xmlns:og='http://ogp.me/ns#' LPC- Lansia Preneurship Community: SINYAL BAHAYA: Waspada Bau dan Tekstur Keringat Lansia yang Berubah, Saraf Anda Mungkin Terancam!

Tuesday, 27 January 2026

SINYAL BAHAYA: Waspada Bau dan Tekstur Keringat Lansia yang Berubah, Saraf Anda Mungkin Terancam!

        Keringat adalah cairan bening yang diproduksi oleh kelenjar keringat (glandula sudorifera) di kulit. Keringat terdiri dari 99% air, sisanya elektrolit (terutama natrium dan klorida), sedikit asam laktat, urea, dan trace minerals.

Tubuh tidak sekadar membuang cairan, tetapi sedang menjalankan mekanisme biologis penting untuk mengatur suhu, menstabilkan elektrolit, dan mengaktifkan respons saraf otonom.

Keringat lansia seringkali mengalami perubahan
(Sumber: foto-grup)

Bagaimana Keringat Terjadi?

Proses Biologis:

1. Otak: Hipotalamus sebagai “Termostat" Tubuh.

Saat suhu tubuh naik (karena panas, olahraga, demam, stres), hipotalamus mendeteksi peningkatan suhu darah.
👉 Otak lalu mengirim sinyal ke saraf simpatis untuk mengaktifkan kelenjar keringat.

2. Sistem Saraf Simpatis: Penggerak Utama Keringat

Uniknya, keringat dikendalikan oleh sistem simpatis tetapi menggunakan neurotransmiter asetilkolin (berbeda dari organ lain yang memakai norepinefrin).
Ini membuat keringat dapat muncul karena emosi, bukan hanya panas.

3. Kelenjar Keringat Mulai Bekerja

Ada dua jenis kelenjar:

A. Kelenjar Ekrin (90% seluruh tubuh — utama untuk pendinginan)

  • Menyebar di seluruh tubuh

  • Menghasilkan keringat cair, bening

  • Kandungan: air, elektrolit (Na⁺, Cl⁻), sedikit kalium, laktat

  • Berfungsi mendinginkan tubuh melalui evaporasi (penguapan)

Ini sebabnya keringat tidak menurunkan suhu kecuali mengering (menguap).

B. Kelenjar Apokrin (ketiak & sekitar genital — pemicu bau badan)

  • Aktif saat pubertas

  • Mengeluarkan cairan lebih kental, mengandung protein & lipid

  • Tidak berbau, tetapi bakteri kulit memecahnya → BAU BADAN

Mengapa Tubuh Harus Berkeringat?

1) Mengatur Suhu Tubuh

Fungsi paling vital.
Saat keringat menguap dari kulit → tubuh melepaskan panas → suhu turun.

Tanpa keringat → risiko heat stroke.

2) Menyeimbangkan Elektrolit

Keringat membawa keluar natrium dan klorida.
Ini mengapa olahraga panjang tanpa hidrasi → pusing, kram, lemas.

3) Respons Emosi

Simpatis aktif → keringat tangan dan kening muncul saat:

  • cemas

  • gugup

  • takut

  • stress

Disebut emotional sweating.

Keringat pada tangan muncul saat mengalami stres
(Sumber: foto-grup)

4) Membuang Sisa Metabolisme (sedikit, bukan utama)

Keringat mengandung urea & asam laktat, tetapi porsi detoksifikasi sangat kecil.
Fungsi utama tetap termoregulasi, bukan detoks.

Mengapa Keringat Bisa Banyak atau Sedikit?

🔺 Keringat Berlebih (Hiperhidrosis)

Disebabkan oleh:

  • overaktifnya saraf simpatis

  • hormon tiroid berlebih

  • kecemasan

  • genetik

  • menopause

  • demam

  • hipoglikemia

🔻 Keringat Sedikit (Anhidrosis/Hipohidrosis)

Berbahaya karena tubuh tidak bisa mendingin.
Disebabkan oleh:

  • kerusakan saraf otonom

  • dehidrasi berat

  • penyakit kulit tertentu

  • efek obat

Apa yang Membuat Bau Keringat? (Ilmiah)

Keringat sendiri tidak berbau.
Bau berasal dari:

Bakteri kulit

Bakteri memecah lipid & protein pada keringat apokrin → menghasilkan asam lemak volatil yang berbau.

Makanan pedas

Capsaicin mengaktifkan reseptor panas → memicu keringat lebih banyak.

Genetik

Ada varian gen ABCC11 yang menentukan apakah keringat ketiak kita berbau atau tidak.

Fakta Biologis Unik tentang Keringat

  • Jumlah kelenjar keringat ± 2–4 juta.

  • Telapak tangan & kaki memiliki kelenjar paling banyak.

  • Stres memicu keringat dingin (emotional sweating).

  • Keringat orang yang sering olahraga mengandung lebih sedikit garam karena tubuh beradaptasi.

 Bagaimana Kelenjar Keringat Berubah pada Lansia?

Saat memasuki usia 55–60 tahun ke atas, terjadi perubahan biologis yang memengaruhi jumlah, fungsi, dan sensitivitas kelenjar keringat.

🔻 A. Jumlah dan Aktivitas Kelenjar Keringat Menurun

  • Kelenjar ekrin (yang bertugas mendinginkan tubuh) menjadi lebih sedikit aktif.

  • Struktur kelenjar mengalami atrofi (penyusutan).

