xmlns:og='http://ogp.me/ns#' LPC- Lansia Preneurship Community: January 2026

Thursday, 29 January 2026

LUPA BUKAN SATU-SATUNYA! Penyakit Otak Ini Lebih Ganas dari Alzheimer (LATE)

Pendahuluan

Ketika Penurunan Kognitif Lansia Tidak Sesuai Pola yang Umum Dikenal

Ketika seorang lansia mulai sering lupa, sulit berkonsentrasi, atau mengalami perubahan perilaku, diagnosis yang paling sering muncul adalah Alzheimer. Namun, perkembangan ilmu saraf modern menunjukkan fakta penting: tidak semua demensia adalah Alzheimer.

Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan menemukan bahwa banyak lansia mengalami penurunan kognitif dengan pola yang tidak cocok dengan Alzheimer, Parkinson, maupun Demensia Vaskular. Sebagian dari mereka ternyata menderita penyakit neurodegeneratif lain yang sebelumnya belum dikenali atau sering salah diagnosis.

Dua di antaranya adalah LATE (Limbic-predominant Age-related TDP-43 Encephalopathy) dan penyakit prion seperti Creutzfeldt-Jakob Disease (CJD)—dua kondisi langka namun sangat penting dalam memahami “demensia misterius” pada usia lanjut.

Wajah lansia tampak marah dan bingung
(Sumber: foto-grup)

Mengapa Tidak Semua Demensia Adalah Alzheimer?

Alzheimer memang merupakan penyebab demensia paling umum, tetapi ia bukan satu-satunya. Dalam praktik klinis, dokter sering menemukan pasien dengan:

  • Gangguan memori yang tidak khas Alzheimer

  • Perjalanan penyakit yang lebih lambat atau justru sangat cepat

  • Respons yang buruk terhadap obat Alzheimer

  • Temuan otak yang tidak sesuai pola klasik

Kondisi inilah yang mendorong para peneliti untuk mendefinisikan ulang berbagai penyakit neurodegeneratif non-Alzheimer.

Tonton di YouTube & Subscribe

LATE: Penyakit yang Baru Diakui Secara Resmi (2019)

Apa Itu LATE?

LATE (Limbic-predominant Age-related TDP-43 Encephalopathy) adalah penyakit neurodegeneratif yang:

  • Umumnya menyerang usia lanjut (≥80 tahun)

  • Gejalanya sangat mirip Alzheimer

  • Namun disebabkan oleh protein TDP-43, bukan beta-amyloid atau tau

LATE secara resmi didefinisikan oleh konsensus ilmiah internasional pada tahun 2019, meskipun kasusnya sudah lama ada.

LATE disebabkan oleh protein TDP-43
(Sumber: image ai)

Mengapa LATE Sering Disalahartikan sebagai Alzheimer?

Secara klinis, LATE menyebabkan:

  • Mudah lupa

  • Kesulitan mengingat kejadian baru

  • Penurunan fungsi kognitif bertahap

Namun secara biologis:

  • Tidak ditemukan plak Alzheimer klasik

  • Kerusakan dominan terjadi di sistem limbik (hipokampus & amigdala)

  • Protein TDP-43 menggumpal dan merusak sel saraf

Akibatnya, banyak lansia yang selama ini disebut “Alzheimer atipikal” ternyata sebenarnya menderita LATE.

Seberapa Umum LATE?

Penelitian autopsi otak menunjukkan bahwa:

  • Hingga 20–50% lansia di atas 80 tahun dengan demensia memiliki patologi LATE

  • LATE sering berdampingan dengan Alzheimer, memperberat gejala

Ini menjelaskan mengapa sebagian pasien mengalami penurunan kognitif lebih berat dari yang diperkirakan.

Penyakit Prion: Ketika Protein Menjadi “Menular”

Apa Itu Penyakit Prion?

Penyakit prion adalah kelompok penyakit neurodegeneratif langka namun sangat fatal, contohnya:

  • Creutzfeldt-Jakob Disease (CJD)

Pada penyakit ini, masalah utamanya bukan bakteri atau virus, melainkan protein otak yang salah lipat (misfolded protein).

