Pendahuluan
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia medis dan kesehatan integratif semakin memberi perhatian pada praktik sederhana namun berdampak besar, yaitu grounding atau earthing. Grounding merujuk pada aktivitas fisik yang menghubungkan tubuh manusia secara langsung dengan permukaan bumi, seperti berjalan tanpa alas kaki di tanah, rumput, pasir pantai, atau berendam di air alami.
Konsep ini didasarkan pada prinsip biofisika bahwa bumi memiliki muatan listrik negatif alami yang kaya elektron, sementara tubuh manusia—akibat stres, polusi, radiasi elektromagnetik, dan peradangan—sering mengalami kelebihan muatan positif (radikal bebas). Ketidakseimbangan inilah yang diyakini berkontribusi terhadap berbagai penyakit kronis, terutama pada lansia.
![]() |
| Berendam di dalam air merupakan bentuk Grounding (Sumber: foto hrup) |
Artikel ini akan membahas grounding dari sudut pandang medis dan ilmiah, mulai dari mekanisme transfer elektron, pengaruh terhadap inflamasi, sistem saraf, hingga panduan aman penerapannya sebagai terapi pendamping.
Apa Itu Grounding dalam Perspektif Medis?
Secara fisiologis, tubuh manusia adalah konduktor listrik yang sangat baik karena mengandung air, elektrolit, dan jaringan ikat (fascia) yang luas. Saat kulit bersentuhan langsung dengan permukaan bumi, terjadi aliran elektron bebas dari bumi ke dalam tubuh.
Elektron ini berperan penting dalam:
-
Menetralkan radikal bebas
-
Mengurangi stres oksidatif
-
Menyeimbangkan sistem saraf otonom
-
Mendukung proses penyembuhan alami tubuh
![]() |
| Grounding-dapat-menetralkan-radikal-bebas. (Sumber: image-ai) |
1. Mekanisme Transfer Elektron: Antioksidan Alami dari Bumi
Netralisasi Radikal Bebas
Radikal bebas bermuatan positif dapat merusak sel, DNA, dan membran jaringan. Ketika tubuh ter-grounding, elektron bermuatan negatif dari bumi bertindak sebagai antioksidan alami, menetralkan radikal bebas tersebut.
Peran Jaringan Ikat dan Sistem Saraf
Elektron yang masuk tidak hanya berada di permukaan kulit, tetapi menyebar melalui:
-
Jaringan ikat (fascia)
-
Sistem saraf perifer
-
Sistem vaskular
Karena sifatnya yang cepat dan menyeluruh, efek grounding sering kali dirasakan dalam bentuk relaksasi, penurunan nyeri, dan kejernihan mental.
2. Pengaruh Grounding terhadap Inflamasi (Peradangan)
Peradangan kronis adalah akar dari banyak penyakit degeneratif pada lansia, seperti:
-
Osteoarthritis
-
Penyakit jantung
-
Diabetes tipe 2
-
Penyakit neurodegeneratif
Temuan Medis
Studi eksperimental menunjukkan bahwa grounding dapat:
-
Menurunkan aktivitas neutrofil dan limfosit berlebih
-
Mengurangi pembengkakan jaringan pasca cedera
-
Mempercepat pemulihan otot dan sendi
Manfaat Khusus bagi Lansia
Karena inflamasi kronis sering berlangsung tanpa gejala jelas, grounding menjadi pendekatan non-farmakologis yang aman untuk membantu meredakan nyeri sendi dan kekakuan otot secara alami.
3. Grounding dan Pengenceran Darah (Viskositas Darah)
Salah satu temuan penting dalam Journal of Alternative and Complementary Medicine menunjukkan bahwa grounding memengaruhi sel darah merah.
Zeta Potential
Grounding meningkatkan muatan negatif pada permukaan sel darah merah, sehingga:
-
Sel darah tidak saling menggumpal
-
Aliran darah menjadi lebih lancar
-
Risiko pembekuan darah berkurang
Dampak Kardiovaskular
Bagi lansia, darah yang lebih encer berarti:
-
Sirkulasi oksigen lebih baik
-
Beban kerja jantung berkurang
-
Tekanan darah lebih stabil
4. Regulasi Kortisol dan Sistem Saraf Otonom
Menyeimbangkan Hormon Stres
Grounding terbukti membantu menormalkan ritme kortisol, terutama pada malam hari. Ini sangat penting bagi lansia yang sering mengalami:
-
Insomnia
-
Tidur dangkal
-
Mudah terbangun
Aktivasi Sistem Parasimpatik
Dengan grounding, tubuh beralih dari mode:
-
Fight or flight (simpatis)
ke -
Rest and digest (parasimpatik)
Hasilnya adalah rasa tenang, denyut jantung lebih stabil, dan pemulihan tubuh yang lebih optimal.
Cara Melakukan Grounding secara Medis
Beberapa metode grounding yang direkomendasikan:
1. Berjalan Tanpa Alas Kaki
-
Durasi: 20–30 menit
-
Media terbaik: rumput lembap, tanah basah, pasir pantai
-
Catatan: permukaan basah lebih konduktif
2. Berendam di Air Alami
-
Laut, danau, atau sungai
-
Air (terutama air garam) adalah penghantar elektron terbaik
3. Alat Grounding
-
Grounding mat atau seprai grounding
-
Terhubung ke kabel arde (ground) bangunan
-
Alternatif aman bagi lansia yang sulit keluar rumah
Efektivitas Media Penghantar Grounding
Tidak semua permukaan tanah memiliki kemampuan konduksi yang sama.
