xmlns:og='http://ogp.me/ns#' LPC- Lansia Preneurship Community: EFEK DOMINO MAUT! Ketika Multimorbiditas Membuat Tubuh Lansia Jadi "Medan Perang" Banyak Penyakit

Sunday, 25 January 2026

EFEK DOMINO MAUT! Ketika Multimorbiditas Membuat Tubuh Lansia Jadi "Medan Perang" Banyak Penyakit

Pendahuluan

Memahami Multimorbiditas dan Tantangan Efek Domino dalam Dunia Medis

Dalam praktik medis geriatri, satu kenyataan sering membuat dokter, keluarga, dan bahkan pasien sendiri kebingungan: penyakit pada lansia jarang berdiri sendiri. Berbeda dengan orang dewasa muda yang umumnya datang dengan satu diagnosis utama, lansia sering menghadapi kondisi yang jauh lebih kompleks.

Fenomena ini dikenal sebagai multimorbiditas, yaitu keadaan ketika seseorang memiliki dua atau lebih penyakit kronis secara bersamaan. Multimorbiditas inilah yang menjadi salah satu alasan terbesar mengapa diagnosis dan penanganan penyakit pada lansia sering tampak seperti misteri—penuh teka-teki dan tidak selalu linear.

Lansia-memiliki-multimorbiditas: hipertensi,diabetes-melitus, osteoartritis dan jantung
(Sumber: foto-grup)

Apa Itu Multimorbiditas?

Multimorbiditas adalah kondisi medis di mana satu individu mengalami beberapa penyakit kronis sekaligus, seperti:

  • Hipertensi

  • Diabetes melitus

  • Osteoartritis

  • Penyakit jantung

  • Gangguan ginjal

  • Depresi atau gangguan kognitif ringan

Pada kelompok lansia, sangat umum ditemukan 3–5 penyakit kronis dalam satu tubuh, bahkan lebih. Setiap penyakit ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi, memengaruhi gejala, respons pengobatan, dan prognosis.

Tantangan Besar: Efek Domino dalam Multimorbiditas

Multimorbiditas menciptakan apa yang disebut sebagai Efek Domino—satu masalah memicu masalah lain, lalu berantai dan semakin sulit dilacak sumbernya.

1. Gejala yang Tumpang Tindih: “Kebisingan” Klinis

Salah satu tantangan utama adalah gejala yang saling meniru.

Contoh Kasus Klinis:

  • Nyeri sendi
    Bisa disebabkan oleh:

    • Osteoartritis (rematik degeneratif)

    • Efek samping obat penurun tekanan darah

    • Neuropati akibat diabetes

    • Tanda awal penyakit saraf pusat

  • Kelelahan kronis
    Bisa berasal dari:

    • Gagal jantung

    • Anemia

    • Depresi

    • Efek samping obat statin

Akibatnya, dokter dan keluarga sering kesulitan menentukan:

Apakah ini penyakit baru, perburukan penyakit lama, atau hanya efek pengobatan?

Inilah yang disebut “kebisingan medis”—terlalu banyak sinyal, terlalu sedikit kejelasan.

2. Polifarmasi: Ketika Obat Menjadi Sumber Masalah Baru

Konsumsi lebih dari 5 jenis obat secara bersamaan
(Sumber: foto-grup)

Apa Itu Polifarmasi?

Polifarmasi adalah kondisi di mana seseorang mengonsumsi ≥5 jenis obat secara bersamaan. Pada lansia, angka ini bisa mencapai 5–10 obat per hari, bahkan lebih.

Mengapa Polifarmasi Berbahaya?

  • Interaksi antar obat menciptakan reaksi kimia baru dalam tubuh

  • Metabolisme obat pada lansia lebih lambat

  • Fungsi ginjal dan hati menurun

  • Ambang toksisitas menjadi lebih rendah

Dampak Klinis Polifarmasi:

  • Pusing

  • Gangguan keseimbangan

  • Kebingungan

  • Gangguan memori

  • Nyeri otot dan sendi

  • Risiko jatuh meningkat

Ironisnya, gejala-gejala ini sering disalahartikan sebagai:

“penyakit baru” atau “penuaan normal”

Padahal, akar masalahnya adalah interaksi obat, bukan penyakit tambahan.