Mekanisme yang Mengguncang Dunia Medis

Protein prion yang abnormal:

  1. Mengubah protein normal menjadi bentuk abnormal

  2. Menyebar dari sel ke sel

  3. Menghancurkan jaringan otak

  4. Membuat otak tampak berlubang seperti spons (spongiform encephalopathy)

Inilah salah satu mekanisme biologis paling misterius dalam dunia medis.

Gejala Penyakit Prion pada Lansia

  • Penurunan kognitif sangat cepat (mingguan–bulanan)

  • Gangguan koordinasi dan keseimbangan

  • Perubahan kepribadian mendadak

  • Kejang dan gangguan kesadaran

Berbeda dengan Alzheimer yang berkembang bertahun-tahun, penyakit prion berkembang sangat agresif dan hampir selalu berujung fatal.

Lansia mengalami gangguan keseimbangan dan koordinasi
(Sumber: foto-grup)

Mengapa Penyakit Prion Spontan Masih Misterius?

Sebagian besar kasus CJD pada lansia bersifat sporadis, artinya:

  • Tidak diturunkan

  • Tidak ada infeksi jelas

  • Terjadi secara acak

Mengapa protein bisa tiba-tiba salah lipat di usia tua masih menjadi pertanyaan besar ilmu saraf modern.

Tantangan Diagnosis Penyakit Neurodegeneratif Non-Alzheimer

Mengapa Sulit Didiagnosis?

  • Gejala saling tumpang tindih

  • Biomarker terbatas

  • Diagnosis pasti sering membutuhkan pemeriksaan lanjutan

  • Banyak konfirmasi baru diketahui lewat penelitian neuropatologi

Akibatnya, banyak lansia dan keluarga hidup dalam ketidakpastian diagnosis.

Implikasi Penting bagi Kesehatan Lansia

Penemuan penyakit neurodegeneratif non-Alzheimer membawa pesan penting:

  • Tidak semua lupa adalah Alzheimer

  • Diagnosis yang tepat penting untuk perawatan dan perencanaan hidup

  • Keluarga perlu pemahaman bahwa “tidak respons obat” bukan berarti gagal terapi

  • Penelitian masih berkembang dan harapan terus terbuka

Penutup

Penyakit neurodegeneratif Non-Alzheimer seperti LATE dan penyakit prion menunjukkan bahwa penurunan kognitif pada lansia jauh lebih kompleks daripada yang selama ini dipahami.

LATE menjelaskan banyak kasus “Alzheimer misterius”, sementara penyakit prion memperlihatkan betapa rapuhnya sistem protein otak manusia. Keduanya menegaskan bahwa penuaan otak bukan proses tunggal, melainkan hasil interaksi biologis yang sangat rumit.

Memahami kondisi-kondisi ini membantu kita bersikap lebih bijak, empatik, dan ilmiah dalam merawat lansia—bukan hanya memperpanjang usia, tetapi menjaga martabat dan kualitas hidup mereka.


Artikel lain yang Menarik:




Artikel Inspirasi Lansia

Sumber:

  1. Nelson, P. T., et al. (2019). LATE: Consensus working group report. Brain.

  2. National Institute on Aging. (2023). What is LATE dementia?

  3. Prusiner, S. B. (1998). Prions. Proceedings of the National Academy of Sciences.

  4. The Lancet Neurology. (2020). Non-Alzheimer dementias: expanding concepts.

  5. Mead, S., & Reilly, M. M. (2015). A new prion disease. New England Journal of Medicine.

Tuesday, 27 January 2026

SINYAL BAHAYA: Waspada Bau dan Tekstur Keringat Lansia yang Berubah, Saraf Anda Mungkin Terancam!

        Keringat adalah cairan bening yang diproduksi oleh kelenjar keringat (glandula sudorifera) di kulit. Keringat terdiri dari 99% air, sisanya elektrolit (terutama natrium dan klorida), sedikit asam laktat, urea, dan trace minerals.

Tubuh tidak sekadar membuang cairan, tetapi sedang menjalankan mekanisme biologis penting untuk mengatur suhu, menstabilkan elektrolit, dan mengaktifkan respons saraf otonom.

Keringat lansia seringkali mengalami perubahan
(Sumber: foto-grup)

Bagaimana Keringat Terjadi?