1. Air Laut dan Pasir Basah (Paling Efektif)
-
Kandungan mineral tinggi
-
Luas kontak kulit maksimal
-
Efek cepat pada inflamasi dan relaksasi saraf
![]() |
| Air laut dan pasir basah paling efektif untuk grounding (Sumber: foto grup) |
2. Rumput dan Tanah Lembap
-
Konduktivitas tinggi karena kandungan air
-
Baik dilakukan pagi hari (rumput berembun)
-
Kontak dengan mikroba tanah mendukung imunitas (hygiene hypothesis)
3. Beton dan Batu Alam
-
Beton polos masih konduktif
-
Cocok untuk lansia di area perkotaan
-
Hindari beton berlapis cat atau keramik
![]() |
| Earthing atau grounding dapat dilakukan di jalan beton (Sumber: foto grup) |
Media yang Tidak Efektif
-
Aspal
-
Kayu kering
-
Plastik dan karet
(semua bersifat isolator listrik)
Pengaruh Grounding pada Sistem Saraf Pusat
Peningkatan HRV (Heart Rate Variability)
HRV yang lebih tinggi menunjukkan sistem saraf yang lebih adaptif dan sehat. Grounding terbukti meningkatkan HRV, yang berkaitan dengan:
-
Ketahanan terhadap stres
-
Kesehatan jantung
-
Umur panjang
Sinkronisasi Gelombang Otak
Studi EEG menunjukkan perubahan cepat pada aktivitas listrik otak, dengan efek:
-
Kejernihan mental
-
Penurunan kecemasan
-
Berkurangnya brain fog
Tabel Ringkasan Media Grounding
| Media | Tingkat Konduktivitas | Keterangan |
|---|---|---|
| Air Laut / Pasir Basah | Sangat Tinggi | Terbaik untuk pemulihan inflamasi |
| Rumput Berembun | Tinggi | Ideal di pagi hari |
| Tanah Kering | Sedang–Rendah | Efek lebih lambat |
| Beton Polos | Sedang | Praktis untuk lansia |
| Kayu / Aspal / Plastik | Nol | Tidak efektif |
Tips Implementasi Grounding Aman untuk Lansia
Jika Anda atau anggota keluarga lansia ingin mulai mempraktikkan ini, perhatikan panduan "Earth-Safety" berikut:
Uji Arde (Ground): Jika menggunakan alat indoor, pastikan instalasi listrik rumah memiliki sistem grounding yang benar. Gunakan alat socket tester untuk memastikannya.
Kebersihan Kaki: Setelah melakukan grounding di luar ruangan, bersihkan kaki dengan air hangat. Bagi lansia penderita diabetes, hal ini sangat krusial untuk mencegah infeksi dari luka yang tidak disadari.
Konsistensi bukan Intensitas: Durasi Awal 15–20 menit, tingkatkan bertahap.Melakukan grounding 15 menit setiap hari jauh lebih efektif daripada melakukannya 3 jam tetapi hanya seminggu sekali.
Hidrasi: Minum air cukup untuk meningkatkan konduktivitas internal
- Konsistensi: Lebih baik rutin singkat daripada jarang lama
![]() |
| Lansia yang gembira setelah melakukan grounding (Sumber: foto grup) |
Keamanan (Kontraindikasi)
-
Pengguna Obat Pengencer Darah: Konsultasikan dengan dokter
-
Keamanan Lingkungan: Hindari tanah tercemar, benda tajam, dan risiko infeksi
-
Kulit Sensitif Lansia: Gunakan alas alami jika diperlukan
Kesimpulan
Grounding bukan sekadar tren kesehatan alternatif, melainkan praktik berbasis biofisika dan fisiologi manusia yang semakin mendapat dukungan ilmiah. Dengan mekanisme transfer elektron, pengurangan inflamasi, pengenceran darah, serta penyeimbangan sistem saraf, grounding menawarkan terapi pendamping yang aman, murah, dan alami, terutama bagi lansia.
Di tengah gaya hidup modern yang terputus dari alam, kembali “menyentuh bumi” dapat menjadi langkah sederhana namun bermakna untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan kualitas hidup di usia lanjut.
Artikel lain yang Menarik:
Artikel Inspirasi Lansia
Sumber:
1. Chevalier, G., Sinatra, S. T., Oschman, J. L., & Delany, R. M. (2013). Earthing (grounding) the human body reduces blood viscosity—a major factor in cardiovascular disease. Journal of Alternative and Complementary Medicine, 19(2), 102–110. https://doi.org/10.1089/acm.2011.0820
2. Chevalier, G., Mori, K., & Oschman, J. L. (2006). The effect of earthing (grounding) on human physiology. European Biology and Bioelectromagnetics, 7(8), 600–621.
3. Ghaly, M., & Teplitz, D. (2004). The biological effects of grounding the human body during sleep as measured by cortisol levels and subjective reporting of sleep, pain, and stress. Journal of Alternative and Complementary Medicine, 10(5), 767–776. https://doi.org/10.1089/acm.2004.10.767
4. Oschman, J. L. (2007). Can electrons act as antioxidants? A review and commentary. Journal of Alternative and Complementary Medicine, 13(9), 955–967. https://doi.org/10.1089/acm.2007.7048
5.Oschman, J. L., Chevalier, G., & Brown, R. (2015). The effects of grounding (earthing) on inflammation, the immune response, wound healing, and prevention and treatment of chronic inflammatory and autoimmune diseases. Journal of Inflammation Research, 8, 83–96. https://doi.org/10.2147/JIR.S69656
6. Sinatra, S. T., Oschman, J. L., & Chevalier, G. (2017). Earthing: The most important health discovery ever? Basic Health Publications.









.webp)
No comments:
Post a Comment