  • Respons saraf simpatis yang memicu keringat melemah.

👉 Akibatnya:

  • Lansia lebih sedikit berkeringat dibanding usia muda.

  • Proses pendinginan tubuh lebih lambat, sehingga risiko heat stroke meningkat.

B. Kulit Lansia Menjadi Lebih Tipis dan Kering

Karena produksi lipid dan kolagen menurun →

  • Penguapan keringat lebih cepat.

  • Keringat terasa tidak terlalu “basah”.

C. Kelenjar Apokrin juga Melemah

Kelenjar pada ketiak dan area genital berkurang fungsi →

  • Bau badan justru bisa menurun pada sebagian lansia.

  • Namun pada lansia yang sakit, bau badan bisa meningkat → tanda infeksi.

D. Respons Emosi Terhadap Keringat Berubah

Sistem saraf otonom lansia menurun fungsi →

  • Keringat dingin atau keringat karena stres lebih mudah muncul.

  • Atau justru tidak muncul sama sekali pada sebagian orang.

Kesimpulan singkat perubahan biologis pada lansia:

✔️ Keringat lebih sedikit
✔️ Pendinginan tubuh lebih lambat
✔️ Rentan overheating
✔️ Bakteri kulit berubah → bau badan bisa berubah
✔️ Respons gugup/emosi terhadap keringat tidak stabil

Indikasi Penyakit Jika Pola Keringat Lansia Berubah

Perubahan keringat pada lansia bisa menjadi tanda penyakit serius. Berikut tanda-tanda yang perlu diwaspadai:

A. Keringat Berlebihan (Hiperhidrosis) pada Lansia

Jika lansia berkeringat tidak wajar padahal tidak panas atau beraktivitas, ini dapat menjadi tanda:

1. Masalah Jantung

  • Serangan jantung (keringat dingin + nyeri dada)

  • Heart failure (mudah berkeringat saat aktivitas ringan)

2. Hipertiroid (Tiroid Terlalu Aktif)

Gejala tambahan:

  • Gemetar

  • Berat badan turun

  • Jantung berdebar

3. Infeksi

Infeksi sering menyebabkan:

  • Demam + keringat malam

  • Bau badan berubah

  • Tubuh sangat lemah

Termasuk:

  • TBC

  • Infeksi saluran kemih

  • Infeksi paru

4. Diabetes Tidak Terkontrol

Gula darah rendah (hipoglikemia) menyebabkan:

  • Keringat dingin

  • Gemetar

  • Pusing

5. Parkinson / Gangguan Saraf Otonom

Ciri:

  • Keringat berlebihan di wajah atau kepala

  • Bagian tubuh lain justru kering

B. Tidak Berkeringat (Anhidrosis) pada Lansia — Kondisi Berbahaya

Lansia yang jarang berkeringat bisa tidak mampu mendinginkan tubuh, sehingga cepat panas.

Penyebab medis:

  • Kerusakan saraf otonom (neuropati diabetik)

  • Penyakit Parkinson tahap lanjut

  • Efek obat tertentu

  • Dehidrasi berat

  • Penyakit kulit yang menyumbat kelenjar keringat

Tanda bahaya:

  • Kulit panas tetapi kering

  • Bingung, mengantuk

  • Pusing berat

  • Wajah memerah

Ini bisa mengarah ke heat stroke.

C. Bau Badan Menguat Tiba-Tiba

Pada lansia, bau badan yang berubah tiba-tiba bisa menandakan:

  • Infeksi bakteri atau jamur

  • Diabetes tidak terkontrol (bau manis/asam)

  • Gangguan ginjal (bau uremik)

  • Penyakit hati

D. Keringat Malam Berlebih

Jika lansia berkeringat banyak saat tidur:

  • TBC

  • Infeksi kronis

  • Gangguan hormon

  • Limfoma atau kanker lain

  • Efek obat darah tinggi atau antidepresan

Kapan Lansia Harus ke Dokter?

✔️ Keringat sangat berlebihan tanpa penyebab jelas
✔️ Tidak berkeringat padahal berada di suhu panas
✔️ Keringat dingin disertai nyeri dada / mual
✔️ Keringat malam setiap hari
✔️ Bau badan berubah drastis
✔️ Keringat disertai gemetar, lemas, atau pusing 

Tonton di YouTube & Subscribe

Penutup

Perubahan kelenjar keringat pada lansia adalah proses alami akibat penuaan. Namun, perubahan tertentu—baik keringat berlebih maupun keringat yang hilang sama sekali—bisa menjadi tanda penyakit serius seperti gangguan jantung, infeksi, gangguan hormon, diabetes, hingga masalah saraf.

Dengan memahami pola keringat, keluarga dan caregiver dapat mendeteksi dini kesehatan lansia sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.

Tantangan untuk Anda:

Apakah Anda memiliki pengalaman menarik mengenai keringat. Ceritakan di kolam komentar agar lain dapat belajar !





Sumber:

  1. Kenney WL. “Thermoregulatory responses to aging.” Sports Medicine Journal.

  2. Farage MA et al. “Skin aging and physiology.” Journal of Dermatological Science.

  3. Low PA. “Autonomic dysfunction in the elderly.” Clinical Autonomic Research.

  4. Smith JJ. “Sweat gland and thermoregulation changes with age.” Gerontology Review.

  5. American Academy of Dermatology. “Sweat glands, hyperhidrosis, and aging.”


No comments:

Post a Comment