🌿 Mengenal Sindrom Stockholm dengan Bahasa Sederhana
Pernahkah kita mendengar tentang seseorang yang justru merasa dekat atau sayang kepada orang yang menyakitinya?
Kondisi ini dikenal sebagai Sindrom Stockholm.
![]() |
| Sindrom Stockholm terjadi karena korban dan pelaku saling terjalin. (Sumber: foto pens 49 ceria) |
🌼 Apa Itu Sindrom Stockholm?
Sindrom Stockholm adalah kondisi ketika seseorang yang menjadi korban kekerasan atau perlakuan buruk justru:
- Merasa simpati kepada pelaku
- Membela pelaku
- Bahkan merasa bergantung atau “dekat” dengan pelaku
Hal ini bisa terjadi sebagai cara tubuh dan pikiran bertahan dalam keadaan sulit.
![]() |
| Tawanan perang terdampak dengan Sindrom Stockholm (Sumber: foto canva.com) |
🌿 Mengapa Bisa Terjadi?
Saat seseorang berada dalam situasi yang menekan atau menakutkan,
pikiran akan mencari cara agar tetap merasa aman.
Beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi ini:
- Takut akan ancaman atau kekerasan
- Merasa tidak punya jalan keluar
- Bergantung pada pelaku
- Jarang berhubungan dengan orang lain (terisolasi)
- Kadang mendapat perlakuan baik di tengah perlakuan buruk
Akibatnya, korban bisa merasa:
“Dia tidak sepenuhnya jahat” atau “Saya harus tetap bersamanya.”
![]() |
| Lansia sering menjadi korban perawat atau anggota keluarga. (Sumber: foto canva.com) |
🌼 Apakah Bisa Terjadi pada Lansia?
Ya, kondisi ini juga bisa terjadi pada lansia.
Misalnya:
- Lansia yang bergantung pada perawat atau anggota keluarga
- Lansia yang mengalami kekerasan tetapi tetap membela pelakunya
- Lansia yang merasa takut kehilangan orang yang merawatnya
Dalam kondisi seperti ini, lansia bisa merasa:
- Tidak berdaya
- Takut ditinggalkan
- Lebih memilih bertahan daripada melawan
🌿 Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai
Beberapa tanda yang bisa terlihat:
- Membela orang yang menyakitinya
- Tidak mau melapor atau bercerita
- Merasa kasihan kepada pelaku
- Tidak berusaha menjauh
- Lebih setia kepada pelaku daripada kepada diri sendiri
🌼 Mengapa Hal Ini Terjadi?
Kondisi ini sering terjadi karena:
💭 Rasa takut
Takut jika melawan akan mendapat perlakuan lebih buruk
🔒 Ketergantungan
Merasa tidak bisa hidup tanpa pelaku
🌫️ Kebingungan pikiran
Sulit membedakan mana yang benar dan salah
❤️ Harapan kecil
Saat pelaku bersikap baik sesekali, korban merasa itu cukup
🌿 Cara Membantu dengan Bijak
Jika ada lansia yang mengalami kondisi ini, penting untuk membantu dengan cara yang lembut:
🤝 Dengarkan tanpa menghakimi
Biarkan mereka bercerita dengan tenang
💛 Berikan rasa aman
Tunjukkan bahwa mereka tidak sendirian
🗣️ Ajak bicara perlahan
Jangan langsung menyalahkan atau memaksa
❓ Tanyakan dengan lembut
Bantu mereka berpikir tanpa menekan
👨⚕️ Libatkan tenaga profesional
Jika perlu, minta bantuan psikolog atau tenaga kesehatan
🌼 Pesan Penting
Sindrom Stockholm bukanlah kelemahan,
melainkan cara tubuh bertahan dalam situasi sulit.
💬 Ingatlah:
- Tidak ada yang pantas diperlakukan buruk
- Setiap orang berhak merasa aman dan dihargai
- Bantuan selalu ada
![]() |
| Berdayakan korban untuk membuat keputusan sendiri. (Sumber: foto canva.com) |
🌿 Penutup
Di usia senja, setiap orang berhak hidup dengan tenang, aman, dan penuh kasih sayang.
Jika ada tanda-tanda hubungan yang tidak sehat,
jangan ragu untuk mencari bantuan.
🌱 Karena hidup yang damai adalah hak setiap manusia, di usia berapa pun.
Sumber:
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22387-stockholm-syndrome
https://www.forbes.com/health/mind/stockholm-syndrome/
https://www.goodtherapy.org/blog/why-stockholm-syndrome-happens-and-how-to-help-0926184
https://health.onehowto.com/article/how-to-treat-stockholm-syndrome-7546.html
https://www.abc.net.au/news/2023-08-23/is-stockholm-syndrome-a-myth/102738084

%20(1).png)
%20(1).png)
%20(1).png)
No comments:
Post a Comment