Proses Biologis:

1. Otak: Hipotalamus sebagai “Termostat" Tubuh.

Saat suhu tubuh naik (karena panas, olahraga, demam, stres), hipotalamus mendeteksi peningkatan suhu darah.
👉 Otak lalu mengirim sinyal ke saraf simpatis untuk mengaktifkan kelenjar keringat.

2. Sistem Saraf Simpatis: Penggerak Utama Keringat

Uniknya, keringat dikendalikan oleh sistem simpatis tetapi menggunakan neurotransmiter asetilkolin (berbeda dari organ lain yang memakai norepinefrin).
Ini membuat keringat dapat muncul karena emosi, bukan hanya panas.

3. Kelenjar Keringat Mulai Bekerja

Ada dua jenis kelenjar:

A. Kelenjar Ekrin (90% seluruh tubuh — utama untuk pendinginan)

  • Menyebar di seluruh tubuh

  • Menghasilkan keringat cair, bening

  • Kandungan: air, elektrolit (Na⁺, Cl⁻), sedikit kalium, laktat

  • Berfungsi mendinginkan tubuh melalui evaporasi (penguapan)

Ini sebabnya keringat tidak menurunkan suhu kecuali mengering (menguap).

B. Kelenjar Apokrin (ketiak & sekitar genital — pemicu bau badan)

  • Aktif saat pubertas

  • Mengeluarkan cairan lebih kental, mengandung protein & lipid

  • Tidak berbau, tetapi bakteri kulit memecahnya → BAU BADAN

Mengapa Tubuh Harus Berkeringat?

1) Mengatur Suhu Tubuh

Fungsi paling vital.
Saat keringat menguap dari kulit → tubuh melepaskan panas → suhu turun.

Tanpa keringat → risiko heat stroke.

2) Menyeimbangkan Elektrolit

Keringat membawa keluar natrium dan klorida.
Ini mengapa olahraga panjang tanpa hidrasi → pusing, kram, lemas.

3) Respons Emosi

Simpatis aktif → keringat tangan dan kening muncul saat:

  • cemas

  • gugup

  • takut

  • stress

Disebut emotional sweating.

Keringat pada tangan muncul saat mengalami stres
(Sumber: foto-grup)

4) Membuang Sisa Metabolisme (sedikit, bukan utama)

Keringat mengandung urea & asam laktat, tetapi porsi detoksifikasi sangat kecil.
Fungsi utama tetap termoregulasi, bukan detoks.

Mengapa Keringat Bisa Banyak atau Sedikit?

🔺 Keringat Berlebih (Hiperhidrosis)

Disebabkan oleh:

  • overaktifnya saraf simpatis

  • hormon tiroid berlebih

  • kecemasan

  • genetik

  • menopause

  • demam

  • hipoglikemia

🔻 Keringat Sedikit (Anhidrosis/Hipohidrosis)

Berbahaya karena tubuh tidak bisa mendingin.
Disebabkan oleh:

  • kerusakan saraf otonom

  • dehidrasi berat

  • penyakit kulit tertentu

  • efek obat

Apa yang Membuat Bau Keringat? (Ilmiah)

Keringat sendiri tidak berbau.
Bau berasal dari:

Bakteri kulit

Bakteri memecah lipid & protein pada keringat apokrin → menghasilkan asam lemak volatil yang berbau.

Makanan pedas

Capsaicin mengaktifkan reseptor panas → memicu keringat lebih banyak.

Genetik

Ada varian gen ABCC11 yang menentukan apakah keringat ketiak kita berbau atau tidak.

Fakta Biologis Unik tentang Keringat

  • Jumlah kelenjar keringat ± 2–4 juta.

  • Telapak tangan & kaki memiliki kelenjar paling banyak.

  • Stres memicu keringat dingin (emotional sweating).

  • Keringat orang yang sering olahraga mengandung lebih sedikit garam karena tubuh beradaptasi.

 Bagaimana Kelenjar Keringat Berubah pada Lansia?

Saat memasuki usia 55–60 tahun ke atas, terjadi perubahan biologis yang memengaruhi jumlah, fungsi, dan sensitivitas kelenjar keringat.

