mata persoalan spiritual, melainkan berkaitan erat dengan proses biologis alami pada otak yang menua. Memahami hal ini penting agar lansia dapat beribadah dengan lebih tenang, nyaman, dan penuh kasih terhadap diri sendiri.
![]() |
| Lansia sering lupa mengenai jumlah rakaat shalat (Sumber: foto grup) |
Mengapa Lansia Lebih Mudah Lupa Jumlah Rakaat? Ini Penjelasan Ilmiahnya
1. Penurunan Working Memory (Memori Kerja)
Dalam ilmu psikologi kognitif, working memory adalah kemampuan otak untuk menyimpan informasi jangka pendek sambil melakukan aktivitas lain secara bersamaan.
Saat shalat, otak melakukan beberapa tugas sekaligus:
-
Mengingat bacaan doa dan ayat
-
Menghitung jumlah rakaat
-
Mengatur gerakan tubuh
-
Menghadapi sensasi fisik (nyeri lutut, punggung, atau keseimbangan)
Pada lansia, kapasitas memori kerja ini secara alami menurun. Akibatnya, ketika fokus otak tersedot pada bacaan atau rasa tidak nyaman di tubuh, angka rakaat mudah “terlepas” dari ingatan.
π Ini bukan lalai, melainkan batas kemampuan kognitif yang wajar.
2. Source Monitoring Error (Kesalahan Pemantauan Sumber)
Source monitoring error adalah kondisi ketika seseorang sulit membedakan antara apa yang benar-benar sudah dilakukan dan apa yang baru dipikirkan.
Contoh yang sering terjadi pada lansia:
“Tadi saya sudah sujud kedua, atau baru berniat mau sujud ya?”
Karena shalat adalah aktivitas yang dilakukan ribuan kali sepanjang hidup, ingatan tentang shalat hari ini mudah bercampur dengan memori shalat sebelumnya. Otak menjadi ragu: apakah ini kejadian barusan, atau ingatan lama?
3. Penurunan Kecepatan Memproses Informasi
Seiring usia, otak membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses perpindahan antar gerakan.
Jika:
-
Gerakan shalat dilakukan agak cepat
-
Pikiran teralihkan
-
Ada gangguan fisik
Maka otak belum sempat “mencatat” rakaat tersebut ke dalam memori. Akibatnya, ketika berdiri di rakaat berikutnya, muncul rasa blank atau kosong.
![]() |
| Proses informasi yang lambat membuat lansia sering lupa jumlah rakaat (Sumber : foto grup) |
4. Faktor Gangguan Kesehatan (Medis)
Beberapa kondisi medis yang umum pada lansia juga dapat memperberat masalah ini, antara lain:
-
Gejala awal demensia atau Alzheimer
-
Gangguan vaskular (aliran darah ke otak tidak optimal)
-
Efek samping obat-obatan, seperti obat tekanan darah, obat tidur, obat saraf, atau obat nyeri
Efek samping ringan seperti pusing, lambat berpikir, atau kebingungan sesaat sudah cukup untuk mengganggu fokus saat shalat.
Cara Membantu Lansia agar Lebih Tenang Saat Shalat
Kabar baiknya, ada banyak solusi sederhana, praktis, dan penuh kasih yang dapat membantu lansia.
1. Shalat Berjemaah (Solusi Terbaik)
Dengan menjadi makmum, lansia tidak perlu lagi menghitung rakaat. Mereka cukup mengikuti imam, sehingga beban kognitif berkurang drastis.
π Ini adalah solusi paling dianjurkan, baik secara psikologis maupun spiritual.
![]() |
| Lansia yang menjadi makmum dalam shalat berjamaah tidak lagi menghitung rakaat (Sumber: foto grup) |
2. Gunakan “Penanda” Bacaan
Sarankan pola bacaan yang konsisten dan berbeda di setiap rakaat, misalnya:
-
Rakaat pertama: Surah Al-Kafirun
-
Rakaat kedua: Surah Al-Ikhlas
Perbedaan bunyi dan irama bacaan membantu otak menandai posisi rakaat tanpa harus menghitung angka secara sadar.
3. Gunakan Alat Bantu
Saat ini tersedia berbagai alat bantu ibadah yang ramah lansia, seperti:
-
Sajadah pintar
Rak’ah counter (alat kecil yang diletakkan di sajadah dan menghitung rakaat otomatis)
4. Terapkan Prinsip Fikih dengan Tenang
Dalam Islam, jika ragu:
-
Ambillah jumlah rakaat yang paling sedikit (yang paling diyakini)
-
Lakukan Sujud Sahwi di akhir salat
Allah SWT Maha Mengetahui keterbatasan hamba-Nya dan tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.
Satu Pesan Empati untuk Lansia dan Keluarga
Jangan biarkan lansia merasa:
-
Berdosa
-
Malu
-
Stres
-
Takut ibadahnya tidak diterima
Stres dan kecemasan justru memperburuk daya ingat dan fokus, sehingga masalah lupa rakaat semakin sering terjadi.
Shalat bukan ujian kesempurnaan otak, melainkan perjumpaan hati dengan Allah. Ketulusan niat dan ketenangan jiwa jauh lebih utama daripada ketepatan hitungan rakaat.
![]() |
| Lansia tersenyum setelah shalat berjamaah di masjid, tidak perlu bingung lupa rakaat. (Sumber: foto grup) |
Penutup
Sering lupa jumlah rakaat pada lansia bukan tanda kurang khusyuk, melainkan hasil dari proses biologis, psikologis, dan medis yang wajar seiring bertambahnya usia.
Dengan pemahaman yang benar, pendekatan yang lembut, serta dukungan keluarga, lansia dapat tetap menjalankan shalat dengan tenang, bermartabat, dan penuh rasa aman.
Karena sesungguhnya, Allah Maha Pengasih dan Maha Memahami setiap keterbatasan hamba-Nya.
Tantangan untuk Anda:
Bagaimana cara Anda mengatasi lupa rakaat ! Tulis di kolam komentar agar lansia lain dapat tercerahkan !
Artikel lain yang Menarik:
Artikel Inspirasi Lansia:
Prestasi besar sering lahir dari ketekunan panjang. Kisah ini akan mengubah cara Anda memandang usia dan kemampuan diri. π Klik untuk membaca selengkapnya.Artikel Stop Jatuh Lansia:
Sumber:
-
Baddeley, A. (2012). Working Memory: Theories, Models, and Controversies. Annual Review of Psychology.
-
Schacter, D. L. (2011). The Seven Sins of Memory. Psychology Press.
-
Harada, C. N., Natelson Love, M. C., & Triebel, K. (2013). Normal Cognitive Aging. Clinics in Geriatric Medicine.
-
American Psychological Association (APA). Aging and Cognitive Function.
-
Al-Nawawi. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (Bab Sujud Sahwi).
-
Kementerian Kesehatan RI. Kesehatan Otak pada Lansia.








Terimakasih untuk artikel lupa rakaat
ReplyDelete