3. Penyakit yang Saling Memperburuk

Dalam multimorbiditas, satu penyakit dapat:

  • Mempercepat progres penyakit lain

  • Membatasi pilihan terapi

  • Meningkatkan risiko komplikasi

Contoh:

  • Diabetes memperburuk penyakit jantung

  • Gagal ginjal membatasi penggunaan obat nyeri

  • Depresi menurunkan kepatuhan minum obat

  • Gangguan kognitif menyulitkan manajemen penyakit kronis

Akibatnya, pendekatan medis berbasis “satu penyakit” sering tidak efektif pada lansia.

Pendekatan Ilmiah Modern: Dari Disease-Centered ke Patient-Centered

Ilmu geriatri modern menekankan pendekatan holistik dan individual, bukan sekadar mengobati satu diagnosis.

Prinsip Utama:

  • Fokus pada fungsi dan kualitas hidup

  • Evaluasi berkala kebutuhan obat (medication review)

  • Mengutamakan manfaat dibanding risiko

  • Mempertimbangkan tujuan hidup pasien

Pendekatan ini terbukti lebih aman dan realistis dalam menghadapi kompleksitas multimorbiditas.

Lansia fokus pada fungsi dan kualitas hidup
(Sumber: foto-grup)

Implikasi bagi Keluarga dan Pendamping Lansia

Memahami multimorbiditas membantu keluarga untuk:

  • Tidak panik saat muncul gejala baru

  • Aktif berdiskusi tentang evaluasi obat

  • Menyadari bahwa “lebih banyak obat” tidak selalu lebih baik

  • Fokus pada kenyamanan dan kemandirian lansia

Tonton di YouTube & Subscribe

Penutup

Multimorbiditas adalah kunci utama mengapa penyakit pada lansia sering tampak sebagai misteri. Kombinasi berbagai penyakit kronis, gejala yang tumpang tindih, serta polifarmasi menciptakan Efek Domino yang kompleks dan sulit dipisahkan.

Penuaan bukan sekadar penambahan usia, tetapi perubahan sistemik yang menuntut pendekatan medis yang lebih bijak, terintegrasi, dan manusiawi. Dengan memahami multimorbiditas, kita tidak hanya memperpanjang usia lansia, tetapi juga menjaga kualitas hidup dan martabat mereka.


Artikel lain yang Menarik:




Artikel Inspirasi Lansia

Sumber:

  1. World Health Organization. (2016). Multimorbidity: Technical Series on Safer Primary Care.

  2. The Lancet. (2018). Multimorbidity: a priority for global health research.

  3. National Institute on Aging. (2023). Multiple Chronic Conditions in Older Adults.

  4. Boyd, C. M., et al. (2012). Clinical practice guidelines and quality of care for older patients with multiple comorbid diseases. JAMA.

  5. Maher, R. L., et al. (2014). Clinical consequences of polypharmacy in elderly. Expert Opinion on Drug Safety.

8 comments:

  1. Misalnya ada orang tua yg setiap bulan harus kontrol ke 3 dokter yaitu dokter jantung, dokter penyakit dalam, dokter ginjal dan semuanya memberikan obat yg harus di minum tentu ini akan terjadi interaksi antar obat, Bagai mana solusinya

    ReplyDelete
  2. 1.Pilih satu dokter menjadi dokter utama untuk penggunaan obat, apakah obat ini masih digunakan atau tidak. 2. Lansia seharusnya ke dokter spesialis lansia (Geriatri) untuk penggunaan obat pada lansia (SpPD-KGer)

    ReplyDelete
  3. Dimana mencari dokter geriatri

    ReplyDelete
    Replies
    1. RS Fatmawati, RS Pasar Rebo,RS ,RSCN demikian seterusnya

      Delete
  4. Jamal,Jakarta Timur26 January 2026 at 02:51

    Apa gelar untuk spesialis geriatri atau lansia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gelar untuk dokter spesialis geriatri di Indonesia umumnya adalah Sp.PD-KGer

      Delete
  5. Terima kasih edukasi dan informasinya 🙏

    ReplyDelete