🔻 A. Jumlah dan Aktivitas Kelenjar Keringat Menurun

  • Kelenjar ekrin (yang bertugas mendinginkan tubuh) menjadi lebih sedikit aktif.

  • Struktur kelenjar mengalami atrofi (penyusutan).

  • Respons saraf simpatis yang memicu keringat melemah.

👉 Akibatnya:

  • Lansia lebih sedikit berkeringat dibanding usia muda.

  • Proses pendinginan tubuh lebih lambat, sehingga risiko heat stroke meningkat.

B. Kulit Lansia Menjadi Lebih Tipis dan Kering

Karena produksi lipid dan kolagen menurun →

  • Penguapan keringat lebih cepat.

  • Keringat terasa tidak terlalu “basah”.

C. Kelenjar Apokrin juga Melemah

Kelenjar pada ketiak dan area genital berkurang fungsi →

  • Bau badan justru bisa menurun pada sebagian lansia.

  • Namun pada lansia yang sakit, bau badan bisa meningkat → tanda infeksi.

D. Respons Emosi Terhadap Keringat Berubah

Sistem saraf otonom lansia menurun fungsi →

  • Keringat dingin atau keringat karena stres lebih mudah muncul.

  • Atau justru tidak muncul sama sekali pada sebagian orang.

Kesimpulan singkat perubahan biologis pada lansia:

✔️ Keringat lebih sedikit
✔️ Pendinginan tubuh lebih lambat
✔️ Rentan overheating
✔️ Bakteri kulit berubah → bau badan bisa berubah
✔️ Respons gugup/emosi terhadap keringat tidak stabil

Indikasi Penyakit Jika Pola Keringat Lansia Berubah

Perubahan keringat pada lansia bisa menjadi tanda penyakit serius. Berikut tanda-tanda yang perlu diwaspadai:

A. Keringat Berlebihan (Hiperhidrosis) pada Lansia

Jika lansia berkeringat tidak wajar padahal tidak panas atau beraktivitas, ini dapat menjadi tanda:

1. Masalah Jantung

  • Serangan jantung (keringat dingin + nyeri dada)

  • Heart failure (mudah berkeringat saat aktivitas ringan)

2. Hipertiroid (Tiroid Terlalu Aktif)

Gejala tambahan:

  • Gemetar

  • Berat badan turun

  • Jantung berdebar

3. Infeksi

Infeksi sering menyebabkan:

  • Demam + keringat malam

  • Bau badan berubah

  • Tubuh sangat lemah

Termasuk:

  • TBC

  • Infeksi saluran kemih

  • Infeksi paru

4. Diabetes Tidak Terkontrol

Gula darah rendah (hipoglikemia) menyebabkan:

  • Keringat dingin

  • Gemetar

  • Pusing

5. Parkinson / Gangguan Saraf Otonom

Ciri:

  • Keringat berlebihan di wajah atau kepala

  • Bagian tubuh lain justru kering

B. Tidak Berkeringat (Anhidrosis) pada Lansia — Kondisi Berbahaya

Lansia yang jarang berkeringat bisa tidak mampu mendinginkan tubuh, sehingga cepat panas.

Penyebab medis:

  • Kerusakan saraf otonom (neuropati diabetik)

  • Penyakit Parkinson tahap lanjut

  • Efek obat tertentu

  • Dehidrasi berat

  • Penyakit kulit yang menyumbat kelenjar keringat

Tanda bahaya:

  • Kulit panas tetapi kering

  • Bingung, mengantuk

  • Pusing berat

  • Wajah memerah

Ini bisa mengarah ke heat stroke.

C. Bau Badan Menguat Tiba-Tiba

Pada lansia, bau badan yang berubah tiba-tiba bisa menandakan:

  • Infeksi bakteri atau jamur

  • Diabetes tidak terkontrol (bau manis/asam)

  • Gangguan ginjal (bau uremik)

  • Penyakit hati

D. Keringat Malam Berlebih

Jika lansia berkeringat banyak saat tidur:

  • TBC

  • Infeksi kronis

  • Gangguan hormon

  • Limfoma atau kanker lain

  • Efek obat darah tinggi atau antidepresan

Kapan Lansia Harus ke Dokter?

