Pendahuluan
Ketika Penurunan Kognitif Lansia Tidak Sesuai Pola yang Umum Dikenal
Ketika seorang lansia mulai sering lupa, sulit berkonsentrasi, atau mengalami perubahan perilaku, diagnosis yang paling sering muncul adalah Alzheimer. Namun, perkembangan ilmu saraf modern menunjukkan fakta penting: tidak semua demensia adalah Alzheimer.
Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan menemukan bahwa banyak lansia mengalami penurunan kognitif dengan pola yang tidak cocok dengan Alzheimer, Parkinson, maupun Demensia Vaskular. Sebagian dari mereka ternyata menderita penyakit neurodegeneratif lain yang sebelumnya belum dikenali atau sering salah diagnosis.
Dua di antaranya adalah LATE (Limbic-predominant Age-related TDP-43 Encephalopathy) dan penyakit prion seperti Creutzfeldt-Jakob Disease (CJD)—dua kondisi langka namun sangat penting dalam memahami “demensia misterius” pada usia lanjut.
![]() |
| Wajah lansia tampak marah dan bingung (Sumber: foto-grup) |
Mengapa Tidak Semua Demensia Adalah Alzheimer?
Alzheimer memang merupakan penyebab demensia paling umum, tetapi ia bukan satu-satunya. Dalam praktik klinis, dokter sering menemukan pasien dengan:
-
Gangguan memori yang tidak khas Alzheimer
-
Perjalanan penyakit yang lebih lambat atau justru sangat cepat
-
Respons yang buruk terhadap obat Alzheimer
-
Temuan otak yang tidak sesuai pola klasik
Kondisi inilah yang mendorong para peneliti untuk mendefinisikan ulang berbagai penyakit neurodegeneratif non-Alzheimer.
LATE: Penyakit yang Baru Diakui Secara Resmi (2019)
Apa Itu LATE?
LATE (Limbic-predominant Age-related TDP-43 Encephalopathy) adalah penyakit neurodegeneratif yang:
-
Umumnya menyerang usia lanjut (≥80 tahun)
-
Gejalanya sangat mirip Alzheimer
-
Namun disebabkan oleh protein TDP-43, bukan beta-amyloid atau tau
LATE secara resmi didefinisikan oleh konsensus ilmiah internasional pada tahun 2019, meskipun kasusnya sudah lama ada.
![]() |
| LATE disebabkan oleh protein TDP-43 (Sumber: image ai) |
Mengapa LATE Sering Disalahartikan sebagai Alzheimer?
Secara klinis, LATE menyebabkan:
-
Mudah lupa
-
Kesulitan mengingat kejadian baru
-
Penurunan fungsi kognitif bertahap
Namun secara biologis:
-
Tidak ditemukan plak Alzheimer klasik
-
Kerusakan dominan terjadi di sistem limbik (hipokampus & amigdala)
-
Protein TDP-43 menggumpal dan merusak sel saraf
Akibatnya, banyak lansia yang selama ini disebut “Alzheimer atipikal” ternyata sebenarnya menderita LATE.
Seberapa Umum LATE?
Penelitian autopsi otak menunjukkan bahwa:
-
Hingga 20–50% lansia di atas 80 tahun dengan demensia memiliki patologi LATE
-
LATE sering berdampingan dengan Alzheimer, memperberat gejala
Ini menjelaskan mengapa sebagian pasien mengalami penurunan kognitif lebih berat dari yang diperkirakan.
Penyakit Prion: Ketika Protein Menjadi “Menular”
Apa Itu Penyakit Prion?
Penyakit prion adalah kelompok penyakit neurodegeneratif langka namun sangat fatal, contohnya:
-
Creutzfeldt-Jakob Disease (CJD)
Pada penyakit ini, masalah utamanya bukan bakteri atau virus, melainkan protein otak yang salah lipat (misfolded protein).
Mekanisme yang Mengguncang Dunia Medis
Protein prion yang abnormal:
-
Mengubah protein normal menjadi bentuk abnormal
-
Menyebar dari sel ke sel
-
Menghancurkan jaringan otak
-
Membuat otak tampak berlubang seperti spons (spongiform encephalopathy)
Inilah salah satu mekanisme biologis paling misterius dalam dunia medis.
Gejala Penyakit Prion pada Lansia
-
Penurunan kognitif sangat cepat (mingguan–bulanan)
-
Gangguan koordinasi dan keseimbangan
-
Perubahan kepribadian mendadak
-
Kejang dan gangguan kesadaran
Berbeda dengan Alzheimer yang berkembang bertahun-tahun, penyakit prion berkembang sangat agresif dan hampir selalu berujung fatal.
![]() |
| Lansia mengalami gangguan keseimbangan dan koordinasi (Sumber: foto-grup) |
Mengapa Penyakit Prion Spontan Masih Misterius?
Sebagian besar kasus CJD pada lansia bersifat sporadis, artinya:
-
Tidak diturunkan
-
Tidak ada infeksi jelas
-
Terjadi secara acak
Mengapa protein bisa tiba-tiba salah lipat di usia tua masih menjadi pertanyaan besar ilmu saraf modern.
Tantangan Diagnosis Penyakit Neurodegeneratif Non-Alzheimer
Mengapa Sulit Didiagnosis?
-
Gejala saling tumpang tindih
-
Biomarker terbatas
-
Diagnosis pasti sering membutuhkan pemeriksaan lanjutan
-
Banyak konfirmasi baru diketahui lewat penelitian neuropatologi
Akibatnya, banyak lansia dan keluarga hidup dalam ketidakpastian diagnosis.
Implikasi Penting bagi Kesehatan Lansia
Penemuan penyakit neurodegeneratif non-Alzheimer membawa pesan penting:
-
Tidak semua lupa adalah Alzheimer
-
Diagnosis yang tepat penting untuk perawatan dan perencanaan hidup
-
Keluarga perlu pemahaman bahwa “tidak respons obat” bukan berarti gagal terapi
-
Penelitian masih berkembang dan harapan terus terbuka
Penutup
Penyakit neurodegeneratif Non-Alzheimer seperti LATE dan penyakit prion menunjukkan bahwa penurunan kognitif pada lansia jauh lebih kompleks daripada yang selama ini dipahami.
LATE menjelaskan banyak kasus “Alzheimer misterius”, sementara penyakit prion memperlihatkan betapa rapuhnya sistem protein otak manusia. Keduanya menegaskan bahwa penuaan otak bukan proses tunggal, melainkan hasil interaksi biologis yang sangat rumit.
Memahami kondisi-kondisi ini membantu kita bersikap lebih bijak, empatik, dan ilmiah dalam merawat lansia—bukan hanya memperpanjang usia, tetapi menjaga martabat dan kualitas hidup mereka.
Artikel lain yang Menarik:
Artikel Inspirasi Lansia
Sumber:
-
Nelson, P. T., et al. (2019). LATE: Consensus working group report. Brain.
-
National Institute on Aging. (2023). What is LATE dementia?
-
Prusiner, S. B. (1998). Prions. Proceedings of the National Academy of Sciences.
-
The Lancet Neurology. (2020). Non-Alzheimer dementias: expanding concepts.
-
Mead, S., & Reilly, M. M. (2015). A new prion disease. New England Journal of Medicine.






.webp)
No comments:
Post a Comment