✔️ Keringat sangat berlebihan tanpa penyebab jelas
✔️ Tidak berkeringat padahal berada di suhu panas
✔️ Keringat dingin disertai nyeri dada / mual
✔️ Keringat malam setiap hari
✔️ Bau badan berubah drastis
✔️ Keringat disertai gemetar, lemas, atau pusing 

Tonton di YouTube & Subscribe

Penutup

Perubahan kelenjar keringat pada lansia adalah proses alami akibat penuaan. Namun, perubahan tertentu—baik keringat berlebih maupun keringat yang hilang sama sekali—bisa menjadi tanda penyakit serius seperti gangguan jantung, infeksi, gangguan hormon, diabetes, hingga masalah saraf.

Dengan memahami pola keringat, keluarga dan caregiver dapat mendeteksi dini kesehatan lansia sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.

Tantangan untuk Anda:

Apakah Anda memiliki pengalaman menarik mengenai keringat. Ceritakan di kolam komentar agar lain dapat belajar !





Sumber:

  1. Kenney WL. “Thermoregulatory responses to aging.” Sports Medicine Journal.

  2. Farage MA et al. “Skin aging and physiology.” Journal of Dermatological Science.

  3. Low PA. “Autonomic dysfunction in the elderly.” Clinical Autonomic Research.

  4. Smith JJ. “Sweat gland and thermoregulation changes with age.” Gerontology Review.

  5. American Academy of Dermatology. “Sweat glands, hyperhidrosis, and aging.”


Monday, 26 January 2026

MERAYAKAN ATAU MENYIKSA? Sisi Gelap di Balik Ulang Tahun Lansia yang Jarang Keluarga Sadari

Pendahuluan

Bagi lansia, ulang tahun bukan sekadar pertambahan usia, melainkan momen refleksi atas perjalanan hidup yang panjang. Di satu sisi, perayaan ulang tahun dapat menjadi sumber kebahagiaan dan penguatan makna hidup. Namun di sisi lain, momen ini juga dapat memicu kesedihan, rasa kehilangan, bahkan kecemasan terhadap kondisi kesehatan dan kemandirian.

Artikel ini membahas manfaat dan kerugian perayaan ulang tahun bagi lansia dari sudut pandang kesehatan fisik, psikologi penuaan, dan kesejahteraan emosional, agar keluarga dan lansia sendiri dapat menyikapinya secara bijak dan menyehatkan.

Makna Ulang Tahun dalam Psikologi Lansia

Dalam psikologi penuaan, ulang tahun berfungsi sebagai penanda eksistensial. Lansia cenderung memaknai waktu secara lebih mendalam dibandingkan usia muda. Ulang tahun sering memicu proses life review, yaitu meninjau ulang pengalaman hidup, keberhasilan, kegagalan, serta hubungan interpersonal.

Lansia tersenyum dengan tatapan kosong
(Sumber: foto grup)

Proses ini dapat bersifat terapeutik bila didampingi dengan dukungan emosional, tetapi juga berpotensi memunculkan kesedihan bila lansia merasa tidak lagi memiliki peran sosial yang bermakna.

Manfaat Perayaan Ulang Tahun bagi Lansia

1. Mengurangi Rasa Kesepian dan Isolasi Sosial

Kesepian merupakan salah satu faktor risiko terbesar pada lansia. Perayaan ulang tahun, meski sederhana, dapat:

  • Menguatkan ikatan keluarga

  • Memberi rasa dihargai dan diingat

  • Menurunkan risiko depresi dan kecemasan

Interaksi sosial yang hangat terbukti meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan mental lansia.

2. Meningkatkan Harga Diri dan Makna Hidup

Ucapan selamat dan perhatian dari orang terdekat memberi pesan psikologis bahwa keberadaan lansia masih bernilai dan bermakna. Hal ini sangat penting untuk menjaga:

  • Harga diri

  • Motivasi hidup

  • Kesehatan kognitif

Bagi lansia, ulang tahun yang dimaknai sebagai perayaan kehidupan—bukan sekadar usia—memberikan efek emosional yang positif.

3. Dampak Positif terhadap Kesehatan Fisik

Perasaan bahagia saat perayaan dapat memicu pelepasan hormon yang menurunkan stres, seperti endorfin. Dampak tidak langsungnya meliputi:

  • Tekanan darah lebih stabil

  • Tidur lebih nyenyak

  • Nafsu makan yang lebih baik (dalam batas wajar)

Perayaan ringan juga mendorong aktivitas fisik ringan yang bermanfaat bagi keseimbangan dan mobilitas.

Kerugian Perayaan Ulang Tahun bagi Lansia

1. Memicu Kesedihan dan Ketakutan akan Penuaan

Tidak semua lansia menyambut ulang tahun dengan gembira. Beberapa justru mengalami:

  • Kesedihan karena kehilangan pasangan atau teman sebaya

  • Kecemasan terhadap penyakit kronis

  • Rasa takut menjadi beban keluarga

Fenomena ini sering kali terjadi bila ulang tahun dirayakan tanpa sensitivitas emosional.

Lansia merasa takut akan jadi beban keluarga
(Sumber: foto grup)

2. Risiko Kesehatan akibat Pola Makan dan Kelelahan

Perayaan yang tidak disesuaikan dengan kondisi lansia dapat menimbulkan masalah fisik, seperti:

  • Lonjakan gula darah akibat konsumsi makanan manis

  • Gangguan pencernaan

  • Kelelahan akibat jadwal acara yang terlalu padat

Bagi lansia dengan penyakit kronis, hal ini dapat memperburuk kondisi kesehatan.

Peran Keluarga dalam Perayaan Ulang Tahun Lansia

Keluarga memegang peran penting dalam menentukan apakah ulang tahun menjadi momen yang menyehatkan atau justru menyulitkan. Prinsip utama yang perlu diperhatikan adalah:

  • Menghormati keinginan lansia

  • Mengutamakan kenyamanan dan keamanan

  • Menghindari paksaan atau standar perayaan tertentu

Perayaan yang penuh empati lebih bermakna dibandingkan pesta besar yang melelahkan.

Perayaan yang penuh empati menjadi lebih bermakna
(Sumber: foto grup)

Cara Merayakan Ulang Tahun Lansia yang Sehat dan Bermakna

Beberapa pendekatan yang dianjurkan antara lain:

  • Perayaan sederhana di rumah dengan orang terdekat

  • Sesi berbagi cerita atau mengenang perjalanan hidup

  • Doa bersama atau aktivitas spiritual

  • Hadiah berupa pengalaman (waktu berkualitas), bukan barang

Pendekatan ini membantu lansia merasa dihargai tanpa tekanan fisik maupun emosional.

Implikasi bagi Kesehatan Jangka Panjang Lansia

Perayaan ulang tahun yang positif dan suportif dapat menjadi bagian dari penuaan yang sehat (healthy aging). Dukungan emosional yang konsisten terbukti berkontribusi pada:

  • Penurunan risiko depresi

  • Perlambatan penurunan fungsi kognitif

  • Peningkatan kualitas hidup secara keseluruhan

Dengan demikian, ulang tahun dapat menjadi alat intervensi psikososial yang sederhana namun bermakna.

Tonton di YouTube & Subscribe

Penutup

Bagi lansia, perayaan ulang tahun bukan tentang kemeriahan, melainkan tentang pengakuan, makna, dan kebersamaan. Jika dirancang dengan empati dan kesadaran kesehatan, ulang tahun dapat menjadi sumber kebahagiaan, ketenangan, dan rasa syukur atas kehidupan yang telah dijalani.

Sebaliknya, tanpa pendekatan yang sensitif, momen ini dapat memicu kelelahan fisik dan beban emosional. Oleh karena itu, perayaan ulang tahun lansia sebaiknya disesuaikan dengan kondisi fisik, kebutuhan psikologis, dan nilai-nilai hidup yang mereka pegang.


Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. (2022). Healthy Ageing and Older Adults.

  2. Carstensen, L. L. (2019). Socioemotional Selectivity Theory: Implications for Aging. Current Opinion in Psychology.

  3. Holt-Lunstad, J. et al. (2015). Loneliness and social isolation as risk factors for mortality. Perspectives on Psychological Science.

  4. National Institute on Aging. (2023). Social isolation and loneliness in older people.

  5. Erikson, E. H. (1982). The Life Cycle Completed. W. W. Norton & Company.